Resensi Middle School : The Worst Years Of My Life

Awalnya saya cuma iseng baca Middle School series ini, karena lagi pengen refreshing dari bacaan dark fantasy. Nggak ada ekspetasi apapun dari Middle School the worst years of my life ini, karena dari covernya terlihat amat teeny sekalipun terpampang jelas tulisan new york best seller. Sepintas mirip sekali dengan diary of a whimp kid dan begitu saya baca, beneran nggak bisa berenti sampai habis.

Sinopsis 

Cerita dimulai dengan hal yang basi banget, yakni tokoh utama Rafe Khatchadorian yang baru saja pindah ke sekolah baru bernama Hills Village Middle School atau disingkat HVMS. Dari sini cerita sudah bisa ditebak, Rafe harus beradaptasi dengan HVMS yang punya seambrek peraturan bak akademi militer, belum lagi HVMS punya seorang bully bernama Miller The Killer. Keruyaman hidup Rafe, nggak cuma di sekolah saja, sebab situasi di rumah sama buruknya. Mom nggak pernah ada, karena harus bekerja dua shift demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, sementara Bear,  pacar Mom kerjanya malah tidur dan nonton tv terus. Hanya ada Georgia, adik perempuan Rafe yang selalu mengadu pada Mom.

Ternyata Rafe punya seorang teman yang pendiam bernama Leo, mereka selalu bersama dan pada satu ketika Leo punya ide untuk Rafe. Yakni operation R.A.F.E sebuah operasi dimana Rafe harus melanggar semua peraturan sekolah demi mendapat poin. Bisa ditebak cerita selanjutnya, Rafe melanggar peraturan satu demi satu. Dan ini membawa Rafe pada berbagai masalah, sampai pada tengah cerita dimana terkuak, ternyata Leo hanyalah sebuah teman khayalan. Sekarang Rafe terjebak antara urusan sekolah, Leo teman khayalan, situasi rumah yang runyam. Rafe Khatchadorian benar-benar mengalami tahun terburuknya di smp.

Resensi

Middle School the worst years of my life, mengambil sudut pandang first person, sehingga ketika saya membaca seperti langsung berbicara dengan tokoh utama Rafe. Tentunya hal ini memudahkan target readers, yang pastinya mayoritas anak smp. Membuat Middle School the worst years of my life, seolah-olah sedang curhat pada pembacanya.

Buku yang tadinya saya anggap sepele ini ternyata punya jalinan multi konflik, kita bakal diajak untuk melihat berbagai situasi dari kacamata anak smp. Bagaimana rasanya mencoba diterima dalam sebuah lingkungan, gimana rasanya hidup tanpa perhatian orang tua yang cukup, sampai dengan rasanya kesepian, sampai-sampai harus punya teman khayalan.

Kehebatan James Patterson dalam merangkai multi konflik yang nggak simple ini patut diacungi jempol. James bisa meramu hal-hal sulit seperti bullying, kurang perhatian sampai domestic disturbence dalam sebuah cerita simple yang mudah dimengerti. 

Berbagai hal rumit seperti operation R.A.F.E keadaan sekolah tidak diceritakan namun digambarkan melalui sketsa. Sketsa ini pun berfungsi sebagai gambaran Rafe terhadap lingkungan sekitarnya, seperti guru bahasa Inggris yang digambarkan galak bak naga atau guru olah raga, digambarkan seperti instruktur militer lengkap dengan gambar anak-anak yang mati, tertembak atau gagal ujian.

Middle School the worst year of my life, boleh jadi bacaan wajib untuk para orang tua, yang ingin mengerti kenapa anaknya jadi bengal atau tukang bikin ribut di sekolah. Saya suka sekali dengan plot yang dibuat James, dimana Rafe menyelesaikan semua masalahnya dengan cara dia sendiri, sebuah cara yang sama sekali nggak terpikirkan. 

resensi middle school the worst years of my life

Berbeda dengan novel sejenis karya penulis lokal, anak kecilnya pasti simsalabim ditolong oleh keadaan, bukan berusaha sendiri. Misalkan ada bule yang takjub karena si anak bermata cantik, atau simsalabim ada yang kasihan terus diangkat jadi anak asuh. Sebab orang sinikan suka banget cerita dimana, kita nggak perlu bersusah payah demi mencapai sesuatu...sesuai dengan kepribadian bangsa ini. 
Resensi middle school the worst years of my life

No comments:

Post a Comment