Facebook Me

Join 1000+ subscribers

download untuk Gramedia digital best romance novel

Resensi Firefight : The Reckoners Trilogy Sekuel Dengan Sub Plot Dalam Plot Utama?

Related Posts

Setelah membaca Steelheart yang bikin takjub sekaligus berat, saya memang nggak langsung pindah ke buku kedua The Reckoner Trilogi : Firefight dan beruntung punya banyak waktu luang dalam masa WFH ini sampai akhirnya berhasil menamatkan Firefight. Buku setebal 500an halaman ini memang nggak gampang buat dituntaskan, berbeda dengan buku fiksi dystopia lainnya The Reckoner Trilogy butuh otak cerdas buat mencerna.

Resensi Firefight : The Reckoners Trilogy

Sinopsis

Firefight dibuka dengan cerita David setelah berhasil membunuh high epic Steelheart, otomatis dia menjadi semacam selebritis sekaligus pahlawan di Newcago namun, setelahnya banyak epic lain yang datang untuk membantai The Reckoners. Untuk menghentikannya, Profesor membuat rencana membunuh high epic yang memerintahkan epic lain datang ke Newcago. High epic itu bernama Regalia dan mempunyai kekuatan untuk memanipulasi air bahkan, mampu untuk menenggelamkan kota Manhattan yang setelahnya disebut Babilar.

Resensi

Kalau ada yang pernah baca buku terus merasa puas, maka saya sarankan untuk baca Firefight ini. Seri kedua  dari The Reckoners Trilogy beneran nggak bisa ditebak, setiap masuk bab baru bakal disuguhi jalinan cerita yang nggak terbayangkan. Parahnya Brandon Sanderson, masukin berbagai sub plot ke dalam Firefight. Jadi saat baca plot utama  membunuh Regalia, kita masih disuguhkan berbagai sub plot

 seperti:

1.Plot membunuh epic Obliteration, Newton dan epic lain yang menjaga Babilar.

2.Plot rahasia kota Babilar,

3.Plot hubungan professor dengan Regalia,

4.Plot kisah cinta David dan Megan,

5.Plot kelemahan semua epic sampai rahasia Calamity.

Bayangkan semua itu dimasukan ke dalam satu buku! Bukan tanpa sebab sih, kenapa banyak banget sub plot yang dimasukan ke dalam Firefight. Brandon Sanderson sepertinya, nggak mau The Reckoners Trilogy ini jadi seperti buku dystopia lainnya yang beranak pinak, cukup trilogy saja. Imbasnya dalam satu buku harus banyak informasi yang dimasukan, semua informasi ini dijadikan sub plot dalam plot utama. Memang Firefight jadi nggak membosankan tapi, saya capek bacanya bahkan, sampai harus istirahat beberapa hari.

Beruntung semua sub plot ini nyambung ke plot utama bahkan, jadi benang merah atas semua yang terjadi di dunia The Reckoners. Saya nggak habis pikir gimana caranya, Brandon Sanderson bisa bikin sub plot di dalam plot utama yang ujungnya nyambung.  Belum lagi, mikirin gimana tokoh utama si David bisa nemuin kelemahan setiap epic yang dilawan, sumpah Firefight ini cerdas banget.

Kalau masih kurang sama plotnya yang melimpah, Brandon Sanderson juga masih kasih plot twist di ending. Yang semula dikira mau membunuh Regalia ternyata, malah membuat epic baru yang ada saya melongo bacanya. Otak udah nggak bisa mikir ini cerita mau kemana, jangankan mikirin alur cerita. Mau nebak kelemahan semua epic yang dilawan David aja susah, ujungnya pas epic itu mati saya harus kembali buka halaman di belakang biar ngeh kapan si David tahu kelemahan epic itu.     

Overall Firefight ini beneran 100% ngandelin kekuatan plotingan jadi, jangan hara pada kata-kata puitis, kegemaran readers lokal, malahan nggak ada quote yang bisa diambil dari Firefight dan roman antara David sama Megan pun nggak kerasa romantisnya karena memang cuma sub plot saja. Buat kamu-kamu yang biasa baca buku lokal best seller yang isinya, plot cerita remeh temeh cuma modal kata-kata puitis sama setingan borju pasti mampus otak meleduk baca Firefight.



Baca Juga : Resensi Steel Heart : The Reckoners Trilogy
Related Post

Analisis dan Review Telat Film 5 cm yang Cringe Abis!

Related Posts
Sumpah telat banget yah, baru nonton film 5 cm yang dirilis pada tahun 2012 ini. Sebenarnya dari dulu nggak sempat nonton dari baru ingat pas WFH karena ngubek-ngubek film lokal buat ditonton. Ternyata film 5 cm ini ada di hardisk dan sudah mengendap selama bertahun-tahun. Setelah saya menonton film 5 cm langsung menyesal sejaligus merasa beruntung tahun 2012 nggak ikut menyumbang pemasukan untuk film gejebo ini.  Kok bisa saya bilang film 5 cm ini gajebo? Simak penjelasan saya berikut ini.

analisis film 5 cm
Mahluk-mahluk ini mau naik gunung apa ke luar negeri sih?


Ini Video Klip Apa Film Sih?
Begitu masuk opening title dan nama Rizal Mantovani muncul, langsung saya merasa malas nonton film ini. Kelemahan utama mantan sutradara video klip tahun 90an ini, hampir sama di semua film-filmnya yakni, Rizal Mantovani nggak bisa membuild suatu cerita secara utuh dalam bentuk scene. Penyakitnya sama, termasuk film 5 cm ini yang cuma jumping dari satu scene ke scene lain mirip video klip. Parahnya dalam 5 cm banyak banget insert atau beauty shoot yang dirasa nggak perlu, mending kalau itu beauty shoot. 

Cinematography Keroyokan!
Film 5 cm ini pun diperparah dengan cinematography keroyokan! Maksudnya, cinematography nggak konsisten dari satu scene ke scene lain, ada yang yellowish pas scene kereta, terus greynish pas scene di gunung dan pas adegan di kota Jakarta beda lagi. Ini sih kelihatan banget kalau diambil sama tim produksi yang berbeda-beda. Jadinya saya seakan nonton film yang ditempel dari berbagai sutradara dan ini tergolong parah untuk sebuah film layar lebar.

Cringe!
Selain itu tokoh Zafran yang menurut saya cringe habis dan Arial yang serasa cuma tempelan. Banyak banget scene yang dipaksa buat jadi memoriable, dimasukin scoring mendayu-dayu ujungnya malah cringe. Padahal film 5 cm termasuk dalam kategori film coming age bukan film cinta menye-menye, lagi-lagi Rizal Mantovani gagal untuk bisa membawa soul persahabatan yang ada di dalam buku ke layar lebar. 

Kalau kalian ingat sebelumnya pada tahun 2004 ada juga film dengan kisah  persahabatan yakni, Mengejar Matahari. Nah, seharusnya 5 cm bisa konsisten dengan tema persahabatan bukan, malah kelihatan bingung mau jadi film romantis atau coming age? Saya sanksi sutradaranya mengerti makna buku 5 cm.

Menurut saya dalam film 5 cm ini justru yang mencuri perhatian dan malah dapat porsi besar Genta dan Riani. Kalau mau begitu naskahnya sekalian di rombak saja dan fokus sama kisah cinta mereka berdua, padahal novelisnya ikutloh jadi writer script tapi kok amburadul begini?

Malas Riset
Adaptasi mentah dan parah Rizal Mantovani ini pun terlihat ketika scene di gunung. Tahukan ketika film 5 cm keluar banyak banget yang protes buat berbagai adegan naik gunung. Sepertinya sutradara video klip ini, nggak ambil pusing buat riset gimana etika dan adab naik gunung. Saya sendiri ketawa ketiwi pas adegan naik gunung, rombongan ini terlihat seperti mau keluar negeri dari pada naik gunung.

Buat saya 5 cm termasuk film gagal adaptasi bahkan, saya nggak tahan buat nonton sampai habis. Capek dan cringe abis film 5 cm ini. Saran saya sih kalau memang mau bikin sekuelnya, pleaselah jangan pakai Rizal Mantovani lagi.      

Related Post

Influencer Buat Program Bantuan Bayi Tabung? Mending Adopsi Saja!

Related Posts

Minggu kemarin baca seorang influencer mau bikin semacam program sosial bayi tabung. Betul saudara-saudara, influencer ini mau bikin program bantuan bayi tabung bagi yang nggak mampu kenapa? Karena dia baru saja berhasil dapat anak lewat program bayi tabung. Saya yang baca langsung mengerenyitkan dahi, gila! Negara ini isi orangnya low semua yah. Sekalipun influencer ini melakukan hal tersebut akibat dari bernazar.

Pernah Mikir Kenapa Kamu Susah Dapet Anak?

Lah kok saya sewot? Pernah mikir nggak sih kenapa ada orang-orang yang nggak dikasih atau dipersulit untuk mendapatkan rezeki anak? Mungkin di sini saatnya rada mikir karena, banyak di lingkungan kita anak-anak hasil perkembangbiakan tak terkendali penduduk Indonesia yang kurang beruntung. Mereka ada di setiap persimpangan jalan dan panti asuhan. Mungkin dengan nggak dapet atau dipersulit, supaya bisa melek dengan anak-anak ini, supaya mau berbagai rezeki dan kasih sayang dengan anak-anak kurang beruntung ini dengan cara adopsi! Bukan malah mempromosikan bayi tabung.

Terlebih di Indonesia yang sudah overpopulation, dimana banyak anak terlantar bahkan, anak-anak di panti asuhan saja nggak terjamin hidupnya karena, umumnya orang sini cuma mau adopsi anak lelaki berkulit putih dan ganteng. Sisanya anak perempuan dan berkulit gelap, terpaksa harus menelan pil pahit hidup selamanya tanpa kasih sayang orang tua di panti asuhan.

Alangkah baiknya, kalau nazar diganti dengan membantu anak-anak terlantar dan yatim piatu. Bukan malah mendorong orang untuk ikutan bayi tabung sementara di sekitar lingkungan mereka banyak anak-anak terlantar dan yatim piatu. Itu duit buat bikin bayi tabung, bisa dipakai kasih makan berapa anak terlantar dan yatim piatu?

Warga +62 Langsung Ke-trigger

Saya tahu banyak otak jongkok, pasti ketrigger dan bawa-bawa agama. Tapi, apakah adopsi dalam agama dilarang? Justru dalam agama anak-anak yatim  harus didahulukan dan adopsi pun diperbolehkan, semua sudah ada aturannya dengan jelas. Saya sudah sering mendengar otak jongkok, bilang kalau anak asli lebih baik karena doanya mujarab dan bla..bla..bla. Padahal anak adopsi pun sama saja, kalau dibesarkan secara baik dan soleh, semua doa-doanya sama mujarabnya. Dan ini semua sudah ada penjelasanan dalam agama. Namun, penduduk negara berkembang ini malah menganggap adopsi adalah sebuah aib, bukan hal baik yang harus dilakukan.

Saya sendiri berharap suatu saat nanti dikasih rezeki lebih buat bisa adopsi dan berharap dapat pasangan yang nggak jongkok seperti mayoritas penduduk Indonesia. Buat saya semua anak sama saja, mau item kek, mau putih, mau laki-laki ataupun perempuan.  Mau dari panti asuhan maupun jalan semuanya sama saja.

Baca Juga : Drama Hijabers Psycho 

Baca Juga : Generasi Milenial, Generasi Halu


Related Post

Review The Sun Is Also a Star : Plot Tipis dan Adaptasi Gagal

Related Posts
Film The Sun Is Also a Star ini udah lama masuk list must watch saya karena bukunya, sempat nghype di hampir semua akun bookstagram. Sayangnya The Sun Is Also a Star ini nggak masuk bioskop lokal jadi, kudu sabar nunggu bluray. Kalau dari segi cerita memang nggak menawarkan sesuatu yang baru sebab, plot The Sun Is Also a Star ini sama seperti six degrees of separation bahkan, The Sun Is Also a Star bisa dibilang versi cinta dari six degrees of separation.

Review film The Sun Is Also a Star

Gagal di Box Office
Adaptasi dari buku populer plus muncul Charles Melton aka Reggie mantle dari serial Riverdale. Film The Sun Is Also a Star diprediksi bakal booming! Tapi, nyatanya The Sun Is Also a Star malah gagal di box office padahal budget film The Sun Is Also a Star tergolong low banget cuma $7 juta dollar saja. Bahkan hampir nggak bisa balikin modal awal, kalau nggak ditambah pemasukan dari DVD bluray dan streaming.

Gagal Adaptasi dan Plot Tipis
Kok bisa film The Sun Is Also a Star ini ambruk di pasaran? Setelah saya tonton wajar saja sih karena,  film The Sun Is Also a Star ini menderita gagal adaptasi sebab, plot cerita tipis banget! Bahkan banyak beauty scene ditambah lagu-lagu kece dimasukan ke dalam film ini. Padahal durasi film cuma 1.40 menit saja bayangkan kalau semua beauty scene romantis dan beauty scene kota New York dihapus bisa cuma satu jam saja. 

Plot tipis diperparah dengan banyak flashback scene, buset dah! Udah tempelan beauty scene bejibun masih juga disuguhin flashback scene. Bayangkan cuma punya satu hari buat bikin cewek jatuh cinta tapi, nggak kerasa banget tuh aura deg-degan sama keburu-burunya, malah durasi 1.40 menit kerasa membosankan.

Kita juga nggak bisa simpatik sama karakter Daniel Bae dan Natasha. Karena dua-duanya missleading banget! Bayangkan Natasha yang keluarganya imigran miskin dari Jamaica tapi, gaya kece dan perlente bak tinggal di 5th avenue saja kemudian, Daniel Bae keluarga imigran Korea yang punya toko rambut khusus black people. Konlfik di keluarganya serasa hambar dan kakanya sama sekali nggak mirip orang Korea, itu mah orang Chinese please! Plot tipis bikin kedua karakter utama nggak bisa berkembang, jangan heran kalau chemistry Daniel dan Natasha malah kerasa janggal banget beud! Kek maksa buat fall in love dalam satu hari.         

Sinematografi Kece Abis!
Terlepas dari gagal adaptasi, film The Sun Is Also a Star punya kelebihan di sinematografi. Sumpah sinematografi film ini itu kece badai, padahal perkotaan tapi semuanya apik dan colornya pas banget. Bahkan, sinematografi indoornya pun keren, pas adegan di dalem karaoke pun simatografinya nampol antara natural light sama ambience colour Riverdale getuh.

Review film The Sun Is Also a Star

Menurut saya film The Sun Is Also a Star ini, lebih pas buat Netflix ketimbang layar lebar. Sayang banget screen writernya nggak ngerti gimana ngangkat cultural mix antara cewek kulit hitam sama cowok asia yang ada, malah gambar bagus tapi, cerita hambar banget.  

Related Post

Alasan Kenapa Saya Parno Dengan Mi Account dan Xiaomi Cloud?

Related Posts
Untuk para pengguna Xiaomi pastinya hapal jika brand ini, mempunyai fitur dan layanan yang mirip Iphone dengan icloudnya. Xiaomi punya Mi account dan Xiaomi cloud buat para penggunanya. Sebenarnya, haruskah kita menggunakan Mi account dan Xiaomi cloud ini pada saat menggunakan smartphone dari Xiaomi? kalau secara peribadi saya sih lumayan parno, kok bisa begitu? Mari kita simak penjelasan kenapa saya nggak pernah mau log-in ke Mi account dan Xiaomi cloud, apa lagi sampai back up semua data ke Xiaomi cloud.

Xiaomi diretas China

Fungsi Mi account dan Xiaomi cloud

Sebenarnya apa sih fungsi dari Mi account dan Xiaomi cloud?  Mi account diharuskan agar kita bisa mengakses Xiaomi cloud dan fungsi Xiaomi cloud sendiri kurang lebih sama dengan icloud, dimana kita bisa menyimpan kontak, foto, seting dan backup berbagai data  via cloud. Selain itu dengan mengaktifkan Xiaomi cloud, kamu bisa tracking smartphone. Xiaomi cloud memberikan akses pada fitur find device, andai kata smartphone Xiaomi kamu dicopet maka bisa dengan mudah mengetahui lokasi serta mengamankan data-data di dalamnya. 

Mi account dan Xiaomi cloud pun berfungsi banget, kalau kita ganti smartphone. Cukup login ke Xiaomi cloud maka semua setingan dan data, bisa dipulihkan ke smartphone lain tanpa harus pusing mindahin data satu persatu dan seting ulang smartphone baru kamu.

Kenapa Saya Nggak Berani Pakai Mi account dan Xiaomi cloud?

saya sendiri sudah terbiasa dengan icloud tapi, untuk Mi account dan Xiaomi cloud sama sekali nggak pakai. Kenapa? Karena ada isu thrust dengan brand asal Tiongkok ini. Kita semua sudah tahu bagaimana negara China dalam menghadapi privacy data, sebagai negara komunis dengan partai tunggal. China sama sekali nggak menghargai privacy semua warganya. Dan saya yakin 100% kalau negara China punya kewenangan untuk bisa mengakses semua data dari brand Xiaomi demi kepentingan negara. 

Lalu bagaimana dengan Icloud dari Iphone bukankah sama saja? Memang benar Iphone pun mengintip data kita namun, itu hanya sekadar untuk customize iklan yang akan tampil di berbagai apps bukan data kita secara keseluruhan. Sebab Iphone berasal dari Amerika yang mempunyai privacy policy untuk customers. Masih ingat dengan kasus Facebook dan Google yang disidang oleh dewan perwakilan Amerika karena diduga mengintip data para penggunanya?

Sementara untuk Xiaomi, mana mungkin disidang oleh pemerintah China karena mengintip data penggunanya? Justru pemerintah China akan memanfaatkan brand ini untuk mengumpulkan berbagai data demi kepentingan negara komunis tersebut. Pastinya, banyak yang bilang brand Xiaomi ketika memasuki negara lain bakal mematuhi privacy policy untuk customers. Memang betul on paper brand Xiaomi berkewajiban mematuhi privacy policy namun, apakah kamu yakin pemerintah China nggak minta buat ngintip data-data?  

Xiaomi di Amerika dan Eropa

Xiaomi sendiri di Amerika dan eropa berada dalam rules yang ketat, salah satunya dengan restricted provider and carrier serta penyesuaian google. Artinya produk Xiaomi yang dijual di Amerika dan eropa harus dapat certified by Google with native Google Android. Xiaomi versi ini sudah dipastikan oleh google dan pemerintah setempat aman dari proses mengintip sementara, di Indonesia justru sebaliknya, Xiaomi bisa leluasa lenggak-lenggok dengan ROM asli yang kita nggak tahu isinya apa saja? 

Tentunya masih ingat dengan kasus Huawei yang ditendang dari Amerika dan dilarang pakai OS android bukan? Hal ini disebabkan perangkat Huawei dirasa nggak aman oleh pemerintah U.S dan nggak punya versi certified by Google with native Google Android. 

China retas Xiaomi Cloud

Maka dari itu saya lumayan parno dan nggak aktifkan Mi account dan Xiaomi cloud sekalipun pakai Redmi 7A. Padahal kalau dipikir-pikir, saya juga bukan siapa-siapa dan apa sih yang bisa diintip dari data saya? Palingan cara dapetin kouta gratis dan donlot pelem gratis. Tapi gimana kalau yang pakai Xiaomi orang penting? 

Related Post

Cara Menghilangkan Iklan di Redmi 7A Tanpa Root

Related Posts
Salah satu penyakit Redmi 7A adalah banyaknya iklan yang bertebaran di user interface, sebagian besar iklan ini disisipkan ke dalam user interface aplikasi yang sering kita pakai seperti, music player, video player bahkan pada tampilan home screen shortcut. Lama-lama bikin kesal, apa lagi kalau iklan yang tampil adalah iklan lokal seperti aplikasi judi lokal yang gambar-gambarnya cewek seksi, belum lagi pas di video player kadang suka maksa kita untuk nonton video yang entah dari mana. 

Iklan di Dalam Interface Aplikasi Redmi 7A

Tapi Xiaomi masih baik karena iklan di Redmi 7A, cuma tampil di user interface bukan pop up seperti brand sampah Advan. Karena iklan-iklan ini tampil di bloatware dari Xiaomi, sahya kira tadinya Redmi 7A ini harus di root terlebih dahulu. Ternyata setelah riset, untuk bisa menghilangkan iklan di Redmi 7A cukup men-nonaktifkan saja aplikasi MSA.

Apa Itu Aplikasi MSA dari Xiaomi?

Apa itu aplikasi MSA? Sebuah aplikasi besutan Xiaomi yang kerap kali disematkan di smartphone murah mereka seperti Redmi 7A. MSA apk ini berfungsi sebagai push notifikasi untuk menampilkan iklan di dalam Redmi 7A, untuk menghapus aplikasi MSA harus di root terlebih dahulu nggak bisa langsung uninstal. Untungnya aplikasi ini bisa dihentikan fungsinya secara langsung.    

Cara Menon-aktifkan Aplikasi MSA

cara menghilangkan iklan di redmi 7A

Untuk menghilangkan iklan di Redmi 7A cukup pergi ke setting - manage apps - cari aplikasi msa. Kalau nggak nemu langsung saja ketik di kolom search msa nanti akan muncul sendiri. 

aplikasi msa di xiaomi

Cara mematikan aplikasi msa di Redmi 7A adalah dengan turn off data di bagian restric data usage. kalian juga bisa menghentikan dengan force close walaupun ada yang bilang, aplikasi msa ini kalau di force close bikin beberapa bloatware nggak jalan. Setelah itu redmi 7A sudah bersih dari iklan-iklan yang menganggu di beberapa aplikasi bawaan atau bloatware.

aplikasi msa di xiaomi

Sebenarnya selain menganggu, apa sih fungsi kita mematikan msa sehingga nggak ada lagi iklan? Ingat msa adalah push notification yang menarik iklan dari luar ke dalam Redmi 7A. Artinya msa menggunakan kouta tanpa kita ketahui, belum lagi msa ini bukan sekadar push notification karena, dari file size sebesar 14MB terlalu besar untuk sebuah aplikasi push notification. Saya mencurigai msa ini mempunyai tugas lain seperti mengumpulkan data-data dari pemakaian handphone sebab, selama ini iklan di Redmi 7A yang muncul di bloatware nggak sama dengan minat atau history browser saya. Iklannya random banget seolah acak tapi, untuk aplikasi yang menarik iklan secara random nggak perlu sampai sebesar 14MB. 

iklan di redmi 7A
Berikut tampilan bloatware di Redmi 7A yang sudah bersih dari iklan, biasanya iklan selalu muncul pada ketiga bloatware ini yakni, shortcut home screen, music player dan Mi video player. 


    

Related Post

Review Ala Kadar Redmi 7A, Smartphone Hebat Harga Satu Juta Saja.

Related Posts
Setelah Iphone SE mengalami kerusakan dan selalu restart maka, nggak ada pilihan selain lem biru alias beli baru. Tadinya pengen balik ke Iphone lagi tapi, berhubungan sedang bokek apalah daya harus melipir ke android. Dan pilihan saya dengan budget seadanya jatuh pada Redmi 7A, smartphone ini bisa tuker guling sama Iphone SE tanpa biaya tambahan loh. Setelah hampir satu bulan beradaptasi dengan android, akhir saya tulis review Redmi 7A ini walaupun, smartphone murah namun, Redmi 7A ini bisa dibilang nggak murahan dan jangan harap review detail yah karena, Redmi 7A ini bukan produk baru jadi, sudah banyak review detail yang bertebaran. Saya cuma mau review secara singkat saja.   

Review Redmi 7A Indonesia


OS 9 yang Mirip iOS 13.4

Yang pertama jadi pertahian saya adalah OS versi 9 yang ternyata mirip banget sama iOS 13.4. Terus terang saya rada kaget juga sih, soalnya terakhir pakai android adalah versi 6 atau marshmallow. Mulai dari swipe kanan buat balik sampai adanya quick ball yang niru assistive touch, full screen mode pun sama seperti iOS. Sayangnya setting OS android versi 9 ini ribet banget, beda dengan  iOS 13.4 yang simple. Butuh beberapa lama buat saya dalam mempelajari setingan  OS android versi 9 sementara waktu pertama kali pakai Iphone, cepet banget belajar iOS. 

OS versi 9 ternyata smooth banget, beda jauh sama versi 6 atau marshmallow yang lemot dan suka ngehang. Perpindahan dari satu apps ke apps lain nggak ada kendala, padahal RAM Redmi 7A cuma 2GB. Beda waktu zaman marshmallow dengan RAM 3GB saja, suka lemot dan bahkan sering force close.  Sayangnya Redmi 7A ini masih punya penyakit khas android yakni, tetap harus clear cache! Biasanya ada notif pas cache sudah menumpuk sementara Iphone dengan iOS-nya nggak perlu clear cache. 

Selain OS versi 9 Redmi 7A ini pun punya sistem ROM MIUI Global 11.0.7 dengan berbagai fitur bawaan dari Xiaomi. Secara user interface sih masih kalah dengan Iphone yang clean dan sleek, belum lagi ROM Redmi 7A ini dijejali berbagai bloatware yang mengandung iklan. Namun, beberapa fitur seperti second space, lock apps dan lampu led bikin Redmi 7A ini berhasil keluar dari kategori smartphone murah miskin fitur. 

Overall, Redmi dengan RAM 2GB dan  OS android versi 9 ini gesit serta mulus, semua aplikasi berat semisal Trello dan Google doc bisa terbuka dengan sempurna. kalau tanya game semisal pabji dkk, mohon maap saya bukan bocil jadi nggak main. Qualcomm SDM439 Snapdragon 439 yang disematkan ke dalam Redmi 7A ini memang dikhususkan untuk multi tasking dan power saving bukan untuk best performance

Dengan memori yang cuma 16GB Redmi 7A ini, memaksa saya untuk mikir dua kali untuk instal apps sebab, memori 16GB android berbeda dengan 16GB Iphone. Memori android bakal cepat penuh dikarenakan, sistem android dengan cache-nya. Dalam sehari pemakaian normal saja, cache yang saya hasilkan berkisar 700MB - 800MB bayangkan untuk pemakaian seminggu. Untungnya penyimpanan video dan foto bisa dipindahkan ke SD card dan ada fitur clear cache while lock.

Kualitas Foto Seadanya

Kualitas foto dengan embel-embel AI ini seadanya dan cuma bagus di siang hari dengan, kamera belakang 13MP hasilnya nggak sebanding sama Iphone SE yang cuma 12MP walaupun bukaan dan sebagai di Redmi 7A nggak bisa dibandingkan sama Iphone SE. Fitur AI foto baru pertama kali saya pakai di android, dimana foto akan menyesuaikan dengan objek, kalau dulu kita harus pilih manual untuk setingan berbagai kondisi. 

UI interface kamera Redmi 7A pun sama dengan Iphone cuma minus slow mo saja, digantikan dengan fitur PRO. Yang mana setelah saya coba, hasilnya cuma mencerahkan foto bukan memperjelas detail. Mending pakai  filter sekalian, ketika diproses editing. Kamera depan yang 5MP lebih parah, untuk fokus saja butuh beberapa detik dan kualitasnya standar banget. Sementara untuk video sudah 1080p baik depan maupun belakang, sayangnya cuma berjalan di 30fps saja.  

hasil foto malam hari Redmi 7A

kualitas foto Redmi 7A


Redmi 7A ini punya beberapa kekurangan yang dirasa lumayan menganggu, seperti :
1. Automatic brightness yang kacau banget. Pas di dalam ruangan kontras langsung menurun sampai layar kelihatan gelap banget, saya harus seting kontras layar manual. 
2. Terus setingan notifikasi di lock screen yang super duper ribet! Parahnya, notifikasi ini nggak bisa stay di lock screen jadi, kalau swipe ke bawah dari notification bar langsung hilang tuh notif di lock screen, padahal cuma diintip sama sekali nggak dibuka. 
3. Redmi 7A ini juga nggak punya fast charging jadi, kalau ngecash kudu nunggu lama banget. Mana baterainya sampai 4000 mAh
4. Kualitas foto yang standar  
5. Memori yang cuma 16GB dan kudu di root kalau mau mindahin apps ke SD card.

Kalau dibandingkan sama Iphone SE memang jauh tapi, saya nggak menyesal membeli Redmi 7A untuk pemakaian sehari-hari karena selain hemat baterai untuk seharian, Redmi 7A ini pun gesit dalam membuka berbagai apps yang saya butuhkan, nggak ada lagi kata lemot. Kualitas foto yang ala kadar dan setingan yang bikn mumet, dirasa bukan kekurangan berarti. Apa lagi kalau disandingkan dengan harga yang cuma satu juta rupiah saja.    


Related Post

Follow by Email Untuk Ebook Novel Gratis

Blog Archive

VIVA ID

Popular Artikel

Total Pageviews

Ini Baru Loh

Review Mini Air Cooler, Pas Banget Buat Kamar Kost

Enam tahun yang lalu saya pernah mereview air cooler yang pada waktu itu digunakan untuk kamar kost dan seharga nyaris satu juta rupiah.  ...

Powered by Blogger.

.

.

Search This Blog