Samsung Tab A8 with S Pen Masih Worth It Dipakai!

Review Samsung Tab A8 With S-Pen/ RAM 3GB/ OS Android 11/ UI ONE Core 3.1/Harga Rp 1.000.000

Kalau kalian cari tab android Samsung yang lengkap, sudah bisa gambar dan tulis notes tapi, mentok di budget maka Samsung Tab A8 with S Pen keluaran 2019 ini masih worth it banget. Punya layar  IPS LCD 8 inchi dengan 1200x1920 dengan ram 3Gb dan chipset exynos 7904, OS mentok 11 sama UI core 3.1 masih amat sangat worth it dipakai. 

Samsung Tab A8 with S Pen Masih Worth It Dipakai!

Bahkan saya bilang Samsung Tab A8 with S Pen masih jauh lebih worth it ketimbang Samsung Tab A7 Lite. Ada beberapa hal yang bikin Samsung Tab A8 with S Pen superior ketimbang Samsung Tab A7 Lite dan saudaranya. 

Punya S-Pen

Samsung Tab A8 with S Pen, iyah punya s-pen. Samsung Tab A8 with S Pen bisa dipakai untuk nulis notes dan gambar, s-pen termasuk enak dipakai nulis dan gambar. Paling kalian harus terbiasa sama s-pen yang lebih kecil ketimbang pensil biasa. Tapi, ini bisa diakali dengan beli s-pen Tab S6 atau S9 yang lebih besar. Perlu diingat jika Samsung Tab A8 with S Pen, cuma kompatible sama s-pen. Nggak bisa pakai stylus aktif merk apapun! 

Pas orang-orang udah sibuk nulis pakai Ipad, Samsung Tab A8 with S Pen ini dijadikan pilihan lebih bijak dalam hal budget. Enaknya lagi, Samsung udah kasih apps Samsung Notes yang terkenal sebagai salah satu apps note terbaik. Kalau ngerasa nggak cocok masih bisa download di Google play. 

Gak Up to Date?

Dengan OS mentok di android 11 dan One UI Core 3.1 pasti banyak yang ngerasa, sayang banget beli Samsung Tab A8 with S Pen. Tapi, Samsung Tab A8 with S Pen ini lebih baik ketimbang tab samsung seperti A7 Lite dan saudaranya. Berkat One UI versi core, Samsung Tab A8 with S Pen bisa jalan tanpa kendala walaupun ram cuma 3Gb. Bayangkan sama Tab A7 Lite dan saudaranya yang pakai ram 3-4Gb tapi, pakai One UI versi full yang bikin tab super lemot!  

Baca Juga : Review Samsung Tab A7 Lite Setelah Setahun Pemakaian

Perpindahan dari satu apps ke apps lain lancar jaya, nggak ada jeda seperti Tab A7 Lite dan saudaranya. OS android ver 11 juga nggak terlalu tuir, masih bisa dipakai 3-4 tahun ke depan. Tab Samsung mana yang sekarang pake One UI versi Core? Sementara One UI versi full minimal butuh 3Gb buat jalan lancar. Makanya, banyak Tab Samsung sekarang yang super lemot. 

Ini juga yang bikin Samsung Tab A8 with S Pen bisa diandalkan buat kerja, ngetik di office, excell sama bikin slide nggak ada masalah. Yah emang dengan layar cuma 8 inchi bakalan bikin sedikit struggle mata.

Buat kebutuhan lain seperti entertainment Samsung Tab A8 with S Pen sudah cukup lah.  layar  IPS LCD 8 inchi dengan 1200x1920 masih enak dipakai nonton Netflix dan audio terbilang standar but still worth it sekalipun nggak stereo. Ukuran yang 8 inchi terasa pas banget, nggak bikin berat pas dipegang satu tangan. Apalagi, pas Samsung Tab A8 with S Pen ini dipakai baca buku, serasa baca buku langsung aja. Beneran compact. 

Samsung Tab A8 with S Pen Masih Worth It Dipakai!


Kalau ditanya kurangnya, paling ada di memori yang cuma 32GB. Ini yang dirasa sebagai minusnya Samsung Tab A8 with S Pen. Makanya sulit buat bikin Samsung Tab A8 with S Pen sebagai daily driver, instals apps gambar sama apps daily seperti WA dan sosmed aja udah hampir penuh. Samsung Tab A8 with S Pen seharga 1,4 juta - 900 ribu ini, jadi pilihan paling worth it ketimbang beberapa Tab keluaran baru Samsung. 

Review Novel Tingka Kisah Para Penganut Aliran Midaya

Waktu nemu novel Tingka di Gramedia Digital langsung tertarik karena, premisnya tentang seseorang yang datang ke sebuah pulau terpencil demi meneliti sebuah kepercayaan dan adat istiadat kind a dope. Jarang-jarang novel lokal ngambil premis sulit seperti ini.

review novel Tingka

Sinopsis

Ceritanya sendiri dimulai saat seorang mahasiswa bernama Tazky alias Jonathan datang ke pulau Tingka demi penelitian akhirnya mengenai kepercayaan Midaya dalam masyarakat Tingka. Dalam perjalanan Tazky alias Joe bertemu dengan berbagai orang-orang seperti Bri, Wor, Fikar, Pak Pum, Nyai Kay, Hamba Agung Dei etc.    

Baca Juga : Resensi Watersong

Dalam menjalani penelitiannya, Tazky alias Joe menemukan bahwa, masyarakat Tika sendiri struggle dengan kepercayaan  sebagai penganut Midaya, dimana kepercayaan mereka tidak diakui oleh pemerintah. Selain, itu bagi para penganut kepercayaan Midaya yang keluar dari pulau Tingka harus menghadapi cemooh dan bullyan dari masyarakat luas. Tazky harus dihadapi dengan berbagai orang-orang di pulau Tingka, yang ternyata tidak sebahagia penduduk pulau kecil cantik, belum lagi mereka menutupi keberadaan seorang imam tertinggi Midaya bernama Hamba Agung Dei.

Dari sinilah, Tazky diam-diam harus menguak rahasia yang selama ini disimpan oleh masyarkat Tingka, belum lagi Tazky sendiri datang ke pulau Tingka dengan rahasia sendiri.

Resensi

Tingkah hadir dengan premis menarik dengan berbagai sub plot! Kalau kalian pikir Tingka cuma punya plot mengenai rahasia kepercayaan Midaya salah besar, Tingka punya banyak sub plot mulai dari Bri dengan Fikar, Bri dengan Hamba Agung Dei lalu ada sub plot Wor sampai plot Joe dengan Tazky. Yup plottingan utama dimana Joe datang untuk menguak rahasia pulau Tingka dan kepercayaan Midaya masih diselengi oleh sub plot dari berbagai tokohnya.

Baca Juga Resensi : Pay Sooner Or Later Simple Namun Menghibur

Sub plot ini seru sih bikin Tingka lebih luas dari pada sekadar drama misteri namun, imbasnya bikin kita nggak fokus sama plot utama dan suspense atau unsur ketegangan yang dibangun. Terkadang seru banget, ada misteri apa di kuil Midaya? Lalu beralih ke plot mengenai struggling masyarakat Tingka sebagai penganut kepercayaan lalu move on lagi ke plot kisah kasih Bri dan Fikar. Ini bikin penulis Nicco Macchi nggak bisa konsisten menjaga suspense yang susah payah dibangun dengan munculnya gosip mengenai hantu penunggu di kuil Tingka. Jadinya bingung ini masih bisa disebut drama misteri? 90% drama dan 10% misteri.

Pada bab-bab terakhir pun Nicco Machi seperti kelelahan dalam membangun cerita, sehingga plot twist yang dihadirkan malah langsung diberikan pada tokoh utama bukan tokoh utama si Joe yang menemukan/membongkar.  Sayang banget dengan premis dan berbagai sub plot harusnya Tingka, bisa memiliki ending yang ciamik. Padahal plot twis udah bagus, dimana Hamba Agung Dei hanyalah predator seksual berkedok agamais + bapak kandung Bri. 

  

Resensi Watersong Clarissa Goenawan Plotingan Rapi tapi Alur Lamban

Watersong adalah buku pertama dari Clarissa Goenawan yang saya baca, dari aplikasi Gramedia Digital. Sepintas setelah membaca review dari Goodreads look promising, banyak mainstreams reader yang bilang kalau karya Clarissa Goenawan ini bagus banget maka dari itu, saya memutuskan untuk mencoba membaca Watersong.


Sinopsis

Awalnya Watersong ini memikat sekali dengan, prolog yang terlihat magis dimana tokoh utama Shouji sering banget mimpi tenggelam ketika kecil dan dibawa ke semacam peramal, lantas diramalkan kalau dalam hidupnya akan bertemu dengan tiga perempuan dengan unsur air dan salah satu dari mereka adalah belahan hidupnya.

Baca Juga : Resensi Tingka Kisah Para Penganut Midaya

Nah, ketika cerita berjalan Watersong justru jauh dari segala macam unsur magis. Kita bakalan disuguhi kehidupan Shouji di kota fiktif Akakawa yang mengambil inspirasi dari distrik Tokyo ke 23 Arakawa. Sepanjang 396 halaman, ploting cerita akan bergulir pada Shouji yang bertahun-tahun menjadi pacarnya Youko. Youko sendiri tiba-tiba hilang saat Shouji ikut bekerja di sebuah kedai teh eksklusif sebagai pendengar, dimana orang yang ingin curhat tapi, ingin private bisa mensewa seorang untuk mendengarkan masalah mereka.

Resensi

Plotingan Watersong sendiri terbilang menarik, sekalipun konfliknya linear cuma mencari Youko saja. Pencarian Youko yang menghilang misterius dan melibatkan seorang politikus Jepang, ibarat novel-novel crime thriller. Sekalipun lebih banyak drama yang mengupas siapa sih Shouji sebenarnya? Sialnya, alur Watersong ini lamban banget! Jadi greget crime thrillernya sama sekali nggak dapet, apalagi ditunjang sama background kota Akakawa yang sepi. 

Baca Juga : Resensi Pay Sooner Or Later

Watersong sejatinya drama dengan sedikit bumbu magis dan bumbu crime thriller, jadi jangan berharap bakalan ada konflik keren antara Shouji dengan Youko yang ternyata menghilangkan diri.  Tokoh Shouji sendiri rada-rada bikin males karena, digambarkan santai dan kurang sigap sekalipun pacarnya Youko menghilang, entah kenapa saya merasa Shouji ini pemalesan banget. Masih ngarep buat ketemu Youko tapi, pacaran dan wikwik sama Liyun? 

Untungnya Clarissa Goenawan pinter banget bikin plot, sekalipun banyak flashback tapi plotingan Watersong rapi banget. Ngasih plot twisnya tipis-tipis bikin kita penasaran, ada apa sih sama si Shouji? Sekalipun imbasnya alur jadi lamban banget dan kerasa capek buat ngikutin si Shouji. Udah alur lamban, tokoh utamanya santai kek di pantai dan endingnya pun saya rasa anti klimak, kurang greget dan berkesan getuh. 

Resensi Pay Sooner Or Later Simple Namun Menghibur

Pay Sooner Or Later adalah hidden gems di Gramedia Digital, kirain bakalan garing cerita modelan seperti ini, ternyata lumayan menghiburnya. Novel karya Adrinindia Ryandisza ini adalah salah satu pemenang dari GWP tahun lalu. Premisnya sendiri berkutat di seorang cewek bernama Tika yang punya kebiasaan Paylater atau ngutang dulu buat belanja online.

Resensi Pay Sooner Or Later

Sinopsis

Tika seorang cewek metropolitan yang kerja di sebuah konsultan pajak, punya kebiasaan nggak sehat berbelabja oline yakni selalu pake Paylater. Tika sendiri selalu merasa senang ketika check out barang-barang yang sebenarnya dia nggak butuh. Hidupnya jadi runyam ketika kontrak kerjanya nggak diperpanjang gegara politik kantor, otomatis Tika nggak punya penghasilan. Untungnya dia dapet kerjaan baru jadi desk collector di sebuah pinjol. Gengsi memang kerjaan turun derajat tapi, Tika butuh uang buat bayar semua cicilan Paylater dia.  

Baca Juga : Resensi Words On The Bathroom Walls

Dari sini semua permsalah Tika dimulai, kerja di tempat baru yang nggak bonafit, ketemu sama temen kerja yang ternyata punya masalah finasial juga sampai berbohong sama orang tua perihal Paylater.

Resensi

Pay Sooner Or Later ini sukses bikin saya ketawa ketiwi, apalagi pas adegan Tika sama kedua orang tuanya. Sayang seribu sayang, Pay Sooner Or Later konfliknya tipis banget. Ada banyak hal yang nggak di eksplor lebih detail seperti, jumlah cicilan Tika yang 12 bulan itu berapa? Dia nyisihin berapa dari gajinya buat bayar cicilan? Premisnya tentang paylater tapi, bagaimana Tika bisa membayar semua cicilan sama sekali nggak dijabarin. 

Kerjaan sebagai desk collector pun kerasa cuma tempelan saja, fellingnya Pay Sooner Or Later ini ngebut banget. Lalu hubungan dengan Rizal pun sebatas penambah bab saja, padahal ini seru banget apalagi Bapak Tika yag concern sama masalah percintaan anaknya. Harusnya sih bisa lebih dieksplore getuh. 

Baca Juga : Resensi Tingka Kisah Para Penganut Midaya

Berbagai konflik di Pay Sooner Or Later punya penyelesaian yang simpel dan cepet, Masalah Didi, Ridwan, Pak Tanto, Tika dengan Yuli pun selesai dengan super cepat bahkan Paylater 12 bulan Tika ujungnya dilunasin sama orang tua. Beneran nggak ada gregetnya dah! Pada akhirnya kita dikasih penjelasan bahwa, kebiasaan ngutang Tika karena dulu nggak pernah bisa dapet apa yag dia mau. Proses berobat ke psikolognya pun super singkat di beberapa halaman terakhir.

Overall Pay Sooner Or Later ketolong karena lucu dan related dengan kehidupan sehari-hari, apalagi konflik Tika dengan Yuli di kantor lama, beuh sumpah itu beneran banget ada.  Sayang seribu sayang Pay Sooner Or Later ini seperti kurang dimasak, padahal punya potensi besar buat lebih wow. 

Resensi Words On The Bathroom Walls

Ini adalah buku pertama yang saya baca setelah daftar jadi premium di Gramedia Digital, berhubung belum nonton filmnya jadilah saya meutuskan untuk baca bukunya. Di aplikasi Gramedia Digital Words On The Bathroom Walls cuma 260 halaman, jadi cuma sehari aja langsung beres. Premisnya sendiri amat sangat menarik, berkisah tentang Adam Petrazelli pemuda 16 tahun yang mengidap skizofernia dan harus bergulat supaya bisa tampil normal dalam kehidupannya sehari-hari.

resensi words on the bathroom walls

Sinopsi

Adam Petrazelli ini cowok yang mengidap skizofernia, ia bermasalah di sekolah lamanya sehingga dipindahkan ke sekolah katolik baru. Selain itu, Adam juga menjadi relawan untuk sebuah obat baru bernama, ToZaPrex yang dosisnya bakalan ditambah setiap kali Adam selesai evaluasi dengan psikiaternya. Kisah Adam bertahan di sekolah katolik ini yang bakalan jadi central cerita, selain tentunya ada bumbu roman dengan Maya cewek yang naksir sama dia. 

Baca Juga : Resensi Nevermoor Mirip Harry Potter

Premis struggling sebagai penderita skizofernia punya beberapa layer mulai dari, struggling di sekolah, struggling di rumah dengan ayah tiri dan adik baru, struggling dengan sang pacar Maya dan struggling dengan obat baru ToZaPrex.

Resensi 

Tadinya saya berharap Words On The Bathroom Walls yang mengambil POV sang tokoh utama, bisa bikin kita ngerti kalau penderita skizofernia itu seperti apa sih? Sayangnya Julia Walton nggak bisa deep banget  ngegali karakter Adam. Kita cuma disuguhin kalau penderita skizofernia itu ngelihat hal-hal yang gak ada seperti Adam, yang setiap hari melihat Rebecca si cewek cantik lalu ada paduan suara dan beberapa mafia. 

Baca Juga : Resensi Pay Sooner Or Later Simple tapi Menghibur

Sialnya di sini Julia Walton menggambarkan Adam itu sebagai penderita skizofernia baru dan ringan, sehingga gejalanya cuma halusinasi, lihat yang nggak ada aja. Sebagai readers kita cuma dikasih intip secuil aja, oh kalau skizoferia itu nggak bisa bedain mana hayalan dan realita. 

Struggling Adam memang berlapis-lapis namun, terasa tipis. Kaya kurang greget aja tapi, memang dasarnya Words On The Bathroom Walls adalah buku young adult. Konflik antara Adam dan Maya pun dibuat simple dimana Maya, pada dasarnya suka dan nggak keberatan punya pacar dengan gangguan mental. Overall, Words On The Bathroom Walls  ini masih di bawah The Fault Of Our Star namun masih enak untuk dibaca dan di atas standar novel romance remaja lokal. 

Yang paling kesel adalah di halaman terakhir, Julia Walton kasih remark kalau dia bukan dokter dan semua hal termasuk nama obat adalah imajinasi kreatif dan berdasarkan dokumentasi saja. I was like, pantes ini kok rada dangkal yah sebagai seorang penderita skizofernia.


Review Nevermoor Mirip Harry Potter Tapi Seru

Terakhir nemu buku yang exciting banget itu Red Queen dan baru-baru ini saya nemu buku yang katanya punya plot mirip Harry Potter. Sebenarnya buku Nevermoor The Trial of Morrigan Crow ini udah lama cuma gegara covernya menurut saya jelek banget jadinya gak pernah ngelirik. Barulah pas baca review orang-orang yang bilang kalau Nevermoor, plotnya sebagus Harry Potter saya pun coba baca dan buku setebal 466 ini ludes hanya dalam tiga hari saja saking serunya.

sinopsis 

Nevermoor menceritakan Morrigan Crow seorang gadis berumur 10 tahun yang masuk ke dalam daftar anak-anak terkutuk, anak-anak ini kerap bawa sial dalam beragam bentuk dan dipastikan bakalan mati ketika malam eventide. Ini membuat keluarga Crow harus terus minta maaf karena, kemanapun Morrigan dibawa pasti ada kesialan dan imbasnya, mereka gak sabar nunggu malam eventide ketika Morrigan bakalan mati. 

Ketika malam eventide tiba, nona Morrigan Crow diselamatkan oleh seseorang bernama Jupiter North dan dibawa menuju dunia Nevermoor. Dalam dunia Nevermoor, nona Morrigan diharuskan untuk ikut tes masuk Wunderous Society. Ada tiga tes yang harus dilalui Morrigan sebelum akhirnya, rahasia terkuak kalau Morrigan Crow ini sebenarnya adalah seorang wunder atau manusia dengan bakat ilmu hitam yang kuat. 

Resensi

Premisnya mirip Harry Potter banget begitupun plotnya, hanya saja Nevermoor masuk ke dalam golongan high fantasy sebab, Morrigan tinggal di dunia fantasi bukan, dunia nyata seperti Harry Potter. Penokohan Morrigan Crow memang sebelas dua belas dengan Harry cuma beda jenis kelamin saja, plot cerita pun ringan dan mudah diikuti. Untungnya Nevermoor punya plot yang nggak mudah ditebak, kita bakalan kebawa terus buat cari tahu apa sih rahasia yang selama ini disembunyikan sama Jupiter North. 

Baca Juga : Review Mary Poppins

Jessica Townsend memang nggak bawa sesuatu yang baru tapi, Nevernoor bakalan mudah banget buat bikin kita terlena masuk ke dalam dunianya. Penokohan yang kuat dibantu plot yang sulit ditebak, bikin Nevermoor betah buat diikutin sampai habis sekalipun ini buku anak-anak.    

Baca Juga : The Reckoners Trilogy : Calamity 


 

Review He's All That Addison Rae Gak Bisa Acting!

She's all that adalah salah satu film yang saya tonton sampai berulang-ulang kali di tahun 1999, waktu itu zamannya VCD dan hampir setiap hari itu VCD bajakan diputer berulang-ulang. Maklum namanya juga remaja dan She's all that merupakan salah satu teen movie yang well made, dari segi cerita sampai dengan acting memang memorably banget. Still remembering nonton film She's all that pagi-pagi dan ngarep pergi ke sekolah sekeren di US sono, ketemu sama fasilitas dan berbagai ektrakurikuler keren kaya melukis etc but end up sekolah di sekolah negeri yang cuma sepetak dengan eskul terbatas, not mention itu sekolah udah kaya penjara aja. Berakhir dengan masa smu yang standar dan amat menjemukan.

Well back at She's all that, film remaja pioneer ini setelah  23 tahun akhirnya, mendapatkan sekuel or reboot dengan judul He's all that. Premis ugly ducking princess dirubah menjadi ugly ducking prince. Kalau dulu Rachel Leigh Cook yang dimake over sama Fredie Prinze Jr sekarang  Tanner Buchanan yang dimake over di Addison Rae. Ceritanya pun dibuat sesuai sama abg zaman now dimana Addison Rae jadi seorang remaja influencer nan populer. 


Sayangnya dalam segala hal He's all that ini ancur lebur, pemilihan Addison Rae pun dirasa tanpa otak. Aktingnya ancur sekali seperti sedang buat konten saja, kelihatan seperti mamah muda yang maksa banget jadi anak sma. Addison Rae emang nggak bakat acting! Akting romance ke Tanner bener-bener kosong, nggak ada chemistry sama sekali. Padahal pemeran yang lain nggak ada masalah, setelah saya cek hanya Addison Rae yang pure influencer dan bukan seorang aktris. Sepertinya pemilihan dia cuma karena, peran yang sama-sama influencer aja. Padahal He's all that ini bisa banyak ketolong kalau peran utamanya benar-benar bisa akting.  

Baca |Juga : Review Ivan The Only Salah Satu Film Disney Terbaik

Udah getuh jalan ceritanya pun standar abis bak sineteron, kaya nggak ada usaha aja buat bikin cerita yang dalem dan rada komplek kaya She's all that. Memang banyak elemen yang diambil dari film pertamanya hanya sekadar untuk nostalgia, salah satunya adegan dance battle di prom night. Dancenya juga kaya nggak keren dan asal aja getuh, beda sama dance battle di film pertamanya. Terus adegan make over She's all that kan fenomenal banget, turun dari tangga pake lagu Kiss Me. Nah, kalau He's all that ampas banget, cuma keluar dari ruang ganti pake lagu dari Ariana Grande yang sama sekali nggak memorable. Sepanjang film saya cuma bisa batin aja, ini film apa sih? Sumpah kesel banget liat acting si Addison Rae.

Dua pemain She's all that balik di He's all that yakni, Rachel Leigh Cook sama Matthew Lilard, sayang Fredie Prinze Jr nggak mau balik sama perlu diingat Paul Walker juga main di film She's all that loh. Pretty shame film ini cuma sekadar dijadikan konten buat menuhin list di Netflix, padahal kalau mau digarap serius bisa bagus.  

Perempuan Cantik Penjual Korek di Statiun Sudirman

Hari ini saya melihat pemandangan tak biasa, waktu melipir malan malam di sebuah warung nasi dekat statiun Sudirman. Seorang wanita cantik berjilbab meminta izin pada pemilik warung untuk masuk dan menawarkan korek api seharga 3,000 ribu rupiah saja, itupun untuk tiga buah korek jadi masing-masing seharga 1000 rupiah. Paras rupawan dengan penampilan rapi, mungkin berusia sekitar 20 tahunan. Dengan jeli saya bisa melihat telapak kaki perempuan ini, tak semulus wajahnya pun sandal yang dipakai solnya sudah terlihat miring karena tergerus pemakaian. Sepertinya perempuan ini sering sekali berjalan kaki, sampai terlihat hitam dan tak terurus seperti wajahnya. 


Dia menawarkan koreknya namun, saya dengan sopan menolak sebab saya tidak merokok. Beruntung tiga pengujung warung nasi lain yang semuanya lelaki, membeli korek perempuan cantik ini. Salah satu sempat bertanya, "bukannya saya pernah lihat kamu di Bandung yah?" lantas perempuan cantik penjual korek membalas, "iya sebulan sekali pindah, jualan di Bandung sama Jakarta biar nggak bosen."

Baca Juga : Kawin Mewah Minta Uang Buat Biaya Melahirkan Kemudian

I was like? Gila jualan korek harga satu seribu, udah getuh sebulan sekali pindah Jakarta-Bandung. Terus terang saya jadi malu dan kesal, malu sama diri sendiri yang suka ngeluh sama kerjaan dan kesal kalau ingat di rumah ada tiga ekor MOKONDO! Dua  diantaranya bahkan udah kawin punya anak istri tapi, males bekerja sampai semua harus disupport sama orang tua.

Baca Juga : Kenapa Pemalas Pengen Punya Anak Perempuan

Duh pengen saya seret ketiga sampah benalu MOKONDO ke warung nasi itu, buat lihat. "Tuh perempuan aja berani cari duit Jakarta-Bandung jualan korek yang harganya cuma seribu." Jadi lelaki cuma becus kawin, giliran cari nafkah kek sampah! Kerjanya cuma berkembangbiak dan molor aja.


 

Beli Amazfit Band 7 Gegara Fomo!

Jadi  satu bulan lalu, saya fomo beli smartwatch Amazfit band 7. Soalnya, gak di kantor, gak di kereta semua orang pake smartwatch. Padahal awalnya, saya nggak suka sama smartwatch, lebih prefer jam tangan manual biasa. Belum lagi size smartwatch itu rata-rata terlalu besar buat tangan saya, tapi gegara fomo jadinya beli yang sport bukan yang mirip iwatch ataupun galaxy watch. Versi sport layarnya memanjang dan ramping, slim sizelah jadinya pas di tangan saya. Belum lagi saya lumayan suka olahraga dengan naik sepeda setiap Sabtu-Minggu.

Singkat cerita belilah Amazfit band 7 seharga 600 ribuan ini dan setelah satu bulan pemakaian, baru sadar kalau sebenernya nggak butuh-butuh amat smartwatch sekalipun buat sport. 


Fungsi utama buat kasih tahu pukul berapa sama tanggal berapa masih yang utama, sekalipun buat liat harus gerakin tangan karena, buat nampilin pakai motion sensor. Bisa sih AOD atau always on display tapi, baterai cuma bertahan tiga-empat hari. Ya nggak sefleksibel jam tangan biasa.

Baca Juga : Review Keyboard Retro Aesthetic Rexus

Salah satu  fitur unggulan yakni buat tracking sport, setelah punya Amazfit Band 7 ternyata gak begitu produktif sebab, dia koneksi langsung ke  app zepp sementara ke Samsung fit gak bisa dan Google Fit udah konek tapi kok gak bisa semua sync? Jadi kalau  lagi sepedaan atau work out, koneknya ke apps zepp bukan Google fit padahal udah sync. Jadinya nggak kerekam sama sekali di Google Fit. kenapa harus Google Fit? Kalau pindah handphone kan enak sementara apps zepp belum tentu dua tahun lagi pake smartwatch amazfit.

Jadinya nggak begitu maksimal penggunaan amazfit ini, kalau menurut saya smartwatch mending satu merk sama handphonenya. Jadi data aman dan kesimpen rapih di apps bawaan seperti samsung health. Mau ganti handphone pun enak masih kesimpen semua data di apps. 

Selain itu, koneksi ke whatsapp dan notifikasi lain malah ganggu banget. Amazfit nggak punya pilihan buat nampilin notif apa aja, jadi notif di semua group whatsapp muncul tuh! Ganggu banget! Akhirnya saya matikan saja sync ke whatsapp namun, notif Google calender dan telepon sih bermanfaat banget, apalagi kalau handphonenya lagi jauh ataupun di silent.

Terakhir, hal yang paling saya nggak suka adalah feeling pakai smartwatch amazfit ini kaya kita punya handphone kedua. Jadinya selalu awas dan kalau lupa tuh takut banget, ya iyalah harganya 600 rebu! Belum lagi selain wireless headphone, handphone dan gadget lainnya, nambah satu lagi yang harus selalu inget buat dicharge.  

Review Pocong The Origin Film Ampas Monty Tiwa

Jadi saya baru aja nonton Pocong the Origin film keluaran tahun 2019, kebetulan film ini baru nongol di Netflix. Ehemmm, Pocong The Origin sukses bikin saya naik pitam! Film garapan sutradara yang filmnya hampir ampas semua yakni, Monty Tiwa bener-bener bikin saya kesel pengen nonjok semua yang muncul di film, bukan malah takut. mending kita langsung kulik aja film ampas nggak bermutu ini. 

Tokoh utama Asti dari pertama udah nggak jelas banget, dia ini anak si pocong. Tapi, nggak jelas antara baik atau jahat, sebenernya mau kemana sih ini tokoh. Awal digambarin trauma sama masa kecil tapi, ujungnya sayang sama bapaknya yang jadi pocong, apasih yang nulis! Selain itu, tokoh yang diperankan Samuel Rizal juga ganggu banget, logat jawa maksa nggak pas sama wajah kota Samuel. Karakternya terkesan dipaksakan dan mengada-ngada! Mana ada adegan dia beser, padahal selama perjalanan nggak pernah minum. 

Editingnya juga kacrut, terutama pas awal ricuh dalam lapas bapaknya Asti bangkit. Terus si Asti nembak bapaknya, abis itu pindag adegan aja ke Asti mau bawa pulang bapaknya? Lah bukannya abis nembak si Asti itu trauma sambil tiduran di samping bapaknya? Terus, tiba-tiba dia kek biasa aja mau anter bapaknya dimakamin, anying apaan sih ini?  

Selain itu film Pocong The Origin ini juga, nggak jelas timingnya mau begaya tahun 90an tapi, setiangan di tahun 2019. Banyak ambil angle supaya kelihatan jadul bahkan, properti seperti mobil aja yang dipilih mobil jadul. Kalau mau pake otak tahun 2019 itu Lapas kirim jenazah terdakwa pake ambulan dan dimasukan ke dalam peti, goblok! Bukan pake mobil tahun 1970an terus pocongnya cuma digeletakin di belakang, tolol! Karakter pendukung seorang wartawan juga bawa mobil khas 90an yakni, Jimmny padahal kalau mau otaknya dipakai, kenapa perempuan wartawan seperti itu, nggak pake motor matik? Secara dia wartawan! Kalau mau maksa bawa mobil, bisa pake city car macem Kia Visto/Atoz   



Ada adegan mobil jenazah tahun 1970an nggak masuk akal ini mogok, terus di dorong sama orang lewat. Ceritanya lagi dorong di jalan menanjak, sampai pocongnya jatoh ke luar. Tapi, pas diliatin jalannya datar aja? Terus bukannya itu pintu belakang mobil dikunci dari awal yah? Hadeuh..... sampah

Selain itu, premis utama si pocong adalah iblis banaspati bikin tambah kesel. Banaspati bukannya terkenal di jawa tengah dan jawa timur? Ngapain banaspati jadi ilmu rakyat pasundan? Sejak kapan banaspati jadi urban legend di jawa barat? Pengambaran masyarakat desa Cimacan dengan aksen sunda yang ngasal juga bikin hadeuh, apa sih film ini? 

Seperti saya tulis di awal, Pocong The Origin ini bukan bikin takut malah bikin kesel! kalau udah ada nama Monty Tiwa udah dah skip aja, ini sutradara emang rada-rada yah. Heran kenapa ada aja yang mau sponsorin film dia.

Kenapa Foto dan Video Terhapus Sendiri di Samsung Seri A?

Saya sudah dua kali mengalami foto-foto yang disimpan dalam memori internal tiba-tiba saja terhapus? Dan dua-duanya dari handphone Samsung. Yang pertama saat pakai Samsung A11 tiba-tiba semua foto di mempri internal hilang? Nggak ada di trash dan nggak di hidden, belum lagi ada masalah ketika foto nggak bisa disave dalam memori internal? Dan yang kedua saat pakai Samsung A23 tiba-tiba saja charging mentok di 41% dan ketika dicek foto-foto di galeri yang tersimpan dalam memori interhal sudah terhapus.

foto hilang di galeri samsung

Foto hilang di galeri A11

Saya sempat kesal saat tahu Samsung A11 ini mengalami kendala nggak bisa save foto di internal dan pas dicek, ternyata semua foto-foto yang tersimpan dalam dalam berbagai folder sudah hilang! Tadinya saya pikir ada yang breach ke dalam Samsung A11 ini karena handphone seharga satu juta ini dibeli second dari toko oren. Setelah diperiksa dengan seksama ternyata penyebabnya adalah card holder magnetic yang saya pakai di belakang case. Begitu card holder magnetic ini dilepas, bisa save foto dalam memori internal namun, semua foto yang terhapus nggak bisa dikembalikan!

Baca Juga : Cara Hapus Bloatware Redmi

Foto hilang di galeri A23

Samsung A23 ini dibeli gress seharga 3,6 juta dari era phone waktu pertama kali keluar tahun 2022. Setelah hampir setahun tiba-tiba saja kemarin Samsung A23 ini mentok charging di 41% direstart berkali-kali pun tetap sama, cek device care sama sekali ngga ngaruh! Lalu saya coba copot case dan berhasil charging di atas 41% namun saat kembali dipasangkan case kembali mentok nggak bisa nambah! 

Lumayan bikin frustasi, mana ini handphone baru yang tergolong mahal! Masa belum setahun udah ada masalah charging! Akhirnya saya perhatikan case siapa tahu bikin panas? Ternyata sama sekali nggak dan case ini sudah lama dipakai, pas mau dipasang sim injector yang selalu tersimpan dibalik case jatuh dan nggak ikut terpasang. Ternyata Samsung A23 kembali normal! Bisa charging di atas 41% dong. 

Baca Juga : Kesan Pertama Pakai Galaxy S6 Edge

Udah happy aja tuh, bisa ngecharge lagi namun pas saya lihat galeri ternyata semua foto-foto yang tersimpan di dalam memori internal sudah terhapus bersih. Tinggal foto-foto yang tersimpan di sd card saja? Saya cek trash dan hidden album sama sekali nggak ada. Ternyata semua foto dalam memori internal langsung terhapus, folder screenshots, folder lightroom bahkan berbagai gambar serta video yang disave dari sosial media juga terhapus.

Gak boleh ada besi nempel di belakang Samsung?

Kalau kasus A11 saya masih bisa memaklumi karena, pakai card holder magnetic yang nempel di belakang sudah pasti unsur magnetnya bakalan berimbas langsung ke dalam mesin handphone. Tapi, untuk kasus A23 kok bisa besi sim injector sekecil itu berimbas sama charging dan penyimpanan? Apa karena tersimpan rapat dalam case sehingga pas rada panas, ada efek tertentu pada mesin handphone?

 Seri A pakai memori eMMC 5.1      

Setelah saya share di forum Samsung ada yang berpendapat kalau ini karena, seri A pakai memori eMMC 5.1 walaupun nggak jelas apa hubungan  eMMC 5.1 sama magnet dan besi. Tapi kalau dilihat dari bentuknya yang mirip sama MMC emang rawan banget kalau sampe deket magnet. Tapi, sekali lagi kalau deket logam nggak ngerti dah. 

baca Juga : Beli Amazfit Band 7 Gegara Fomo

Kalau sudah terhapus apa bisa dikembalikan? Jawabnya sama sekali nggak! Bener-bener full erase dan nggak ada jejaknya sama sekali. Satu-satunya solusi adalah dengan selalu save di sd card atau mengaktifkan auto back up ke google photos. Saya pilih  auto backup saja ke google foto dengan membayar 26,900 rupiah perbulan. Ini jauh lebih aman ketimbang simpan di SD card lagi pula dengan memori 128Gb buat apa lagi punya sd card?

Kucing Kabur Gara-Gara Menyerap Energi Negatif

Jadi kucing rescue yang sudah satu tahun tinggal di rumah saya tiba-tiba saja kabur? Yup, si Alfred kucing yang satu tahun lalu saya temukan hampir mati di cafe teman ini tetiba kabur? Mulai dari tanggal 7 April dan diketemukan tanggal 17 April. Saya nggak mau bahas gimana Alfred sampai bisa ditemukan, yang mau saya ceritakan adalah kenapa Alfred sampai kabur seminggu lebih? 


Alfred ini big bone persian yang saya rescue dari kematian dan sudah di steril, jadi nggak ada alasan buat dia kabur? Selain itu, masih ada lima ekor kucing lain di rumah saya dan mereka semua nggak ada yang kabur. Alfred ditemukan di sebuah rumah mewah yang jauh banget, beruntung kalungnya ditempel tag nomor WhatsApp. Gak ada kejelasan kenapa Alfred bisa sampai sejauh itu? Apa dibawa sama orang atau pure dia jalan kaki sampai ke perumahan elit? Tapi, begitu mau saya bawa Alfred ini memberontak kaya nggak kenal getuh sih sama saya, walaupun setelah dibawa pulang dia kembali tenang.

Baca Juga : Tukang Pengasihan Benci Kucing

Dari sini saya mikir, buat apa Alfred kabur sejauh itu? Selama setahun diselamatkan dan dirawat lantas melarikan diri? Biasanya juga dia paling jauh maen ke genteng tetangga buat cuci mata sama berjemur terus balik. Memang semua kucing saya indoor bebas main ke luar dan selalu pulang pas jam makan, serta bobo di dalem rumah. Ada dua ekor yang nggak pernah ke luar, salah satunya dalam kondisi payah karena panleu dan calici survior. Jadi Kucing ini cuma bisa diem di rumah dengan napas sesak dan selalu pilek, jangan tanya sudah habis berapa juta dan berapa kali bolak balik ke vet. Jadi tiga kucing yang selalu diam di rumah adalah, si Kecil yang sudah payah karena panleu dan calici survivor, si Bocil kucing rescue kurang dari satu tahun ketemu di depan rumah sama si |Alfred ini, memang di keep karena dia ras takut diambil orang.    

Kenapa kucing yang lain gak mau diem di rumah? Padahal semuanya sudah di steril? Cuma pulang untuk makan dan tidur saja. Semua kucing yang rajin ke luar ini, gak pernah sekalipun sakit. Mereka sehat semua? Kejadian Alfred kabur ini bikin saya mikir, mungkin dia pergi sejauh itu buat melepas semua energi negatif selama setahun tinggal di sini.

Baca Juga : Rahang Rusak Karena Pantangan Ilmu Pengasihan

Memang kucing terkenal bisa menyerap energi negatif, terus kok jadi cocologi sama kaburnya si Alfred? Mau nggak mau saya mikir begitu sebab, rumah yang saya tempati sekarang adalah milik orang tua dan Bokap dulunya memang tukang pengasihan dan ilmu hitam lainnya. Baru ketahuan setelah dia jadi almarhum, berkat bantuan ustadz semua jimat yang disembunyikan berhasil ditemukan. Sialnya, kata ustadz waktu bangun rumah ini, Bokap juga tanem sesajen di pondasi belakang.  

Solusinya sih belum saya temukan, nggak bisa juga membiarkan si Alfred jadi indoor takut diambil udah bagus begini. Mungkin ke depannya saya bakalan bawa dia keluar rumah setiap minggu, jalan-jalan supaya dia bisa lepasin energi negatif. 

Vario 110 Karbu Tahun 2007 Dijual Setelah 16 Tahun di Rumah

So kemaren saya mengucapkan selamat tinggal pada Vario 110 karbu tahun 2007 artinya, Vario ini sudah ada di rumah selama 16 tahun. Walaupun Vario 110 karbu tahun 2007 ini baru intense saya pakai dua tahun belakangan. Rentan waktu 16 tahun memang sudah amat sangat cukup untuk mempensiunkan Vario 110 karbu tahun 2017 ini serta ada beberapa alasan pribadi bagi saya untuk melepas motor yang sudah ada semenjak saya lulus SMA ini.

Body terlalu besar

Dari pertama beli pun sebenarnya amat sangat salah karena, Vario 110 karbu ini terlalu besar untuk orang dengan tinggi hanya 160 cm, yang ada kaki saya sama sekali nggak napak. Apa lagi kalau dipakai untuk boncengan, yassalam dah berat banget, badan kebanting sama body motor. 

Dimandikan untuk terakhir kalinya sebelum dibawa ke dealer, selamat tinggal motor hasil ngilmu pengasihan dan pernah dipakai keluarga MOKONDO sampah.

Vario 110 karbu tahun 2007 ini pernah sekali saya bawa ke Jakarta dan hasilnya, sumpah capek banget gegara bodynya yang gede banget. Sempet beberapa kali kali hampir ke slip gegara gak napak, akhirnya saya nyerah untuk Vario ini  bisa PP Jakarta-Bogor.  

Baca Juga : Rekontruksi Rahang Akibat Bokap Penganut Ilmu Pengasihan

Segala cara sudah saya coba untuk bikin Vario 110 karbu tahun 2007 ini lebih pendek seperti, ganti ukuran ban dan ganti jok yang lebih tipis. Hasilnya tetap saja kaki saya gak bisa napak, memang bodynya terlalu tinggi dan besar untuk orang dengan tinggi badan 160cm seperti saya. 

Dipakai sama MOKONDO

Vario 110 karbu tahun 2007 ini memang dibelikan untuk saya ketika zaman kuliah tapi, pada kenyataannya lebih banyak dipakai oleh keluarga MOKONDO. Overall 80% body masih mulus 20% sisanya lecet gegara pemakaian oleh keluarga MOKONDO, Tabiat keluarga MOKONDO emang rada-rada gak bener, bisa make tapi gak bisa ngurus. Lecet body sama sekali gak diperbaiki dan selama pemakaian oleh keluarga MOKONDO sama sekali gak pernah diservice.

Akibat pemakaian oleh keluarga sampah MOKONDO, Vario ini rada-rada gak keurus soal daleman mesinnya. Tapi beruntung saya bisa atasi dengan full service, bayangkan dari tahun 2007 baru ganti belt dan beberapa part tahun 2020 lalu, kalau kata orang bengkel udah waktunya jajan. Lebih gilanya bohlam sen dan lampu utama selama 16 tahun berfungsi dengan sempurna, begitu pula starter yang cuma ganti aki dan kiprok aja selebihnya ngacir mulus. Ganti oli pun rajin setiap tiga bulan sekali padahal, cuma dipakai dari rumah ke statiun dari tahun 2020 sampai sekarang.  

Baca Juga : Nikah Mewah Melarat Kemudian MOKONDO Story

Biaya full service untuk pergantian beberapa part seperti bel, kiprok serta daleman lain yang saya lupa apa saja namanya cuma seharga 1 juta saja pada tahun 2020. Kalau mau dihitung motor dari tahun 2007 yang sudah turun mesin atau full service, rata-rata bakal makan biaya service sekitar 2 jutaan. 

Masih irit tapi bensinya berubah?

Banyak yang bilang bensinnya irit banget, ketimbang Mio memang jauh banget. Untuk pemakaian dalam kota sehari-hari, sekali isi bensin bisa seminggu. Tapi, setelah gonjang-ganjing kenaikan BBM pada Oktober 2022 lalu bensin pertalite tiba-tiba berubah cuma mampu bertahan 3 hari saja untuk pemakaian normal kalau dibawa ke Jakarta, pergi fulltank pas sampai Manggarai masih sisa dua bar, pulangnya harus isi lagi. 

Bukan dari duit halal

Ini sih alasan terkuat kenapa saya lebih memilih untuk menjual Vario 110 karbu tahun 2007 karena dulu yang belinya tukang ngilmu pengasihan. Kalau kata orang sekarang nggak bakal berkah lah tuh motor, jadi lebih baik dijual saja dari pada ngekeep sesuatu dari duit dark magic.  

Laku berapa?

Saya lihat di beberapa marketplace Vario 110 karbu tahun 2007 ini kisaran 5-6 juta dengan kondisi super mulus. Sayangnya Vario saya ini bodynya cuma 80% saja tingkat kemulusannya akibat pemakaian keluarga MOKONDO. Sekalipun sisanya masih orisinil dan mesin mulus ketika saya bawa ke dealer milik teman, Vario ini hanya mampu dibandrol sekitar 4 juta saja. Terus kenapa gak dipasang aja di marketplace, percuma sih bisa bertahun-tahun baru laku. Itupun gak jaminan bakal ditawar ke angka lebih rendah, mengingat masih banyak Vario lain dengan kondisi lebih kinclong. 

Setidaknya nitip jual di dealer lebih terjamin dapat pembeli, soalnya saya memang dijanjikan dalam waktu dua bulan sudah terjual. Belum lagi kalau dititip ke dealer lebih dirawat ketimbang diam dalam garasi dan berdebu. 

Nggak punya personal memori

Karena dari tahun 2007 saya lebih banyak di Bandung untuk kuliah, maka Varion 110 karbu tahun 2007 ini seperti sudah saya tulis di atas, lebih banyak dipakai oleh keluarga MOKONDO. Padahal sering banget kalau saya parkiran, orang bilang "hebat vario pertama masih mulus." Banyak juga yang heran sama kondisi velg jari-jarinya yang masih bening. 

Baca Juga : MOKONDO Minta Dibayarin Lahiran

Waktu saya cari faktur penjualan untuk dealer, ada satu yang menarik perhatian. Ternyata motor Vario 110 karbu tahun 2007 itu gak dirakit dalam negeri melainkan asli 100% rakitan Jepang dan diekspor ke Indonesia makanya, kualitas gak main-main walaupun tergantung siapa pemiliknya. Soalnya sering juga saya lihat Vario 110 karbu sejenis, sudah amburadul di jalan gegara gak dirawat. 

note : MOKONDO = Modal Kontol Doang, keluarga yang suaminya sampah pengangguran cuma becus kawin mevvah setelahnya jadi benalu keluarga. 

Review Samsung Tab A7 Lite Setelah 1 Tahun Pemakaian

Review  Samsung Tab A 7 Lite/ RAM 2-4GB/ OS Android 13/ Kamera 8MP+VGA/Harga Rp 2.600,000 Dari awal tahun lalu, saya udah beli Samsung Tab A7 Lite ini buat kerja dan harganya lumayan banget. Sekitar 2,8 atau 2,6 lupa dah pokoknya awal-awal keluar. Keperluannya memang buat kerja, sebagai alternatif pengganti laptop yang ribet di bawa kemana-mana. Nah, setelah satu tahun pake Samsung Tab A7 Lite ini, begini kesannya atau reviewnya.


Design dan layar

Soal build in kualitas jangan diragukan dah, designnya simpel tapi elegan. Kelihatan Samsung banget dan gak murahan. Layar selebar 8 inch TFT LCD bening banget buat dipake nonton pelem dan Netflix, suaranya stereo mantap dah. Pokoknya untuk urusan entertaiment Samsung Tab A7 Lite ini juara. 

Gak support stylus

Sayangnya layar TFT capasitive ini gak suppot stylus, mau beli stylus apapun itu beneran gak worth it. Beli yang palm rejection pun tetep aja ngak enak, responnya selalu delay. Beli yang karet buat layar capasitive sama aja, tetep respon delay. Nulis aja gak enak apa lagi dipaksa buat gambar.

Baca Juga : Review Samsung Tab A8 With S-Pen Masih Worth it Dipakai

Performa

Terus buat kerja gimana? Terus terang saya rada kecewa karena, Samsung Tab A7 Lite ini lemot banget, perpindahan antara aplikasi lama beud! Belum lagi sering force close. Apalagi waktu saya beli awal-awal itu masih UI 4 yang mana gak intuitif buat Tab A7 Lite ini. Ngerjain di Google Slide sering force close juga, hadeuh ini Tab padahal brand Samsung dan tergolong mahal.

Rada syedih sih dari 4Gb Ram plus dalam kondisi stanby aja udah kepake 1,9Gb dan nyisa 824 Mb. Masih rada bingung kenapa UI sama OS di tab ini makan Ram gede banget sementara di handphone Ram 4Gb tuh aman banget, gak nyisa cuma segini?

Lemot dan sering crash

Awal-awal dipake kerja dengan UI 4 sumpah gak enak banget, bayangan aja UI buat satu tangan dipaksa di tab 8 inch, plus UI ver 4 ini sering crash! Pokoknya belajar sabar dah pake Tab A7 Lite ini. Sampai itu akun Samsung international dan Samsung Indo, setiap hari saya mention gegara kelemotan Samsung Tab A7 Lite ini.  

Harus upgrade dan aktifin ram plus

Gak lama Samsung Tab A7 Lite ini dapet upgrade ke android 13 dan Samsung UI 5. tadinya gak ngarep banyak sih, paling juga tampilan aja. Tapi, ternyata UI 5 di Samsung Tab A7 Lite ini beda sama di handphone, dia dibuat khusus untuk Tab. Tombol home yang tadinya seperti di tengah seperti handphone, bergeser ke kanan terus, tampilan setting disesuaikan supaya bisa nampil dalam satu layar. Pokoknya UI 5 di Tab ini beda sama versi handphonenya.

Baca Juga : Review TREQ Basic 2K, Tablet Kitkat 400 Ribuan

Waktu otak-atik UI 5 di Samsung Tab 7A Lite ini saya sadar kalau selama ini, ram yang dipake cuma 2Gb jadi Ram plus gak diaktifkan. Pantes aja lemot dan sering force close! Ternyata Samsung Tab A7 Lite ini bisa Ram plus sampai 4Gb. 

Kinerja UI 5 dan Ram 4Gb bisa dibilang jauh lebih baik, perpindahan antar apps sekarang lancar walau gak cepet dan force close gak ada. Namun, pernah UI yang force close itu cuma sekali sih. Emang Ram yang pas buat android dan UI di tab itu, minimal 4-6Gb. Sekarang enak banget dipake kerja walaupun Samsung Tab A7 Lite ini gak punya fitur Samsung Dex tapi, masih bisa diakali dengan menginstal apps taskbar.  

Baca Juga : Kenapa Foto Terhapus Sendiri di Samsung Seri A?

Emang sih  baru enak kepakai setelah beberapa lama dapet upgrade UI 5 tapi, masih worth it lah. Jadi kalau beli Samsung Tab A7 Lite 4G ini jangan lupa buru-buru di upgrade ke UI 5 dan aktifkan fitur Ram plus ke 4Gb. Baru-baru ini keluar versi wifi only dengan chipset yang lebih rendah dan harga yang terpaut lumayan jauh sekitar 1,7 saja.  


 


Review Argantara : Kenapa Argantara Banjir Caci Maki Netizen?

 

 

 

Duh penulis wattpad bikin masalah lagi, sebenarnya dari awal cerita Argantara hype di Wattpad mau review betapa gak masuk akal dan jauh dari pada layak untuk dibaca. Tapi, tahukan tipe pembaca Wattpad yang almost semuanya adalah abg bau kencur yang logika sama sekali belum berkembang dengan baik dan benar.  Dari plotingan sampai PUEB gak ada benernya Argantara ini namun, karena Indonesia adalah negara berkembang jadinya dibaca sampai 30 juta kali dan alasan kenapa saya harus nulis ini lagi karena, memang sedang hype netizen mengutuk film Argantara ini sementara sang penulis Falistiyana (Fafay) malah menghilang gak berani untuk mempertanggung jawabkan karyanya.


Jadi kita mau mulai dari penokohan, plot atau PUEB? Gak usah lah yah karena, fans bocilnya juga mana ngerti cara menulis yang baik dan benar. Jadi kita mulai dari logika saja :  

Plot utama masuk akal gak sih?

Syera diserahkan alias dipaksa nikah sama Arga gegara bapaknya hutang budi sama bapaknya Arga. Emang ada bokap mau nyerahin anaknya semudah itu? Mana umur 16 tahun pula buat dinikahkan! Terus perjanjian pake tertulis yang mana lebih gak masuk akal, belum lagi bapaknya si Syera orang kaya juga, jadi…jadi…ini apa sih gaje banget! Mau lebih gak masuk akal lagi? Orang tua Syera juga gak maksa loh. Jadi dimana konflik sesungguhnya yang seharusnya ada di sebuah plot?

Baca Juga : Penyebab Malas Baca Buku Dari Penulis Wattpad

Udah hamil si Syera kena dilema takut kedepak sama sekolah gegara ketahuan hamil, emang waktu pertama kali nikah gak kepikiran apa kalau orang hamil gak bisa masuk sekolah? Emang wajar umur 16 tahun nikah terus pergi sekolah kek biasa? Fafay otak lo konslet atau gimana?

Plot gak masuk akal ini diperparah dengan, Arga dan Syera kena konflik yang semua orang waras tahu bakal ada di sebuah pernikahan. Emang apa yang ada di otak  Falistiyana (Fafay) waktu nulis ini? Wait, biar saya tebak pasti ini orang bocil lucknutt yang gak ngerti apapun tentang penikahan yah. Banyak yang bilang ini meromantisme pernikahan dini tapi, klo menurut saya bukan, ini sih gegara si Falistiyana (Fafay) emang asal nulis aka ngayal babu, padahal penulis itu kudu riset say. Riset tentang pernikahan dini sesusah itu kah Fafay? In reality, pernikahan muda apalagi 16 tahun banyak resikonya. Mulai dari sisi psikologi sampai dengan kesehatan. Bayangkan hamil diumur 16 tahun, dimana tubuh lo masih berkembang? Resikonya idup atau mati say.

Dari sini aja udah Argantara udah mati kutu, gak bisa dilanjut untuk bisa disebut sebuah cerita dengan plot solid bahkan, layak untuk dibaca. Apa masih harus saya lanjutkan dengan kualitas penokohan dan PUEB? Terlalu capek saya mengulas seberapa buruknya Argantara.

Gak ada di Goodreads

Ini rada gila sih, masa dibaca sampai 39 juta tapi sama sekali nggak tersedia di Goodreads? Buku macam apa yang nggak ada di Goodreads! Sepertinya penerbit sengaja menghindari Argantara bapuk ini untuk masuk Goodreads, sudah tahu populer dan sudah tahu nggak layak baca makanya menghindari Goodreads. Nggak kebayang kalau masuk Goodreads bakalan dicaci maki seperti apa? Eits tunggu dulu paling-paling si Fafay lucknutt bakalan meluncurkan army bocilnya buat ngevote, seperti penulis Wattpad yang lain. 

Bukan yang pertama loh

Kasus Argantara ini bukan yang pertama, ingat sama kasus Dear Nathan dari Erisca Febriani. Banyak hal gak masuk akal di Dear Nathan sampai ibu hamil bisa jadi bahan bercandaan terus, penulisnya si Erisca Febriani diem aja. Barulah setelah semuanya mereda, dia bikin tulisan playing victim! Seolah-olah dirinya terzolimi karena, dikiritik terus menerus. Padahal emang karya lo yang gak masuk akal dan jauh dari berkualitas.

Banyak netizen kesal

Argantara jadi puncak rusaknya penulis wattpad bahkan, di Twitter banyak penulis Wattpad yang pengen nonjok si Falistiyana (Fafay) gegara memperburuk citra penulis Wattpad sementara netizen umum pun geram dengan romantisasi pernikahan dini ini, belum lagi kalangan professional seperti psikolog yang geleng-geleng kepala dengan cerita Argantara.

Baca Juga : Kacaunya Cerita AU (Alternate Universe)

Saya pun coba riset si Falistiyana (Fafay) dan jadi mikir, mungkin bocah ini gak sepenuhnya freak. Karena kalau orang punya karya bagus, pasti bangga dan muncul ke publik bukan? Anehnya si Falistiyana (Fafay) ini sama sekali gak nampil. Terakhir joged-joged di Tik Tok, 6 hari lalu pas premier Argantara, begitu dikritik langsung kena mental, menghilang entah kemana? Nunggu reda dulu yah sebelum joged-joged lagi buat promo sekuel Argantara. 

Sebenarnya karya Wattpad yang amburadul macam Argantara ini sudah sepatutnya kena cancel, bukan saya kejam yah. Tapi, belajar dari  Erisca Febriani dengan Dear Nathan, diem dulu terus playing victim dan sekarang malah jadi speaker dimana-mana?  Falistiyana (Fafay) pun pake tak tik yang sama, palingan nanti juga bikin pembelaan kenapa, gak becus riset tentang realita pernikahan dini. Kalau gak di cancel bakalan, ada Fafay-Fayay yang lain, bikin cerita gak pake logika dan riset ketika, cerita udah dibaca jutaan orang, si penulis lepas aja tanggung jawab. Lebih gampangnya stop making stupid Wattpad writer famous!

 


Resensi Quranic Law of Attraction, Sumpah Ngena Banget!

Awalnya bakalan ngira kalau buku Quranic Law of Attraction adalah, sebuah buku marketing sampah seperti 7 Keajaiban Rezeki karya Ippho Santosa. Udah pesimis banget kalau Quranic Law of Attraction bakalan, gak bermutu dan cuma copas sana sini seperti 7 Keajaiban Rezeki. Namun, saya memberanikan diri untuk membeli Quranic Law of Attraction karena, ada beberapa akun influencer terpercaya di Tik Tok yang sudah mereviewnya.



Setelah membaca buku setebal 230 halaman karya Rusdin S. Rauf ini, pikiran saya amat sangat tercerahkan Quranic Law of Attraction bukan sebuah buku yang cuma copas konsep law of attraction. Quranic Law of Attraction justru menselaraskan law of attraction dengan al-qur'an dan keimanan sebagai seorang muslim. Saking ngenanya buku Quranic Law of Attraction sampai bisa saya habiskan dalam dua hari saja.

Lebih kerennya lagi Rusdin S. Rauf ini sama sekali nggak menjelekan konsep law of attraction yang lain. Bahkan Quranic Law of Attraction ini banyak banget menterjemahkan The Secret dari Rhonda Byrne ke dalam ahlak dan akidah. Kalau kalian masih banyak yang nggak ngerti konsep law of attraction dari buku The Secret, coba dah baca Quranic Law of Attraction.

Quranic Law of Attraction mengajarkan kita supaya sadar, kenapa sih doa-doa kita nggak terwujud? Apakah ketika berdoa sudah benar? pure dari hati dan terfokus. Kebanyakan dari kita termasuk saya, kalau berdoa ala kadar saja. Jadinya jangan heran kalau lama dikabulkan atau bahkan, sama sekali gak dikabulkan. Selain itu adalah fokus dalam berdoa, artinya doanya konsisten nggak? Ini berhubungan sama hidup kita sendiri. Apakah sudah tahu apa yang dimau? Atau cuma sekadar hidup go with the flow?

Quranic Law of Attraction juga mengajak kita untuk selalu kembali ke al-qur'an karena semua jawaban permasalahan hidup itu sebenarnya ada di al-qur'an. Tinggal buka al-qur'an terus cari ayat yang sesuai dengan masalah hidup. Nah, baca dah tuh ayat yang match ama derita hidup elo. Waktu baca ini saya langsung, "anjrit bener juga yah kalau ada masalah kenapa malah lari ke hal-hal lain?" kalau nggak becus buat ngerti arti dari bahasa arab tinggal beli yang ada latinnya atau yang terjemahannya. Dibaca dan diresapi tuh karena, bakalan ngasih vibrasi yang positif.



Buku ini juga menyadarkan kalau selama ini, kita tuh cuma fokus dikekhawatiran sama ketakutan. Makanya pikiran dan vibrasi selalu jelek, fokusnya ke kedua hal tersebut. Lebih parahnya karena selalu fokus ke ketakutan, jadinya gak sabaran. Padahal rezeki dan sebagainya sudah di atur oleh Alloh SWT dan kita tinggal menyakini kalau takdir yang diberikan untuk kita tuh, selalu bagus. Jangan souzon sama Alloh SWT kalau suatu saat kita kena sial atau lagi bernasib buruk karena, Alloh SWT gak bakal kasih cobaan yang kita nggak sanggup.



Beda banget sama 7 Keajaiban Rezeki sampah yang pake contoh Mansyur S paytreen MF! Quranic Law of Attraction mencontohkan nabi dan para sahabatnya bahkan, Bob Sadino pun masuk. Gak ada tuh modelan motivator otak sengklek Ippho Santosa, yang nyuruh kawin terus simsalabim rezeki datang, simsalabim lo bakalan tajir dengan sendirinya. Asiknya lagi, Quranic Law of Attraction ngasih kita bagan intisari dari law of attraction yang bisa di donwload lewat QR code di bagian belakang buku. Bukan malah nyuruh gabung sama group Facebook seminar otak kanan aka branding marketing sampah.

Review Erto's Pore Minimizer Serum, Hasilnya bagus!

Buat yang lagi cari serum buat kulit cowok, erto's pore minimizer ini bisa banget dijadikan pilihan. Nama erto's, juga udah terkenal jadi gak perlu khawatir soal BPOM dan udah saya kroscek pore minimizer serum ini terdaftar. Packegingnya simple dan elegan, tipikal brand erto's yang cuma nampilin warna putih aja.  Harga untuk 20ML sih lumayan mahal yakni, 141 ribu itu di official shop kalau di non official ada yang jual 60-90 ribu. Yah cuma gak jelas asli apa gak?

Review Erto's Pore Minimizer Serum,

ingredients 

Erto's pore minimizer ini sebenarnya produk baru karena, pas di website BPOM baru terdaftar tahun 2021. Soal ingredients mengandung AHA, Niacinamide, Retinyl etc yang biasa ada di serum, paling cuma AHA aja sih yang bedain. Enaknya serum erto's pore minimizer ini cepet banget meresap ke dalam kulit.

Baca Juga : Review Erto's Facial Threatment

Ngaruh ke bekas komedo tapi, gak ke bekas jerawat

Terus hasilnya gimana? Terus terang hasilnya bagus banget erto's pore minimizer ini mencerahkan dan memperbaiki tekstur kulit dan untuk klaim pore minimizernya gimana? Buat bagian di hidung dimana pori-porinya gede, gegara saya sering pencetin komedo, it work flawlessly. Lobang pori-pori di hidung memang mengecil yang tadinya kelihatan terbuka tapi, sayangnya erto's pore minimizer ini gak ngaruh sama bopeng bekas jerawat atau pori-pori di kulit wajah yang gede gegara sering pencetin jerawat. Selain itu, pemakaian daily gak disarankan karena, kulit saya yang berminyak banget tetiba jadi kering kerontang. Makanya make jadi selang-seling aja, biar muka gak kering sekaligus menghemat serum. 


Review Erto's Pore Minimizer Serum,

Baca Juga : Review SBY Face Serum For Man Yang Ampas

Saya sendiri sudah habis dua botol dan overall puas dengan erto's pore minimizer ini. Sekalipun, memang gak bisa ngecilin pori-pori gegara bekas jerawat tapi, kulit jadi bagus banget. Sebenernya kalau gak bikin kering mau stay di erto's pore minimizer aja, cuma kalau gak nemu yang lebih murah tapi, worth it kaya erto's pore minimizer ya balik lagi.


Review SBY Face Serum For Man, Jangan Dibeli Ampas!

Begini dah kalau kemalan sama iklan di Tik Tok, jadi saya sebulan yang lalu kemakan sama iklan produk SBY face serum for man. Yang katanya bisa mencerahkan kulit, mengecilkan  pori-pori dan menghilangkan komedo. Pokoknya perkara kulit pria pada umumnya, belum lagi pas dicek harganya cuma 20 rebu. Jadi gak pake mikir langsung check out lah di Shopee.

Review SBY Face Serum For Man,

Kalau dari packeging sih, emang kelihatan murah banget. Design boxnya aja sama sekali gak kelihatan premium, malah gak jelas sama sekali cuma warna biru tua dan biru muda. Dengan logo SYB face serum for man dan dalam keterangan di setiap  toko shopee, tertera sudah BPOM.  

Begitu saya cek di BPOM ternyata merk SBY face serum for man, samsek nggak keluar anjir! Dan saya ngeceknya pas SBY face serum for man sudah habis! Sumpah kesel banget. Pas di scan di boxnya sih bisa masuk ke page BPOM dan ada SBY  face serum for man tapi, pas nomor registrasinya di cek malah samsek gak terdaftar. Mana pas di cek situs sbyindonesia.com juga gak ada! Wah fix ini sih produk abal-abal kaga jelas. 

ingredients

Kalau dilihat dari ingredientsnya sih biasa banget, Niacinamide, Glycerin, Hydroxide etc. makanya saya ngerasa wajar kalau cuma 20 ribu dan nggak berharap banyak kecuali melembabkan sama sedikit memperbaiki skin karena daily activity. Tapi, SBY face serum for man ini sama sekali gak ada efeknya! Teksturnya sama seperti serum lain, lengket namun entah kenapa? Serum ini dipake sebelum tidur, pas bangun masih aja ada di kulit aka kaga meresap?  Jadi  masih kerasa serumnya di kulit, sekalipun udah tipis-tipis.

Baca Juga : Review Erto's Pore Minimizer

Sumpah nyesel banget, kemakan iklan Tik Tok. Mana SBY face serum for man belum BPOM pulak, beli ini cuma gegara pengen hemat dari serum yang biasa saya pakai yakni, erto's pore minimizer seharga 140 rebu. 

Baca Juga : Review Citra Fresh Glow


Resensi The Psychology of Money : Apa Yang Saya Pelajari dari Buku Ini?

The Psychology of Money karya Morgan Housel ini, bertebaran dimana-mana sebagai salah satu buku yang must to read. Spontan saya pun penasaran mengapa The Psychology of Money selalu dijadikan buku yang wajib dibaca? Awal-awalnya rada males karena, gak pernah suka baca buku tentang finansial ataupun keuangan tapi, anehnya buku The Psychology of Money karya Morgan Housel ini sering banget direkomendasikan oleh berbagai orang non finansial, mostly rekomen para achiever mindset. 

The Psychology of Money karya Morgan Housel
Maap bukunya lecek, lupa di sampul dan keseringan di dalam tas.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli The Psychology of Money karya Morgan Housel dan ini merupakan salah satu buku finansial sederhana namun bermakna. Gak ada angka-angka yang bakalan bikin otak meleduk maupun, nasihat mengenai finansial yang bikin mikir panjang. The Psychology of Money karya Morgan Housel murni menjelaskan hubungan pribadi dan orang-orang terhadap uang yang mereka punya. 

Ada sekitar 20 bab singkat dan padat di The Psychology of Money karya Morgan Housel ini, mulai dari bagaimana seseorang menggunakan uangnya sampai dengan berbagai keputusan finansial yang bakalan kamu buat. The Psychology of Money karya Morgan Housel  sama sekali gak menggurui tapi, bercerita layaknya mendengarkan dari seorang sahabat.

Dalam setiap bab The Psychology of Money karya Morgan Housel, kita bakalan dikasih contoh realita sehari-hari sebelum membahas inti dari bab tersebut. Masalahnya untuk orang yang gak biasa baca buku non fiksi apalagi keuangan, emang rada menjemukan imbasnya buku dengan tebal hanya 200an halaman ini lumayan lama diselesaikan.  

Baca Juga : Review 7 Rezeki Sumpah Bikin illfeel

Lebih parahnya, saya juga sulit untuk bisa menemukan apa sih yang  mau dikasih sama The Psychology of Money karya Morgan Housel ini? Lebih seringnya malah menyadari hubungan dan mindset saya sendiri terhadap uang dan berikut based on my view setelah baca The Psychology of Money karya Morgan Housel .

Review : When Breath Become Air Memoar yang Hambar

1. Gak usah banyak gaya dan gak perlu mengimpres orang lain dengan gaya hidup dan barang-bareang mewah. Ini related banget buat yang maksa beli barang-barang apple bahkan sampai kredit.

2. Keberuntungan, intinya gak usah ngiri dah karena, beberapa orang memang beruntung misalkan, lahir dari keluarga kondusif dan mendukung buat sukses. Resiko juga ada namun, mendapatkan kegagalan bukan akhir dari segalanya. 

3. Selalu merasa cukup, yang namanya punya uang itu gak ada rasa puas makanya jangan pernah tamak. Selalu merasa cukup ketika sudah bisa berkecukupan. 

4 Kalau berhubungan sama uang atau investasi cobalah untuk selalu bersikap rasional ketimbang emosional.

Nah, so far yang nempel di kepala setelah baca The Psychology of Money karya Morgan Housel  itu aja sih. Saya juga coba baca review orang-orang kok beda yah? Ternyata terjemahan The Psychology of Money karya Morgan Housel ini, gak begitu bisa buat menghadirkan apa yang diinginkan oleh sang penulis Morgan Housel. Pantes hal-hal kaya biaya tersembunyi, manajemen keuangan dan kesabaran gak bisa masuk otak saya. Versi terjemahannya seperti, gak bisa buat nonjolin penekanan terhadap apa saja yang mesti dan harus diperhatikan. Jadinya kalau gak related sama diri sendiri, gak begitu meaningfull dan loss aja buat diinget. 

Kerja di SCBD yang Serba Mahal dan Gak Ada Tempat Nongkrong Gratis

For some peoples kerja di kawasan SCBD impian kali yah? Well, I manage to work in this prestigious place. Emang apa lebihnya sih kerja di kawasan SCBD? Yang pertama transportasinya ada MRT dan statiun kereta, belum lagi ditempuh pakai apapun enak karena, SCBD punya jalur sendiri. Selain itu vibe SCBD itu New York banget bahkan, seorang atasan yang mampir ke lantai 32 kantor berkata, "ini sih mirip di New York." Trotoar yang gede dan bersih semua tertata rapi, enak aja jalan di SCBD. Keluar dari MRT tuh langsung di sambut sama kawasan yang bersih, rapi dan modern. Jalan pagi di antara gedung-gedung mewah menjulang rada-rada bring good mood getuh dah. 

Kalau tempat kerja saya dulu di mega kuningan tuh masih rada-rada berantakan, akses transportasinya pun gak sebagus SCBD. Maksudnya jauh dari statiun kereta, gak bisa tinggal ngesot dari statiun harus pakai gojek lagi. Trotoarnya emang gede dan enak buat jalan kaki tapi, panas banget dan sumpek sama debu serta asap kendaraan. Pokoknya gak enak dah, jalanan di mega kuningan pas pulang juga neraka banget! Depan RDTX tower aja udah gak gerak sampai jam 7 malam.  Gak ada good vibenya lah.

Pengalaman kerja di kawasan scbd
Suka banget sama trotoar yang gede dan bersih, enak aja getuh jalan ke kantor dengan keadaan seperti ini.

Bukan berarti SCBD gak ada minusnya yah kalau kerja di sini tuh wajib gaji gede. Bukan apa-apa layaknya New York, semua yang ada di SCBD pasti mahal! Gak ada warteg atau tempat jajan emperan, yang ada Lawson, Family Mart sama tempat makan siang yang sekali makan bisa sampai 10 juta. Kantin ada sih di basement tapi, harganya dua kali lipat ketimbang kantin biasa. Makan siang aja bisa 25-50 ribu dengan lauk pauk biasa. Belum lagi tempat parkir dengan harga tiket yang bisa mencapai ratusan ribu, memang ada parkiran biasa namun, rada jauh. Selain itu, SCBD gak ada tempat buat nongkrong, ngobrol gak jelas pas istirahat atau sekadar sebat. Selain tentunya cafe-cafe fancy, kadang suka mikir anak-anak Shopee yang gajinya gak seberapa, gimana yah hidupnya di SCBD. Walaupun sering lihat mereka, ngumpul di Family Mart dan Lawson buat beli jajanan ala Korea dan kopi kekinian, padahal gorengan tahu isi seafood aja satu 8 rebu. Gaji standar 5-6 jutaan pun gak bakal cukup buat heppy hangout di SCBD.  

Gedung tempat kerjanya pun fancy banget coy semua serba otomatis, kalau lagi suntuk liat sunset di antara gedung pencakar langit. Udah kek di serial-serial barat aja anjir. Cuma ya lagi-lagi suka bingung banget, pas istirahat mau nongkrong dimana? Semua serba mahal coy. Paling sebat di pelataran parkir terus naik lagi, tempat buat ngegosip gratis aja gak hahahaha.  

kerja di kawasan scbd
Kalau lagi butek, lihat sunset aja. 

Karena SCBD di jaga ketat gak ada tukang dagang, orang gak jelas ataupun pengemis. Tapi, tunggu dulu ternyata, SCBD juga ada aja orang-orang seperti itu. Contohnya, saya pernah lagi jalan terus papasan sama orang rapi banget, pake kacamata. Tiba-tiba orang ini nyodorin tangan aka minta-minta dong. Terus ada pasangan suami istri yang lagi jalan kemudian, mereka ini berhenti  buat benerin gendongan si anak. Begitu ada orang lewat, bapaknya bilang "mas bisa tolong bantu saya?" Gak berhenti di situ, malam-malam pernah ada dua anak muda dengan style rapi yang samperin orang-orang yang lagi nongkrong ngerokok. Terus, mereka nawarin barang kaya makanan getuh. Mega kuningan masih ada kantin, di luar gedung dan kantin di mall seberang. Pagi-pagi masih bisa ada tukang dagang karena, tempatnya gak dijaga seeklusif SCBD. 

Baca Juga : Manusia Kampungan di Tempat Kerja

At the end, kerja dimana pun sebenernya sama aja yang penting tempatnya gak toxic dan orang-orangnya menyenangkan. Tapi, harus diakui kawasan SCBD memang punya prestise tersendiri. Apalagi kalau ditanya orang kerja di mana? jawab aja, di SCBD semua orang pasti mikir, "wah pasti kerja di perusahaan gede." Buat saya sih, akses transportasinya yang juara banget karena tinggal turun kereta sambung MRT jalan dikit sampai dah ke kantor. Gak capek, gak ngabisin ongkos dan gak perlu kost.