Resensi Middle School : My Brother is A Big Fat Liar

Setelah kecewa dengan seri kedua Middile School : Get Me Out Of Here, seri ketiga Middle School menawarkan hal baru, yakni perspektif dari adik Rafe. Yup, seri ketiga sama sekali nggak bercerita mengenai Rafe namun adiknya Georgia Khatchadorian. Selama ini kita disuguhkan dari sudut pandang Rafe bahwa Georgia nggak lebih dari pada seorang anak cewek yang bermulut bawel dan gemar mengadu pada Mom. Middle School : My Brother Is A Big Fat Liar, menggambarkan Georgia yang sesungguhnya.

Sinopsis
Cerita dimulai saat Georgia baru masuk smp dan tebak sekolah mana yang ia masuki? Tepat sekali, sekolah bekas kakaknya yakni HVMS (Hills Viilage Middle School). Nama besar Rafe sang kakak sebagai biang kerok segala keonaran HVMS, mau nggak mau membuat Georgia cepat dikenal orang-orang dan parahnya semua orang menganggap Georgia sama seperti Rafe, yakni tukang bikin onar. Padahal sebenarnya Georgia, adalah anak baik-baik dan selalu dapat nilai A, dan hal ini membuat hidup Georgia sulit di HVMS.

Mulai dari guru-guru yang nggak suka dengan kakaknya, lalu muncul  adik Miller (kakaknya membully Rafe di seri pertama) sampai denngan trio putri yang selalu menghina Georgia. Hidup Georgia di HVMS menjadi mimpi buruk hanya karena reputasi Rafe. Sampai suatu ketika Rafe menantang Georgia, bahwa adiknya tersebut nggak bakal bisa bertahan dan mendapat teman di HVMS. Georgia pun menyanggupi, tantangan Rafe dan akan membuktikan bahwa ia sanggup bertahan di HVMS bahkan bisa menjadi anak populer. Maka Georgia pun mulai melalukan berbagai aksi, agar dirinya dapat diterima di HVMS dan menjadi anak populer.

Resensi
Awalnya rada kecewa karena seri ketiga ini nggak menceritakan mengenai Rafe, udah paling males baca dari kaca mata perempuan. Tapi ternyata My Brother is A Big Fat Liar ini, berhasil menebus dosa akan seri kedua yang super garing. Cerita mengenai derita Georgia sebagai adik dari biang kerok Rafe, amat sangat menghibur, sekalipun memang untuk anak-anak smp. Tapi kompleksitas cerita  My Brother is A Big Fat Liar nggak  picisan, walaupun disajikan dengan amat sangat ringan. 

Bayangkan ada tiga konflik yang melilit Georgia, dibully oleh banyak orang, mati-matian mencoba populer dan kenyataan bahwa dirinya ternyata anak adopsi. Hebatnya lagi, di tengah berbagai derita, James Patterson masih bisa menyisipkan cinta monyet antara Georgia dan Sam. Jalinan multi konflik berhasil dipadukan oleh James Patterson dalam cara yang simple dan mudah dipahami. 

Coba bandingkan dengan konflik yang muncul dibuku-buku mega best seller lokal. Pastinya nggak sebanyak konflik Georgia, padahal ini adalah buku untuk anak smp loh.  My Brother is A Big Fat Liar, pun nggak sekadar mengumbar problematika abg. Kulturasi Georgia sebagai anak dari keluarga pekerja menengah ke bawah, membuat My Brother is A Big Fat Liar lebih dari sekadar bacaan ringan. Kalau di buku pertama kita melihat bagaimana Rafe kacau balau karena berasal dari keluarga pekerja menengah ke bawah, sementara di My Brother is A Big Fat Liar kita akan diajak melihat Georgia yang bisa jadi anak baik dan nggak harus menjadi anak bengal, sekalipun Mom harus bekerja siang dan malam sebagai pelayan.  

resensi middle school My Brother is A Big Fat Liar

Menurut saya Middle School : My Brother is A Big Fat Liar jauh lebih berisi dari pada berbagai mega best seller lokal, misalkan critical eleven (konfliknya cuma kehilangan bayi) itupun di hiperbola, padahal yang bersangkutan pun berprofesi sebagai risk management, tapi menghadapi permasalahan hidup sendiri sulit, yassalam dah. (Itupun mending kalau ceritanya orisinil, bukan hasil inspirasi buku lain..ups)


No comments:

Post a Comment