Lakukan 3 Hal Ini Ketika Anda Terlanjur Membeli Rumah Subsidi.

Rumah subsidi atau rumah murah dari pemerintah, akhir-akhir ini menjadi incaran masyarakat banyak. Jadi jangan heran kalau cluster-cluster yang mengatasnamakan perumahan subsidi pemerintah bermunculan. Termasuk saya yang sudah membeli sebuah rumah subsidi atau rumah murah dari pemerintah ini, namun nggak sedikit pembeli rumah subsidi yang mengontak saya dan mengutarakan kekecewaan terhadap rumah subsidi yang mereka beli. Berdasarkan hal tersebut saya berinisiatif untuk membuat hal-hal apa saja yang harus diperhatikan ketika anda sudah terlanjur membeli rumah subsidi dari pemerintah.

1. Pilih Developer Yang Baik.
Sebelum anda memutuskan untuk membeli rumah murah atau rumah subsidi, pastikan yang membangun adalah developer berpengalaman bukan developer abal-abal, atau asal bangun. Caranya bagaimana? Tinggal lihat track record mereka, kalau mereka sudah pernah membangun cluster perumahan subsidi, maka anda wajib menyambangi cluster tersebut untuk cek dan ricek. Dan perlu bagi anda untuk bertanya pada penghuni cluster tersebut, tentang pengalaman mereka membeli dari developer bersangkutan. Jangan pernah memilih developer yang belum pernah atau baru membuat rumah subsidi.

2. Awasi Pembangunan
Perlu diingat rumah subsidi atau rumah murah dibangun menggunakan material non premium, demi menekan harga jual. Maka anda perlu mengawasi day by day pembangunan rumah subsidi tersebut, agar nggak ada kerusakan kecil semisal retak atau atap bocor. 

Selain mengawasi pembangunan day by day, anda pun sebenarnya bisa kongkalikong sama mandor untuk mengganti material non premium dengan materal yang jauh lebih bagus. Saya pun melakukan hal ini (atas saran marketing), namun perlu diketahui bahwa biasanya mandor bakal charge harga mahal! memang bikin kesal, tapi beginilah permainan rumah subsidi. Misalkan dulu ketika saya akan memperluas septitank, dikenakan 10 juta! Padahal kata Bokap, lima juta saja cukup, lalu ganti pipa biasa dengan pipa Wavin pun kena charge 5 juta untuk dua buah pipa pendek penghubung dari wc ke got. 

Tapi perlu diingat! Anda bisa saja mengganti material biasa dengan yang lebih bagus tapi nggak bentuk rumahnya!!! Rumah subsidi nggak boleh dirubah bentuknya selama lima tahun, kalau sampai anda ketahuan merubah bentuk rumah subsidi, maka KPR anda bisa digagalkan oleh bank. Tapi biasanya mandor atau marketing bakal mengingatkan anda, hal ini kalau ketika akan kongkalikong

3. Garansi 100 Hari.
Kalau anda nggak kongkalikong untuk mengganti bahan-bahan rumah subsidi dengan yang lebih mendingan, maka anda wajib mengecek rumah subsidi setelah jadi. Lihat apa ada kerusakan atau nggak? Karena semua rumah subsidi mempunya garansi 100 hari setelah jadi, apapun kerusakan dan sebagaimana kerusakan akan digantikan dan dibetulkan selama masih 100 hari setelah rumah jadi. 

rumah subsidi murah pemerintah


Kalau Apes Bagaimana?

Terus kalau anda nggak melakukan tiga hal di atas tersebut bagaimana? Kalau boleh jujur sih untung-untungan, bisa jadi rumah anda bagus dan layak huni dan bisa juga nggak. Memang di sinilah letak kelemahan rumah subsidi atau rumah murah dari pemerintah. penbangunanya nggak diawasi untuk kualitas atau mutu dari pemerintah itu sendiri. (tahulah kerja pemerintah bagaimana, apa lagi mempertanyakan kinerja badan perumahan nasional)

Kalau anda memang bernasib buruk dan mendapati rumah subsidi yang dibangun nggak layak huni, maka hanya ada satu jalan yakni renovasi sendiri. Berdasarkan pengalaman tetangga, merenovasi rumah subsidi dari nggak layak sampai layak tinggal membutuhkan 50 sampai 100 juta. 

Sekalipun begitu rumah subsidi tetap saja laris manis, karena banyak yang membeli bukan untuk kebutuhan, namun hanya sekadar investasi. Makanya jangan heran kalau ada cluster perumahan subsidi yang ludes terjual, tapi yang tinggal cuma beberapa kepala keluarga saja. Hal ini pun jadi momok mengerikan bagi yang membeli rumah subsidi untuk ditinggali, karena bisa-bisa mendapat komplek perumahan subsidi yang sepi tanpa tetangga, hanya berisikan rumah-rumah kosong saja.


No comments:

Post a Comment