Resensi A Monster Calls, Memahami Rasanya Kehilangan Bagi Anak-Anak


Sebenarnya tahu buku A Monster Calls dari youtube. Yup, dari trailer filmnya yang akan beredar tahun ini. I just knew this is my kind story, begitu googling ternyata A Monster Calls adalah adaptasi novel best seller peraih Carnegie award, bahkan the new york times menyebutnya sebagai sebuah karya seni yang mengagumkan. Kalau pernah baca novel fenomenal Where The Wild Thing Are dan The Little Prince, maka A Monster Calls berada dalam satu genre, dimana cerita berfokus pada rumitnya emosi anak-anak dan kita akan melihat sebuah keadaan dalam sudut pandang seorang anak. Seperti halnya Where The Wild Things Are dan The Little Prince, novel A monster Calls bukan bacaan remeh hanya karena tokoh utamanya anak kecil dan sebuah monster.  
 Sinopsis
 Cerita bermula ketika Conor O’ Malley anak lelaki berusia 10 atau 12 tahun mulai mengalami mimpi buruk, yakni dikunjungi oleh monster yang berasal dari pohon yew di belakang rumahnya. Conor didatangi monster pohon yew ini saat Ibunya mulai sakit-sakitan. Awalnya Conor bingung dan ketakutan karena selalu didatangi oleh monster pohon yew, hingga ia bertanya apa maksud kedatangan monster tersebut? Monster pohon yew berkata bahwa ia “datang  dengan berjalan karena dipanggil oleh Conor” sementara Conor sendiri tidak merasa memanggilnya, dan langsung kebingungan. 

Sang monster ini pun berjanji akan menceritakan empat kisah dimana kisah keempat adalah kebenaran yang harus diceritakan oleh Conor sendiri. Monster pohon yew awalnya hanya muncul ketika Conor tertidur di rumahnya, namun seiring dengan memburuknya kondisi Ibu Connor. Monster pohon yew mulai menampakan diri di rumah Grandma menyebabkan hancurnya ruang tamu dan juga sekolah sampai melukai Harry si tukang bully.  

Conor harus berusaha sendiri memahami arti kehadiran si monster serta keadaan dimana Ibunya sakit dan Grandma tidak menyukainya sementara Dad sama sekali tidak bisa diharapkan, karena sudah menikah dengan wanita lain. Bagaimana Conor menghandle semua ini, monster, sekolah dan Ibunya seorang diri?

Resensi
A Monster Calls merupakan salah satu buku terbaik yang saya baca di awal 2016 ini, kisahnya begitu kelam namun memikat. Korelasi antara kisah si monster dan alasan mengapa Conor memanggilnya, memaksa kita untuk melihat dari kacamata anak-anak dalam menghadapi situasi sulit. Dalam ini Conor terus menyangkal dirinya, bahwa Mom sakit parah dan tak akan mungkin sembuh.  Ketiga kisah yang diceritakan si monster adalah untuk membuat Conor mengerti situasi sulit yang dihadapinya dan kisah keempat merupakan kebenaran yakni bahwa sesungguhnya Conor O’Malley lelah dengan situasi ini dan ingin semuanya berakhir, sekalipun Ibunya harus meninggal dan alasan kenapa Conor memanggil si monster ternyata bukan untuk menyembuhkan Ibunya, namun untuk menyembuhkan dirinya, sebab semenjak Ibunya sakit Conor menjadi tertutup dan selalu menyangkal bahwa suatu saat ia harus berpisah dari ibunya, si monster pohon yew hadir untuk menyembuhkan Conor, membuatnya iklas untuk merelakan Ibunya. Dan sesungguhnya si monster pohon yew adalah manifestasi dari berbagai perasaan Conor yang selalu dipendamnya sendiri.

Resensi The Monster Call


Art work atau ilustrasinya pun senada dan menambah kelam cerita A Monster Calls, hanya ada guratan-guratan kasar dan hitam untuk menggambarkan betapa muramnya dunia Conor O’Malley.  Sekali lagi novel ini mengingatkan saya pada Where The Wild Things Are dan The Little Prince, memasuki alam pikiran anak-anak tanpa cerita klise yang meminta belas kasihan pembaca, 
(seperti anak penderita kanker yang mengirim sepucuk surat untuk tuhan, anak kecil yang miskin dan ngamen lalu mencari sosok pelindung, atau kecil yang kena musibah tsunami dan di tolong sana-sini. Duh, bosennya ama cerita sinetron tipikal tapi laris manis, bak tahu formalin yang digemari masyarakat umum dengan efek samping bikin bego)    
A monster Calls tidak meminta belas kasihan pembaca, ia membawa anda mengerti perasaan Conor O’ Malley, seorang anak kecil yang Ibunya tengah sekarat.  Its dark yet beautiful story  


Baca Juga Resensi : Vandaria Saga : Masa Elir



3 comments: