ABG dan Realitas Hidup Setelah Menikah

Sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang seorang abg yang over shared karena akan menikah, apa boleh dibilang prestasi orang sinikan cuma begitu bukan dapet emas di olimpiade atau jadi astronot. Saking over sharednya, seingat saya dia bisa setiap hari membuat postingan H-3 menuju big day! Dan tentunya seperti generasi abg millennia Indonesia, semua hal mulai dari pesta pora nan gempita perkawinan sampai rumah dan mobil, sudah disubsidi oleh Mami dan Papi plus Mertua.

Setelah satu tahun atau setelah punya anak, ada sesuatu yang bikin saya bahagia banget. Abg yang dulu over joy gegara mau kawin ini baru saja dihajar realitas hidup pertama dari kesekian yang akan datang, dan respon dia ketika menghadapi realita hidup yang nggak seberapa ini sangat mengejutkan. Jadi yang bersangkutan memang baru saja melahirkan, dan mau nggak mau berbagai masalah tipikal orang tua di ibu kota datang. Sekalipun hidupnya sudah enak sekali dengan subsidi full dari mamih dan Papih, tetap saja ada banyak hal yang tidak bisa dibantu oleh Mamih dan Papih. Seperti halnya masalah pekerjaan, dengan punya anak mau nggak mau harus lebih sering berada di rumah dan jenis pekerjaan, mengharuskan selalu pulang malam, abg ini kebingungan dan akhirnya berpindah profesi demi waktu kerja yang lebih fleksibel.

Masalahnya simple dan biasanya dihadapi oleh orang banyak, tapi pada kenyataan respon si abg terhadap hal ini berlebihan. Bahkan sampai bikin blog buat menuliskan semua uneg-uneg dan kekhawatiran serta gundah karena keluar dari zona nyaman, ya keleusssss sampai segitunya. Palingan juga bentar lagi Mamih turun tangan  buat bantu ngurus, kalau nggak, bisa ditebak Mamih, bakal subsidi lagi buat sewa baby sitter. 


Generasi milenia Indonesia yang sulit dewasa ini memang penyakit, maunya bisa wah dan pamer sana-sini, tapi nggak punya kualitas hidup. Kena realitas hidup dikit aja langsung bingung, hadeuh apa lagi nggak disubsidi Mamih dan Papih bisa gantung diri di pohon toge karena tekanan hidup. Paling bingung adalah gimana caranya abg mengurus anak? Palingan juga anaknya bakal tumbuh jadi generasi lemah gemulai nan materialis, yang nggak bisa bertahan sendiri.  Dari sini kelihatan bahwa pernikahan nggak selamanya bikin kamu dewasa, justru yang bikin kamu dewasa adalah realitas hidup, realitas dimana kamu harus beli rumah sendiri, realitas harga susu, realitas ternyata membesarkan anak di zaman ini nggak mudah. Hal-hal seperti itu yang bikin dewasa.

1 comment: