Join 1000+ subscribers

Biasa Santai Sampai Nggak Mau Mikir

Links to this post
Kalau seumur hidup biasa santai dan nggak pernah upgrade diri, jadinya begini. Pasti selalu ambil jalan paling mudah dan gampang, nggak mau mikir jalan atau cara yang paling benar. Sama halnya seperti waktu saya pulang ke rumah dan nemu halaman teras penuh dengan sampah kotoran kelinci serta barang bekas. Rumah jadi kelihatan seperti kandang babik dan nggak ada yang peduli? Semuanya cuma buang sampah saja, nggak mau mikir seperti jual barang bekas atau cari tukang loak dan untuk kotoran kelinci bisa dimanfaatkan jadi pupuk sementara untuk sisa makanan kelinci seperti hay bisa dikumpulkan dan dibuang ke tempat sampah.

Sampah kotoran kelinci yang dibuang sembarangan, apa susahnya mikir cara terbaik buat buang sampah kotoran kelinci? Kalau nggak tahu tinggal googling dari pada buang sembarangan jadi bau dan kotor banyak lalat dan cacing. Parahnya nggak perduli lagi, santai aja terus.

Kenapa Nggak Mau Mikir?

Kenapa orang-orang ini nggak mau mikir? Cuma pengen gampangnya saja buang sembarangan. Simple sih, orang-orang ini biasa kerja di tempat yang nggak bisa dipecat, nggak pernah otaknya dipaksa upgrade diri untuk mengikuti perkembangan zaman, apalagi dipakai mikir buat kemajuan. Kalau datang ke tempat kerja lebih banyak santainya dari pada sibuknya, kerja asal dan malas pun tetap naik pangkat dan dapat gaji.

Imbasnya seperti ini, otaknya nggak pernah dipakai untuk cari solusi terbaik, maunya cuma cari solusi yang mudah dan gampang terus rebahan dah. Memang apa susahnya cari tukang loak? Memang apa susahnya sih ke internet buat cari, cara memanfaatkan kotoran kelinci? Dari pada asal buang sampah dan rumah jadi kelihatan seperti kandang babik! Kalau sibuk dengan pekerjaan sih, bisa dimaklumi tapi, ini yang di rumah saja santai dan nggak ada beban tapi buang sampah aja sembarangan, terus rumah jadi kumuh dan santai saja? 

Ini adalah efek bertahun-tahun hidup santai, nggak pernah ada beban dan otaknya nggak pernah dipaksa untuk upgrade sehingga mikir aja nggak mau. Lingkungan jadi kumuh tapi, tetap saja santai dan nggak mau berubah. Iya berubah, manusia seperti yang bertahun-tahun ada di dalam sistem santai dan rebahan memang nggak mau berubah, pengennya santai terus. 

Punya banyak waktu luang di rumah tapi pemalas? Cari tukang loak aja  nggak mau, sehingga banyak barang bekas yang numpuk, mending kalau di taruh rapih. Ini dibiarkan tergeletak bikin rumah kumuh.


Review Trough The Ever Night, Versi Membosankan Divergent

Links to this post
Buku kedua dari Under The Never Sky trilogy ini akhirnya bisa juga terselesaikan dan jadi buku pertama di tahun 2020 yang saya review. Menyelesaikan Trough The Ever Night lumayan lama karena Trough The Ever Night  termasuk buku yang membosankan menurut saya, sekalipun hanya degan 390-an halaman Trough The Ever Night gagal membawa sensasi dan plotingan cerita menarik seperti buku pertama Under The Never Sky.



Sinopsis
Under The Never Sky melanjutkan kisah dimana Aria sudah ditendang dari pod dan Perry harus melanjutkan untuk memimpin sukunya. Belum lagi hubungan asmara mereka yang rada-rada renggang setelah Perry mengira Aria mengkhianatinya dan keadaan diperparah saat keponakan Perry diculik olah orang-orang dari pod.  Saat melarikan diri dari pod, Aria berhasil mendapatkan informasi bahwa masih ada daerah yang bersih dari badai aether. Dari sinilah keduanya bahu membahu membantu untuk mendapatkan letak lokasi dari wilayah yang disebut still blue. 

Dalam pencarian still blue keduanya menemukan banyak hal, mulai dari kenyataan bahwa Aria nggak sepenuhnya penghuni pod dan mempunyai darah tikos mondok dan kemampuan sebagai audile sementara Perry harus bertarung dengan kakanya dan akhirnya harus memimpin suku. Kedua sepakat untuk berpisah dan mengambil jalan masing-masing dalam mencari informasi mengenai letak still blue sekaligus menyelamatkan keponakan Perry. 

Resensi
Buku pertama Under The Never Sky terlihat amat murahan sementara Trough The Ever Night, terlihat mewah sekali dengan cover ciamik, mungkin karena Under The Never Sky jadi best seller. Sementara untuk plotingan yang mempunyai benang merah mencari still blue, Trough The Ever Night termasuk membosankan! Banyak banget sempilan cerita yang kerasa dipaksakan masuk, pencarian letak still blue, jadi nggak fokus karena ternyata pencarian lokasi still blue cuma seiprit saja, sisanya 90% adalah kerusuhan nggak jelas dalam mencari informasi letal still blue.

Saya juga merasa novel young dystopia ini seperti nggak kearah sama sekali, mau kemana sama sekali nggak jelas. Kita bakal diajak muter-muter cuma demi secuil informasi tentang lokasi still blue? Dan hampir nggak ada plot twist  karena semua yang biasa ada di novel young dystopia, muncul di Trough The Ever Night. Saya rasa Trough The Ever Night merupakan versi menjemukan dari Divergent sebab, banyak banget elemen Divergent di Trough The Ever Night.

Trough The Ever Night gagal memberikan rasa baru dan sama sekali nggak berhasil menarik saya untuk masuk ke dunia yang hancur karena badai aether. Padahal buku pertamanya Under The Never Sky termasuk ciamik. 

Baca Juga : Resensi Under The Never Sky

Hidup di Lingkungan Kampungan dan Bermindset Rendah

Links to this post
Pernah hidup di lingkungan kampungan bermindset rendah? Mungkin masih bingung dengan lingkungan kampungan bermindset rendah itu apa? Apakah sebuah lingkungan dengan orang-orang kampung atau lingkungan berisikan orang-orang bermindset rendah? Jawabannya adalah kedua-duanya dan saya hidup di dalam lingkungan rendah ini.


Seperti Apa Lingkungan Kampung Berminset Rendah?

Salah satu contoh paling kongkrit lingkungan kampung bermindset rendah adalah ketika, saya mau usaha dan membutuhkan modal, tidak ada satupun yang berminat untuk membantu atau menggelontorkan dana namun, ketika ada yang kawin maka simsalabim, semua orang membantu bahkan uang pun mengalir deras demi pernikahan mewah. Contoh lain adalah, ketika ada seorang pemuda pengangguran dan sampah yang punya anak istri tapi, semua tetangga malah adem ayem, nggak ada satupun yang bergunjing tapi, ketika lihat saya seorang lelaki yang pergi setiap pagi mengejar kereta untuk bekerja, sontak saja salah satu tetangga berceloteh. “Udah kerja kok belum kawin?”

Nah, itu dia contoh lingkungan menjijikan kampungan dan bermindset rendah, dimana prestise dinilai dari perkembangbiakan bukan dari seberapa sukses dan pencapaian hidup. Lingkungan kampungan dan bermindset rendah adalah dimana semua orang target utamanya berkembangbiak ria tanpa kualitas. Seperti pada lingkungan menjijikan saya, dimana pengangguran dan pemalas dimaklumi selama udah kawin tapi, orang bekerja yang belum menikah malah dianggap aneh.


Ini bukan cerita fiksi sebab, saya bernapas diantara manusia-manusia menjijikan ini. Manusia yang nggak mau berbuat apapun selain berkembangbiak, pastinya ada yang marah-marah kalau saya sebut lingkungan ini kampungan dan bermindset rendah. Saya tekankan sekali lagi, kalau pengakuan utama lingkungan ini yang dinilai adalah perkembangbiakan, apa itu normal? Kalau ada pengangguran pemalas yang cuma kawin tapi nggak mau kerja itu dianggap biasa, apa itu normal? Menggelontorkan duit buat kawin mewah bisa tapi, bikin usaha nggak bisa dan selalu bilang nggak ada duit, apa itu normal? Jangan heran kalau negeri ini banyak orang tapi, nyampah! Yang mau usaha dianggap aneh, yang mau kerja dianggap aneh yang dianggap normal cuma yang otaknya modal selangkangan saja. Terus saya bagaimana berada di dalam lingkungan sampah ini? Terus terang lama-lama gerah dan saya sudah menunjukan ketidaksukaan terhadap manusia-manusia kampungan ini, imbasnya adalah saya nggak pernah ditegur lagi. Tetangga nggak ada yang berani tanya apapun lagi karena, muka judes dan lidah tajam saya siap mensilet orang-orang kampung ini.


Jangan salahkan saya karena, bersikap brengsek, sekalipun lingkungan kampungan bermindset rendah sudah menjadi kultur dan budaya bukan berati harus dimaklumi.

Follow by Email Untuk Ebook Novel Gratis

VIVA ID

statistics

Facebook Me

Instagram

Instagram
Follow Me

Blog Archive

Powered by Blogger.

.

.