Resensi Glass Sword : Makin Mirip Hunger Games

Buku kedua dari seri Red Queen ini memang rada lama untuk saya baca habis, karena kebentur waktu, maklum sekarang Sabtu juga harus masuk kerja, sementara Glass Sword bukan buku ringan dengan tebal 500 halaman lebih, termasuk berat dan ribet untuk bisa dibaca dimana pun. Jadi saya cuma bisa baca pas hari Minggu saja, itupun kalau nggak terlalu capek dan mood, untungnya Glass Sword bukan buku picisan dan termasuk worth it untuk dituntaskan.

Sinopsis
Glass sword dibuka dengan perjalanan Maren dan Cal yang berhasil meloloskan diri dari istana, Maven dan Ratu Elara. Mereka mengembara mengikuti pasukan merah dan di sinilah dilema dimulai, antara pangeran yang terbuang, Mare dengan rencananya untuk menemukan semua darah baru, saling berbenturan. Namun, Mare beserta teman-temannya mempunyai rencana sendiri, mereka bersatu padu untuk bisa menemukan dan menyelamatkan semua darah baru. 

Rencana ini tentunya harus cerdik dan lihai, sebab Maven pun mengetahui rencana Mare beserta Cal, imbasnya mereka harus saling adu cerdik dan cepat untuk menyelamatkan para darah baru, beruntung beberapa darah baru yang berhasil diselamatkan oleh Mare menjadi tenaga baru, ada Nanny seorang wanita tua yang bisa berubah bentuk, Nix yang kulitnya sekeras baja, Ava dengan otak jeniusnya lalu Gareth manusia yang bisa memanipulasi gravitasi, serta Ketha yang bisa meledakkan apapun. 

Kesemua darah baru ini dilatih  dan ditempa agar bisa menguasai kekuatan mereka, sampai suatu waktu Mare bertemu dengan Jon seorang penerawang yang memberitahu bahwa Maven menyandera semua darah baru dalam penjara di Corros, ini bukan sembarang penjara karena didesain sedemikian rupa dan dilengkapi dengan batu hening, para magnetron menjaga semua pintu dan klan penerawang memindai semua orang yang masuk. 

Mare beserta Cal dan beberapa darah baru, menyerbu penjara di Corros. Kekacauan terjadi di sana-sini, Mare kehilangan logika dan membantai siapapun, bahkan sekalipun mereka sudah meminta ampun, tetap saja petir Mare menghanguskan mereka. Pada akhirnya Mare berhasil membebaskan 300 tawanan dan menggoreng ratu Elara sampai hangus. Namun, kesuksesannya harus ditebus mahal dengan tewasnya sang kakak Shade,  tertusuk besi yang dilemparkan seorang magnetron. 

Resensi
Glass sword mempunya plot yang jauh lebih tajam dan komplek dari pada Red Queen. Saya nggak bisa nebak jalan cerita Glass sword, karena begitu banyak plot dan sub plot antara Mare dan orang-orang di sekitarnya. Banyangkan Mare harus berurusan dengan cinta segi empat antara Cal, Kilron dan Maven! Edun, banyak banget. Belum lagi konflik batin Mare sendiri, perempuan 17 tahun yang harus menjadi leader kaumnya dan kaum merah. Mare sang pencopet dihadapkan bukan cuma satu,dua dan tiga permasalahan tapi bejibun! Sampai saya sendiri merasa kasihan pada tokoh utama ini, karena dilema dan konfliknya terlalu berat untuk seorang perempuan berusia 17 tahun.

Oleh karena itu Glass Sword jadi buku yang amat tokohsentris, seperti semua hal tertuju pada Mare semata dan tokoh-tokoh lainnya cuma sebatas lewat saja. Palingan yang bisa bersaing dengan keberadaan Mare hanyalah para pria  dalam cinta segi empat. Kilron yang ternyata sudah dari kecil suka dengan Mare, Maven yang nggak bisa melupakan Mare dan terobsesi ingin memilikinya, Cal yang juga suka Mare namun, nggak berani bilang.

Satu hal yang saya kurang suka adalah pada flashback dipertengahan buku, Victoria Aveyard nampaknya nggak mau pembaca baru kebingungan, sehingga tokoh Mare banyak sekali melakukan flashback, sampai saya bosan membacanya, tapi buat yang langsung baca Glass Sword ini menolong sekali agar tidak tersesat dan bingung. 

Di buku kedua ini pun saya merasa, banyak sekali elemen dari Hunger Games yang masuk. Mau nggak mau Mare malah berasa Katnis, sekalipun secara karakter jauh beda. Namun, keduanya menghadapi permasalahan yang sama. Secara karakter Mare lebih kompleks, tapi secara storyline Hunger Games dengan panemnya lebih rumit. Glass Sword tertolong karena berada dalam dunia fantasi dystopia, sehingga Victoria Aveyard nggak perlu capek-capek menerangkan dunia dalam buku ini, kenapa ada motor maupun pesawat.  Sama halnya seperti kita baca Lord Of The Rings.

Dengan ending yang lagi-lagi wow dan nggak bisa ditebak, Glass Sword termasuk buku yang sukses melebihi seri pendahulunya. Nggak ada happy ending! Dengan begitu banyak sub plot, masih juga ada twisted plot. Belas kasihan terhadap para tokoh juga hampir nggak ada? Vitoria Aveyard nggak kasih ampun buat tokoh mana saja yang mati, belum lagi beberapa cerita gore, seperti orang di sula, bayi digorok. Bitch! Ini baru cerita seru. Saya harus acungi jempol buat Victoria Aveyard.

Resensi Red Queen Glass Sword
Lebih baik dari pendahulunya Red Queen

Buat yang biasa baca macam Critical Eleven etc, selera lokal pasti bingung dan kesel untuk bisa mencerna Glass Sword. Udah otak mau meleduk karena plot nikung sana-sini, multi konflik pada tokoh utama yang nggak pernah ada di tokoh novel lokal. Kisah cinta yang rumit, nggak simpel kek di roman lokal, rasanya pengen mati aja baca buku ini, terus pindah cari buku lokal yang jauh lebih mudah dipahami. Belum lagi roman yang diharapkan mendayu-dayu di sini nihil sama sekali, hello! Kenapa nggak baca roman picisan, yang tokohnya keluar negeri aja? Ini juga yang bikin beberapa book blogger ada yang bilang, nggak ada twisted plot? I was like dafuq! Biasa baca roman picisan, yang keluar negeri terus tokoh dengan konflik dangkal, dengan ending bisa ditebak tapi romantis banget (romantis murahan selera mereka) Ini yang dimaksud plot twist buat para pembaca buku selera pasar lokal.  (dibilang, dangkal marah? Tapi bacanya yang begituan terus..bleh) 

BTW, buat yang baca versi Indonesia mungkin akan sedikit kecewa, karena ada perbedaan besar soal beberapa tokoh. Seperti Tokoh Farley yang jalan cerita dengan scarlet guard, justru dipotong? Juga ada beberapa jalan cerita yang dipersingkat untuk versi Indonesia, entah kenapa?



No comments:

Post a Comment