Budaya Amplop Lebaran Faedahnya Apa?

Lebaran tahun ini, saya dikejutkan dengan kemunculan sebuah tradisi baru, sebenarnya ini bukan tradisi lebaran yang baru melainkan sudah lama, namun baru muncul di keluarga lebaran tahun ini. Saya baruh ngeh ketika ada keluarga yang mengisi amplop kecil warna-warni dan bergambar tokoh kartun dengan uang receh, serta keesokan harinya yang bersangkutan ini membagikan amplop berisi uang tak seberapa itu pada anak-anak kecil dari family.
Spontan saya sedikit kaget ketika anak-anak kecil berujar, "makasih Om, amplopnya." Seraya salaman. Lalu mereka berlarian untuk saling membandingkan dapat berapa di amplopnya, bahkan ada yang mendekati saya dan berkata, "Om ang pau lebarannya mana?" dan i was like dafug? Elo pikir kita imlekan apa?  
Dari Mana Budaya Amplop Lebaran?
Saya pun langsung berpikir dari mana datangnya budaya amplop lebaran ini? Hasil penelusuran mbah Google gagal memberikan jawaban pasti, apakah imbas dari budaya Tionghoa ang pao atau dari budaya rakyat endon yang memang gemar korupsi, tahukan kalau arti kata amplop itu apa?  Apa lagi untuk para PNS. Hasil riset pun menunjukan bahwa budaya amplop lebaran ini, sama sekali nggak bertentangan dengan agama, karena nggak ada sangkut pautnya dengan akidah. Walaupun nggak disarankan juga dalam agama untuk memberikan amplop ketika Lebaran, yang penting itu bayar zakat!

Faedah Memberikan Amplop Itu Apa?
Kalau dari saya secara peribadi sih, nggak setuju dengan budaya amplop lebaran ini. Bukan apa-apa, tapi faedah bagi-bagi duit ke anak kecil itu apa? Jauh lebih baik, kita mengajarkan kalau mau duit, harus kerja dari pada disawer pakai amplop warna-warni. Belum lagi setelah diberi uang, dipakai apa oleh anak-anak tersebut? Diinvestasikan emas atau kapling tanahkah? Ya keleuzzzz, itu duit nggak seberapa dipakai jajan nggak jelas, kalau yang saya lihat sih dipakai beli petasan. 

Mikir nggak? Persepsi apa yang bakal nempel di otak si anak, kalau setiap Lebaran dia terima amplop. Tahu sendiri mental orang Indonesia seperti apa, eh ada budaya seperti ini pula, mau kemana anak-anak ini dari kecil disodorin amplop? Kalau alasannya cuma untuk bikin senang, itu lebih salah lagi. Jadi senang itu harus punya duit? Senang itu harus bagi-bagi duit? Yang memberi amplop lebih dableg lagi, ketika saya tanya malah diam, sambil senyam-senyum tanpa bisa memberikan alasan kongkrit perihal pembagian amplop. Dari pada bagi-bagi amplop kek koruptor, lebih baik itu duit dikumpulkan buat disumbangin ke panti asuhan, jauh lebih barokah.

Makanya jadi orang itu jangan cuma asal ikut-ikutan saja, saya sudah berkali-kali berurusan dengan budaya yang nggak jelas manfaatnya, tapi orang-orang main ikut saja, nggak pernah mikir ini apaan sih? Ini gunanya buat apa sih? Masih banyak hal yang bisa kita lakukan dan jauh lebih bermanfaat untuk mengisi Lebaran dari pada sok banyak gaya, bagi-bagi amplop. 

No comments:

Post a Comment