Join 1000+ subscribers

Facebook Me

Review Advan Vandroid iLite i7U Tab Murah dan Lumayan

Links to this post
Bagaimana sudah kapok pakai gadget dari brand Advan? Saya sudah dua kali pakai brand Advan yakni tab dan handphone, dua-dua ancur abis! Sampai saya pun jadi pesimis sekali dengan brand lokal ini. Selang beberapa tahun kemudian saya mencoba mencicipi tab 7 inch Advan Vandroid iLite i7U, sebuah tab android kelas bahwa yang bisa ditebus hanya dengan harga 1 juta saja. Nggak ada ekspetasi apapun karena saya hanya butuh Advan Vandroid iLite i7U ini  untuk baca ebook dan nonton dikala senggang namun, setelah satu minggu pemakaian ternyata baru sadar kalau Advan sekarang berbeda dengan advan dulu loh.



Build In Material dan Design

Dari segi design nggak ada yang bisa dibanggakan karena, designnya sama saja dengan tab Advan yang lain, design cover bagian belakang yang diclaim terlihat mewah pun menurut saya biasa saja. Overall kelihatan banget kalau tab ini mumer dan luas 7 inch sama sekali nggak terasa, malah Advan Vandroid iLite i7U masuk kategori compact size. Ya ilah kan ini versi iLite, jadi enak banget bisa masuk tas pinggang dan masih bisa dipegang dengan satu tangan, kalau nonton di kereta pun nggak ribet.

Sayangnya material Advan Vandroid iLite i7U ini plastik murah dan ringkih, saking ringkihnya, kita bisa dengan mudah patahin. Kalau jatuh pun saya jamin komponen di dalamnya bakal bermasalah karena kerasa banget nggak solid. Tapi finishingnya rapi dan cakep banget. 

Layar, Hardware dan Software 

Layar 7 inch dengan 1021 x 600 ini memang ala kadarnya, warna cenderung soft dan nggak pup up. Kalau nonton bluray juga kerasa banget warnanya pudar, parahnya layar Advan Vandroid iLite i7U ini memantulkan bayangan dan ini ganggu banget kalau lagi nonton film. selain itu, touchscreen rada aneh karena untuk beberapa aplikasi seperti instagram, sepertinya over sensitif tapi aplikasi lain berjalan normal? Dan nggak ada sensor light jadi brightness nggak bisa otomatis kudu diset manual.


Silahkan perhatikan atutu benchmark dengan torehan score hanya 35486 memang nggak bisa diharapkan untuk main game berat. Score segini juga sama dengan handphone android low class namun, OS 7.0 memang jadi penolong buat Advan Vandroid iLite i7U.

Dari segi hardware Advan Vandroid iLite i7U sudah dipersenjatai RAM 2GB ini salah satu alasan saya membeli Advan Vandroid iLite i7U dengan CPU sc9850k alias spreadtrum CPU kelas bawah sodara-sodara tapi corenya sudah 4 loh. Jadi  Advan Vandroid iLite i7U nggak bisa dipakai maen game berat PUBG kalau Mobile Legend masih ok, itu pun setingan grafis low. Waktu atutu 3D pun Advan Vandroid iLite i7U terlihat ngadat. 

Untuk softwarenya Advan Vandroid iLite i7U sudah android 7.0 (32 bit) tanpa sensor apapun! Nggak ada acceleration sensor, game rotation vector, gyroscope sensor, light sensor semuanya nihil. 

Perfoma sih ok banget, saya nggak pernah nemu aplikasi yang ngadat atau lag semua lancar jaya, sekalipun sudah di instal berbagai apliaksi RAM dalam kondisi default hanya terpakai 780MB saja. Kecuali seperti saya sebutkan di atas, main game berat langsung yassalam Advan Vandroid iLite i7U ini. Tapi, untuk kebutuhan sehari-hari sama sekali nggak ada kendala.   


Fitur

Advan Vandroid iLite i7U sebenarnya sudah punya face id tapi saya nggak pernah pake dan sudah 4G LTE untuk dua simcard. ROM 16GB dan bisa ditambah dengan sd card. Selain itu Advan Vandroid iLite i7U juga punya speedup, semacam clear cache untuk clean aplikasi yang tengah berjalan di background dan secara otomatis bakal matiin aplikasi yang kebuka tapi nggak kepakai. Ini alasan kenapa Advan Vandroid iLite i7U lancar nggak pake lag.

Camera

Advan Vandroid iLite i7U ini pun punya dua camera 5Mp di depan dan di belakang, sayangnya kualitasnya parah banget tipikal android murah, fotonya whiteish atau brightnya over banget jadi kek putih dan silau getuh. Buat yang suka selfi sukaesih, Advan Vandroid iLite i7U sangat tidak disarankan.


Perhatikan kualitas foto Advan Vandroid iLite i7U ini, sekalipun sudah outdoor dengan cahaya maksimal masih juga nggak ciamik. Fokus blur dan brightnessnya over banget.

Baterai

Baterai hanya 2500maH tapi awet banget, dipakai nonton bluray 2 jam pun masih sanggup tanpa ngecash seharian kalau internetan memang tergantung jaringan, pakai wifi Advan Vandroid iLite i7U baterainya awet tapi kalau pakai jaringan 4G standar, setengah hari kita harus sudah cash lagi.

Overall 

Overall saya puas dengan performa Advan Vandroid iLite i7U ini, karena nggak ada lag ataupun lemot, multitasking lancar dan  baterai pun awet. Untuk download pekerjaan dari Trello dan Google Drive no problem, pakai microsoft office nggak ada kendala, bentuknya pun compact bisa dipakai kapanpun dan dimanapun. Sementara untuk minus nggak bisa dipakai game berat, bukan masalah karena saya nggak main game. Terus nggak ada sensor apapun juga nggak begitu berarti sih, kalau untuk kamera yang bapuk, nggak kepakai juga di tab.

Advan Vandroid iLite i7U ini juga kemajuan banget buat brand Advan, biasanya kualitas brand ini kacau banget, lemot dan banyak bugs belum lagi dulu tab sama smartphone Advan suka dipasang alplikasi bloatware yang nggak penting sementara di Advan Vandroid iLite i7U, malah bersih banget nggak banyak apps sampah.

Tentang PHK NET TV : Saat Konten Bermutu Tak Laku

Links to this post
Lagi ramai banget nih, perihal NET yang sedang kesulitan financial dan mau PHK karyawannya. Menurut info mengapa NET TV ini kurang sukses dikarena idealisme mereka, seperti nggak mau pasang iklan selama 3 menit dan terlalu hura-hura saat ultah. Tahukah ultah NET TV seperti apa? Artisnya pasti dari luar negeri. Banyak juga yang bilang acaranya segemented untuk menengah ke atas sementara orang menengah ke atas sudah nggak nonton tv lagi, mereka ada di platform digital.

kenapa net tv bangkrut

Terlepas dari alasan sesungguhnya, saya mempunyai pengalaman yang sama seperti para karyawan NET TV ini. Dulu pun saya bekerja pasa sebuah tv yang memproduksi tayangan bukan untuk menengah ke bawah, saya membuat documentary berkualitas international sekelas BBC dan national geographic bahkan bule-bule yang waktu itu nonton saja takjub. Sebelas dua belas dengan NET TV tempat dulu saya bekerja pun memPHK karyawannya, untungnya saya sudah nggak di sana waktu itu.

Kegagalan finansial tv tempat saya bekerja dulu dikarenakan manajemen dinausaurus, dimana orang-orang dengan mindset cetak mengurus layar kaca dan lebih parahnya dahulu mereka sudah pernah gagal dengan TV7 kemudian gagal kembali di bidang yang sama? Terperosok di lubang yang sama tapi nggak pernah belajar. 

Konten-konten berkualitas seakan nggak mampu menarik minat pengiklan? Saat itu pihak manajemen yang terbiasa menjual slot kertas koran, memang nggak ngerti cara jualan di tv belum lagi manajemen dinausaurus yang nggak ngeh pentingnya untuk memperluas jaringan. Sampai waktu itu channel spacetoon nggak jadi dibeli, lebih parah channel anteve pun nggak mau padahal sudah ditawarkan sebelum akhirnya menjadi TVONE.

Beban produksi yang tinggi membuat manajemen dinausaurus, berusaha menyelamatkan perusahaan dengan berubah menjadi tv berita karena produksi akan jauh lebih murah namun itu pun belum cukup. Akhirnya semua divisi intertainment di-PHK dan hanya tersisa divisi news and documentary yang memang benaung di bawah dua PT yang berbeda.

Konten Berkelas Nggak Laku?
Siapa bilang konten berkelas nggak laku? Yang salah cuma cara kita menjualnya dan tempat kita menjualnya. Ibarat kata jual Versace di tanah abang yang kebanyakan pembelinya adalah ibu-ibu BPJS. Tentu ibu-ibu BPJS nggak bakal mau beli Versace sekalipun mereka punya duit, mana ngerti mereka sama merk Versace. Sama halnya seperti tv dimana yang nongkrong adalah kalangan menengah ke bawah, dikasih tonton high class yah remuklah, otak dan IQ mereka.

Lebih Bangga Bikin Konten Berkelas Dari Pada Alay
 saya merasa bangga dan puas karena pernah membuat program tv berkualitas tinggi dari pada program tv sukses tapi, sampah! Seperti Dahsyat dan kawan-kawannya, sama sekali nggak ngerti apa yang harus dibanggakan sama program-program seperti itu?

Baca Juga : Matinya Kreatifitas di Dunia TV
Baca Juga : Ekploitasi Kemiskinan Lewat Acara Mikrofon Pelunas Hutang

Review Freeman Gel Mask and Scrub/ Antara Masker dan Scrub

Links to this post
Pas lagi cari pembersih wajah buat laki di toko daring, nggak sengaja nemu satu merk yang menurut saya kurang familiar dan setelah riset ternyata ini merk dari luar dan sudah ada semenjak 1976. Freeman sendiri ternyata merupakan pemain baru di Indonesia dan mostly ada karena di bawa oleh para reseller dari luar negeri. Jadi the mask experts since 1976 ini belum resmi launching di Indonesia. Setelah riset berkepanjangan akhrnya saya memutuskan untuk menjatuh pilihan pada Freeman polishing charchoal and black sugar/ gel mask and scrub, set dah Panjang bener nama ini produk.

Review Freeman Gel Mask and Scrub

Kalau dari packegingnya sih biasa saja, bentuk tube besar 175 ml dan yang bikin saya rada-rada gimana adalah harganya yang lumayan murah untuk sebuah produk dai luar negeri.  Kemungkinan besar karena belum resmi, harga produk Freeman ini bisa murah seperti halnya handphone BM.

Begitu produknya sampai dan saya lihat lumayan bikin bingung juga sebab, Freeman polishing charchoal and black sugar/ gel mask and scrub nggak seperti pembersih wajah kebanyakan yang pernah saya pakai. Bentuknya gel dengan arang hitam plus ada butiran gula, yep! Ada butiran gula yang gede-gede. Cara pemakaian seperti mask tinggal dioles di wajah saya dan awalnya saya kira, akan jadi keras seperti mask lainnya tapi polishing charchoal and black sugar/ gel mask and scrub ini nggak sama sekali! Jadi setelah 5-7 menit harus cuci muka seperti pakai scrub.

Pemakaian
Saat dioleskan ke wajah ada sensasi panas getuh dan kalau kena jerawat juga rada panas gimana getuh tapi, untungnya cuma sementara saja karena setelah satu menit sensasi panasnya menghilang, termasuk daerah yang ada jerawatnya. Nah, butiran gulanya yang menurut saya berfungsi sebagai scrub nggak begitu cocok buat kulit sensitive dan ditakutan gampang bikin breakout atau iritasi.
Untuk hasilnya ternyata bagus banget, awalnya dengan begitu banyak bahan dan gula scrub, kulit bakalan kering kerontang dan kasar kek pake Biore getuh tapi Freeman ini beda karena kulitnya jadi moist gimana getuh, terus ada efek kencangnya juga seperti setelah pakai mask.

Review Freeman Gel Mask and Scrub

Freeman polishing charchoal and black sugar/ gel mask and scrub ini, bisa disebut masker all in one. Buat detox, exfoliat, cleaner tapi menurut saya, Freeman polishing charchoal and black sugar/ gel mask and scrub termasuk heavy product for skin. Entah kenapa saya merasa Freeman polishing charchoal and black sugar/ gel mask and scrub jauh lebih cocok untuk pemakaian dalam keadaan berat saja, habis kerja rodi di luar, abis dari rig pengeboran tambang, abis keluar hutan kalau sekadar bersihin muka setiap hari, kaya kasihan kulitnya kena gula scrub terus.       
  
Review Freeman Gel Mask and Scrub



Follow by Email Untuk Ebook Novel Gratis

VIVA ID

statistics

Blog Archive

Powered by Blogger.

.

.