Postingan Terbaru

Google+

Facebook Me

Review Dear Nathan, Film Receh Dari Wattpad Receh!

Belum sempat menonton Dillan 1990 karena sibuk mencari kesibukan dan selalu hujan, maka saya memberanikan diri untuk menonton Dear Nathan yang memang sudah lama tersimpan di hardidsk. Film Dear Nathan sendiri bukan film baru melainkan film tahun lalu dan saya sudah mengenal Dear Nathan semenjak heboh dijadikan novel, aslinya Dear Nathan adalah cerita wattpad yang berhasil menyedot 4 juta pembaca! Sekaligus banjir caci maki. Setelah saya mencoba membaca versi novelnya barulah mengerti mengapa Dear Nathan mendapat banyak caci maki dari pembaca, terlebih para pecinta novel. Dalam versi novel Dear Nathan memang hancur lebur dalam plotingan, konflik khas remaja yang banyak dibumbui hal-hal lebay dan overarted. kalau kalian tanya mengapa bisa begitu? Karena si penulisnya sendiri ketika menulis Dear Nathan adalah bocah SD atau SMP, jadi bocah bernama Eriska ini sama sekali nggak tahu seluk-beluk kehidupan remaja SMU di kota besar. Begitu banyak hal lebay dalam Dear Nathan mulai dari beragam tokoh yang nggak mungkin ada dalam remaja, sampai sang tokoh utama Nathan yang terlalu over untuk jadi badboy. Eriska nampaknya nggak pernah berurusan atau ketemu badboy, jadi mengkhayal sampai tokoh Nathan Over, belum lagi Nathan nggak punya basic kuat untuk menjadi badboy.     

Ok, kita kembali ke filmya. Begitu lihat logo Rapi film saya memang harus sadar untuk nggak boleh punya ekpetasi tinggi. Film Dear Nathan sendiri bikin saya nggak betah karena selalu jumping dari satu scene ke scene tanpa ada bridging atau penghubung sama seperti novelnya. Production value film ini pun murah-meriah hingga sepintas terlihat seperti FTV. Mengingat novelnya sudah dicaci maki pembaca, seharus bisa mengadaptasi dengan baik bukan adaptasi mentah, hasilnya film Dear Nathan ini sama buruknya dengan novelnya. Terlihat jelas Rapi film memang cuma mengejar momentum, mumpung waktu itu Dear Nathan lagi heboh! Heboh dicaci maki. Saya juga nggak ngerti dengan colouring film Dear Nathan ini yang dibikin soft pastel, sehingga semua warna terlihat soft seolah pakai filter afterlight untuk instagram. Belum lagi perihal sound, yang menurut saya sama sekali bukan sound untuk film layar lebar.

Saya sendiri nggak tahan harus nonton dua jam film receh ini, alhasil harus dicepetin sampai akhir. Toh, saya juga sudah tahu cerita dari novelnya.  Dengan production value yang receh, film Dear Nathan mampu menyedot kaum abg alay tanpa IQ tinggi sebanyak 800 ribu penonton. Wajar sih, mengingat ceritanya sudah ancur lebur saja masih bisa menarik 4 juta readers di wattpad, terus dibukukan masih juga best seller. Kekuatan kaum abg alay berIQ rendah memang menakjubkan.

Walaupun Dear Nathan film receh, ada satu hal positif yakni, akting para pemainnya. Terus terang pemeran utama Nathan yakni, Jefri Nichol justru mampu menghidupkan tokoh Nathan, Amanda Rawles pun menurut saya bermain bagus sekali. Tapi sama sekali nggak menolong film Dear Nathan secara keseluruhan untuk bisa enak ditonton. 

Review Film dear nathan

Sejatinya Dear Nathan adalah bukti bahwa sebuah produk receh untuk target market abg menengah ke bawah, merupakan pasar yang menguntungkan.

No comments:

Post a Comment