Resensi When Breath Become Air, Memoar Yang Hambar

Sebenarnya dari judulnya sudah menarik, lengkap dengan embel-embel best seller dan hal itulah yang membuat saya mencoba sebuah novel non fiksi berjudul When Breath Become Air sebuah memoar dari dokter bernama Paul Kalanithi. Buku yang tebalnya hanya 200-an halaman ini, menceritakan mengenai masa-masa terakhir dokter yang terkena kanker.

Sinopsis
Paul Kalanithi adalah seorang imigran dari India, dia berasal dari keluarga menengah ke bawah yang berjuang mendapatkan impian dan cita-cita kehidupan yang layak. Pada awalnya Paul tidak yakin untuk memilih kuliah dijurusan tulis menulis atau kedokteran namun, pada akhirnya ia memilih kuliah kedokteran. Kehidupan Paul bisa dibilang nyaris sempurna, karier yang gemilang membuatnya mendapatkan banyak beasiswa, bahkan menemukan jodohnya Lucy yang juga seorang dokter. Kesibukan sebagai dokter specialist membuat Paul dan Lucy tidak bisa menikmati kehidupan pernikahan mereka, bahkan Lucy sudah menganggap Paul sebasgai suami yang tak pernah ada di rumah. 

Sampai suatu waktu, Paul kerap berkeringat di malam hari dan mengalami penurunan berat badan, sebagai dokter Paul mengetahui ada yang salah dengan tubuhnya, berbagai rekanan didatangi namun, tak ada yang sanggup menemukan penyakitnya sampai satu saat kanker yang mengerogoti tubuhnya berhasil dideteksi. Dari sini Paul mengubah perspektif hidupnya dan mencoba memperbaik semua hal yang terlewatkan, termasuk memperbaikin pernikahan dan kembali menggeluti dunia tulis menulis, dan buku When Breath Become Air adalah buku pertama dan satu-satunya yang Paul tulis.
Resensi

Resensi
When Breath Become Air menggunakan tiga perspektif orang, pada awal buku digunakan perspektif sahabat Paul, lalu pada tengah menggunakan perspektif Paul dan pada akhir Lucy sang istri yang menceritakan akhir perjalanan Paul. 

Saya nggak bisa banyak komplain untuk plotingan atau karakter karena ini kisah nyata dan sebuah memoar pada hari-hari terakhir Paul. When Breath Become Air memang sekilas terlihat nanggung untuk sebuah memoar karena hanya 200-an halaman, kisah hidup Paul Kalanithi pun nggak digambarkan secara detail, hanya pada masa-masa yang menentukan kehidupan sekarang saja. Belum lagi kemampuan Paul untuk menulis buku sangat terbatas, di tengah keadaan fisiknya yang terus drop. 

Lalu apakah When Breath Become Air bagus? Terus terang saya merasa amat bosan! Bahkan dengan hanya 200-an halaman When Breath Become Air ini terasa hampa, sama sekali nggak terasa. Mencoba menyentuh pembaca tapi hasilnya nihil, kok bisa? Salahkan penerjemahnya, menerjemahkan When Breath Become Air secara kaku dan ibarat surat resmi. Bahkan ketika Paul mengumpat pun, alih bahasanya kaku sekali. Sehingga sulit untuk bisa berempati pada Paul, karena saya seakan nggak baca tulisan langsung dari Paul. Anda coba download pdf versi englishnya, pasti akan mengerti maksud saya, kesalahan fatal membakukan buku ini dan bersusah payah mengalihkan gaya bahasa, ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar serta berfaedah. Dalam Memoar setiap orang punya gaya bicara tersendiri dan itu yang nggak ada dalam buku ini, terima kasih sudah membuat Paul Kalanithi mati hanya dengan 30 halaman pertama.

Resensi When Breath Become Air

Tapi When Breath Become Air punya semua yang selera lokal butuhkan, tahukan selera lokal yang low dan mehe-mehe pasti demen cerita semacam ini. Dokter muda sukses, terus kena kanker pas mau modar, buru-buru bikin anak sama istrinya. Sudah lelah sama kisah-kisah inspirashit, yang demen surat kecil untuk Tuhan dan semua novel tukang remake Agnes Donovar pasti demen dah sama When Breath Become Air

1 comment: