Google+

Facebook Me

Film Ayat-Ayat Cinta 2 Serta Kaum Micin, Bumi Datar Dan Sumbu Pendek

Saya kira tidak perlu lagi meriview fim ayat-ayat cinta 2 karena sudah banyak riview yang mayoritas bikin geleng-geleng kepala ketimbang memuji, jika kalian masih belum tahu apa yang salah dengan film ayat-ayat cinta 2 silahkan berkunjung ke salah satu blogger yang memberikan review jujur namun baik hati riview suka-suka ayat-ayat cinta 2 kalau sudah tahu permasalahannya masih ada satu lagi yang bikin geleng-geleng kepala yakni, fakta kalau ayat-ayat cinta 2 ini tembus 2 juta penonton! Dengan semua keabsurbannya film superhero hijabers ini mampu menyedot penonton sebanyak itu? Kalau karena penonton yang penasaran seberapa busuk dan buruk ayat-ayat cinta 2 seperti saya, rasanya tidak mungkin juga sanggup tembus sampai 2 juta orang, bahkan komentar di sosial media banyak loh yang memuji dan jika anda mencela film ayat-ayat cinta 2 di sosial media, bersiaplah untuk dibully oleh kaum micin, bumi datar dan sumbu pendek.

Kesuksesan ayat-ayat cinta 2 menyihir kaum micin, bumi datar dan sumbu pendek pun bisa terlihat dengan maraknya meme serta video "nikahi aku Fachri" beragam pembela pun dimuat oleh kaum micin, bumi datar dan sumbu pendek, sebuah pembelaan yang defensif sampai-sampai menyerang siapapun yang tidak suka dengan film ayat-ayat cinta 2. Di tengah para riview yang melempar logika yang amburadul untuk film ini, kaum micin, bumi datar dan sumbu pendek mengeluarkan pembelaan "lihat sisi positifnya" dan "tergantung selera." 

Taktik Marketing Religi
Saya sih tidak masalah kalau film ayat-ayat cinta 2 ini bertema religi, bahkan ayat-ayat cinta pertama saya suka dan menonton ketika masih kuliah. Yang harus ditekankan adalah melihat film ayat-ayat cinta 2 dari perspektif sebuah produk yang dilempar pada masyarakat, bukan melihat ini adalah produk religi yang harus dihormati walau ancur lebur. Ayat - ayat cinta 2 bagi saya berkesan seperti menganggap kalau penonton Indonesia adalah bodoh, tolol dan gampang dikibuli yang penting film religi, mau seancur apapun pasti ditonton. Andai kata ayat-ayat cinta sama sekali tidak mengangkat tema religi sudahlah pasti, beragam komentar buruk bermunculan dan tidak laku.

Kasus ini senada dengan novel-novelnya Asma Nadia, seorang novelis religi yang memasarkan novelnya dengan jama'ah marketing. Sekali launching novel jama'ah Asma Nadia pasti membeli dan sudah terjamin 5000 copy novel ludes, jadi jangan heran kenapa novel-novel Asma Nadia selalu laris manis. Akan tetapi soal kualitas tunggu dulu bahkan, belum tentu jama'ah membaca selain judul novelnya.

Anda tidak percaya? Coba tengok di goodreads, anda hanya bisa menemukan segelintir orang memberi review. Artinya dari ribuan copy yang terjual hanya dibaca oleh beberapa orang saja, belum lagi kualitas bintang yang diberikan yassalam namun,  anehnya tidak ada yang meriview karya-karya Asma Nadia dengan minus seperti halnya novel-novel lain. Hal ini dikarenakan banyak orang menganggap tabu sebuah karya dengan tema religi dinilai jelek. Sepertinya halnya Ayat-Ayat Cinta 2 seberapa absurbnya pun tidak akan dicerca oleh khalayak.

Padahal karya-karya religi ini sejatinya dalah sebuah produk jualan yang dibuat bukan untuk mencerdaskan ummat, melainkan untuik meraih pundi-pundi keuntungan sebesar-besarnya.

Ingat di sini membahas filmnya bukan novelnya, kalau di novelnya lebih masuk akal, itu beda tema. Salah siapa tidak mampu menerjemahkan novelnya dengan baik dan benar.

Kalau begini terus, jangan heran kedepannya makin banyak film religi tak bermutu. Film yang penting pemain berhijab dan mengangkat tema religi seperti poligami namun, logika tidak dipakai. Para producer dan studio besar pasti tertawa dengan kaum micin, bumi datar dan sumbu pendek, "enaknya di Indo penontonnya bisa digoblokin sama film ngasal."  Sementara kaum micin, bumi datar dan sumbu pendek mati-matian membela, tapi ujungnya sekali lagi pasti bakalan balik ke "tergantung selera dan lihat positifnya."

Banyak film lokal nyampah, marilah kita bernyanyi..."memang sudah biasa"

No comments:

Post a Comment