Join 1000+ subscribers

Minta Bayar Biaya Melahirkan ke Orang Tua? Malu Donk!

Links to this post
Sebenarnya punya anak berapa pun juga itu adalah urusan pribadi, setiap orang punya keputusan sendiri. Ada mementingkan kualitas banyak juga yang lebih memikirkan kuantitas. Saya melihat sebuah fenomena unik di lingkungan saya, dimana punya anak tapi otak nggak dipake. Kok bisa? Seperti ini kasusnya, ada beberapa anggota keluarga yang bunting dan melahirkan. Terus yang bikin saya heran, mereka ini datang ke Papih untuk minta uang untuk biaya persalinan, terus salahnya dimana?



Tapi Nikah Mehong?

Pertama mahluk-mahluk primitif ini, dulunya kawin mehong dan biaya dari siapa? Bisa kawin mehong tapi nggak bisa mikir kalau nanti melahirkan harus keluar duit banyak, aneh bukan? Saya sudah kerap bilang dari pada gengsi dan pakai alasan nggak enak sama orang tua dan masih banyak hal, padahal memang pengen kawin mehong dan prestise saja. Dasar mindset dubur!


Bukan Anak Pertama
Saya masih bisa toleran kalau untuk anak pertama, anggap saja keluarga baru yang ekonominya belum stabil. Tapi, kalau sudah anak kedua dan ketiga bahkan seterusnya kerap minta uang untuk melahirkan ke Papih pastinya, rada-rada gimana getuh. Memang apa yang dipikirkan mahluk-mahluk primitif ini? Tentunya selain enak wikwik sampai jadi anak. Nggak malu tuh, semua anaknya minta biaya melahirkan ke orang tua? Lain padang lain belalang pula, memang lingkungan rendahan seperti itu. Bisanya wikwik begitu dihajar realitas, bukan usaha malah lari ke orang tua.  

Mikir Nggak Sih?
Dari anak pertama saja, pastinya sudah tahukan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk persalinan. Terus kenapa otaknya nggak jalan, pas mau bikin anak kedua dan seterusnya? Harusnya otaknya dipakai bukan cuma penisnya saja. Nanti biaya melahirkan dapat dari mana? Apa saya punya tabungan atau memanfaatkan BPJS serta asuransi lainnya.

Kenapa Saya Sewot?
Yang bunting siapa tapi yang sewot saya, terus ada juga yang bilang “kan itu bakal jadi ponakan.” Bitch! Kalau si Papih milyuner bisa hambur-hambur duit sih, ngapain juga sewot. Lah ini, pensiunan yang saban bulan ambil uang pensiun di Taspen, masih mau dibebanin sama biaya persalinan? Dan si Papih sudah bayar enam kali!! Empat cucu dari anak pertama dan  dua cucu dari anak terakhir. Mikir nggak sih itu duit bertahun-tahun kerja yang harusnya mungkin bisa dipakai untuk naik haji, malah dialokasikan buat lahiran cucu.  Hitung saja sendiri, kalau sekali lahiran keluar 5 juta berarti sudah 30 juta melayang cuma demi brojol cucu dari orang tua pemalas.

Kultur Sampah
Ada banyak hal yang bikin manusia-manusia sampah ini bisanya cuma wikwik tanpa usaha. Kalau yang saya lihat dari lingkungan adalah faktor kultur, tahu dong kalau kaum kodrun nggak boleh pakai KB, jadinya nggak bisa merencanakan keluarga dan mikirnya kalau duit si Papih itu rezeki si anak yang sudah dijamin sama yang di atas. Padahal Papih juga punya kepentingan lain yang belum terwujud seperti naik haji, tapi anaknya kejebak mindset dari kultur sampah. Sehingga duit pensiun terus saja tergerus habis untuk biaya kawinan dan melahirkan.

Sekarang tuh banyak banget milenial yag seperti ini, kawin mehong tapi setelahnya nggak tahu harus ngapain, nggak bisa modal dari nol harus selalu dibiayain sama orang tua. Sama halnya seperti manusia sampah di lingkungan saya, sudah nikahan mehong dari Mamih dan Papih, lahiran juga dari Mamih dan Papih bisanya cuma shared aja ke sosmed, foto-foto lucu anak.   

Generasi Milenial, Generasi Halu

Links to this post
Minggu ini saya dikejutkan dengan pemecatan COO atau chief of operation di perusahaan saya. Secara personal saya memang nggak lihat apa yang salah karena baru dua bulan berada di perusahaan ini.  COO ini, tergolong amat sangat muda dan masuk ke dalam generasi milenial, umurnya belum mencapai 30 tahun bahkan, baru bekerja selama 1 tahun saja di perusahaan ini.

Yang bersangkutan mengegerkan, whatsapp group perusahaan dengan pengumuman pemecatan dirinya disertai foto surat SP3. Dan sumpah baru kali ini saya melihat surat SP3 pemecatan dengan alasan yang bikin geleng-geleng kepala.  Alasan pemecatan yang tertera di surat SP3 adalah karena, yang bersangkutan memberikan keterangan palsu dan menyebarkan gosip-gosip yang menganggu kinerja karyawan lain. I was like holly fak! Alasan macam apa itu?

yasha nomiva save enigma

Besoknya semua orang dalam divisi produksi, konten dan HRD berkumpul untuk membahas berita menghebohkan tersebut. Akhirnya borok si COO ini terbongkar satu demi satu dimulai dari HRD lalu karyawan lain pun ikut membuka aib COO milenial ini. Ternyata yang bersangkutan manipulatif banget atau bahasa kerennya halu banget! Jadi COO milenial ini, ngaku ke CEO atau owner dari perusahaan kalau dia mengerjakan semua hal, padahal faktanya dikerjakan oleh orang lain. Lalu COO ini akan bilang ke semua bawahan untuk mengerjakan suatu tugas yang disuruh dari CEO, padahal CEO sama sekali nggak pernah nyuruh atau bilang. COO ini selalu bilang nggak pernah dapet reimburse, faktanya dia selalu minta reimburse terhadap pengeluaran. Paling parah, COO ini menahan kenaikan gaji karyawan dengan berbagai alasan, sementara dia sendiri minta naik gaji ke CEO sampai tiga kali hingga nominal gajinya dua digit loh! Setelah dipecat, COO milenial ini menggila di sosial media bahkan, dengan lantang berani menyebutkan bahwa, dialah yang membangun perusahaan dan melakukan semua pekerjaan dari hal remeh seperti bersih-bersih sampai rekrut karyawan. Halu bangetkan, sementara karywan lain yang membaca langsung kesel. COO milenial ini halu jadi orang sukses, seolah-olah dia adalah pribadi profesional seperti para pendiri start-up terkenal. Padahal setelah saya googling Linkeindnya, COO ini baru bekerja selama dua tahun setelah lulus kuliah.

Kenapa Banyak Milenial Yang Halu?
Ketemu kaum milenial yang halu bukan hal baru buat saya, tapi baru kali ini saya nemu milenial halu untuk terlihat sebagai profesional yang sukses. Biasanya milenial halu, sok tajir getuh dah. Pamer ini dan itu di sosmed padahal bukan miliknya, terus ada milenial halu endon, itu loh yang upload kawinan mehong, terus semua tentang keluarganya diupload, padahal semuanya disubsidi mami sama papih belum lagi pas punya anak aja langsung disewain baby sitter. Nggak pusing ngurus apapun tapi bikin pencitraan seolah-olah, sukses menyeimbangkan karir dan keluarga, padahal dompet orang tua menopang kuat di belakang.

Kenapa banyak banget generasi milenial yang halu yah? Karena mereka ini tumbuh di zaman serba terkoneksi dan melihat banyak hal yang mereka inginkan namun, kaga ngerti gimana cara mendapatkannya. Menciptakan persepsi khalayak di sosmed, sesuai dengan apa yang diinginkan bagaimana pun caranya. Makanya buat generasi milenial mending jauh-jauh dari sosmed, dari pada jadi halu. By the way, COO yang dipecat ini pernah jadi speaker di TED loh!   

Baca juga kaum halu lainnya di bawah ini :   
   

Manusia Santai dan Nggak Pernah Upgrade Diri

Links to this post
Jadi waktu saya pulang, menemukan sepetak tanah di balkon atas di tutupi sama marmer kenapa? Karena kelinci saya senang banget gali tanah di situ. Biasanya, saya suka beresin dan tutupi kembali bekas galian si Jappy. Namun, karena belakangan ini saya jarang pulang sepertinya nggak ada yang mau melakukan hal tersebut, alhasil sepetak tanah itu ditutupi oleh marmer lantai. Kelihatan aneh dan norak pake banget! Ada tanah ditutupi sama marmer lantai.

Memang apa susahnya membersihkan sepetak tanah dan menimbun kembali? Nggak pake tenaga berat kok, cukup sekop taman dan nggak perlu waktu lama pula. Bahkan, hal tersebut nggak pantas dibilang ribet. Tapi, apa mau dikata. Saya tinggal dengan manusia yang biasa santai dan bekerja pada tempat dimana tidak mengenal kata dipecat! Jadi biasa santai dan nggak perlu mikir berat apalagi, upgrade diri dan skill biar nggak dipecat sama perusahan. Datang ketak-ketik bentar terus ngerokok, ngalor-ngidul sama teman terus pulang.

Hasilnya adalah, sebuah pribadi pemalas yang nggak pernah mau mikir panjang, otaknya nggak pernah terasah untuk mencari solusi terbaik. Liat tanah sepetak berantakan saja, langsung ditutupi sama marmer. Nggak mau susah payah buat mikir, kenapa kelinci suka gali tanah? Apa lagi googling cara terbaik, langsung aja pake pikiran dangkal buat tutupin pake marmer.

Sebelas dua belas dengan kasus tanah sepetak di balkon, saya belum lama ini mensewa sebuah kamar dan bekas pegawai dari tempat nggak bisa dipecat menemukan lemari tua yang dalamnya di lapisi kertas dan karton. Mungkin maksudnya biar nggak kotor tapi, jadinya seperti gembel banget dan menambah kesan kumuh, dimana lemari dilapisi koran dan karton plus lakban hitam. Saya langsung bengong, seberapa pemalas sih tipikal orang yang bekerja di tempat dimana mereka nggak bisa dipecat? Maunya mencari solusi yang gampang dan mudah saja tapi nggak berguna.

Saya pun mencabut kertas dan karton tersebut lalu mencari lewat toko daring wallpaper dinding dan anda tahu apa? Harga wallpaper dinding tersebut cuma 10 ribu perak saja! Plus punya motif yang cantik dan bisa dicabut dan dibersihkan. Begitu lihat kamar mandinya saya pun bergidik sepertinya nggak pernah disikat atau dibersihkan lalu, ada pertanda tipikal manusia mindset jongkok yang nggak pernah upgrade yakni, sebuah tali tambang melintang. Saya yakin orang tersebut memakai tali untuk menggantung handuk atau yang lainnya. Padahal kalau otaknya mau dipakai, tinggal pencet apps toko daring dan cari handuk hanger. Handuk hanger harganya cuma 13 rebu saja, yang 50 rebu aja udah mewah banget.   

Setelah saya tanya pada kamar sebelah, orang yang sebelumnya menempati kamar ini sudah dua tahun tinggal. Tinggal selama itu nggak pernah kepikiran buat cari wallpaper dinding dan hanger handuk di toko daring? Parahnya selama itu betah dengan keadaan seperti itu? Apa mau dikata terbiasa ada di lingkungan santai dan nggak pernah upgrade diri jadinya begitu.


      

Follow by Email Untuk Ebook Novel Gratis

VIVA ID

statistics

Facebook Me

Instagram

Instagram
Follow Me

Blog Archive

Powered by Blogger.

.

.