Resensi Steel Heart : The Reckoners Trilogy

Dunia dystopia memang nggak ada habisnya, setelah Divergent, Hunger Games dan Red Queen, kini hadir Steel Heart : The Reckoners Trilogy yang berbeda adalah tokohnya, pada The Reckoners Trilogy, tokoh utamanya bukan perempuan melainkan pria dan ini merupakan novel dystopia yang mewakili pembaca pria, setelah sebelumnya banyak novel dystopia yang ditujukan bagi kaum hawa.

Sinopsi

Cerita dimulai pada suatu masa ketika Calamity muncul dan memberikan manusia kekuatan super dan manusia yang mendapatkan kekuatan super ini disebut epic. Suatu hari ketika tokoh utama bernama David dan ayahnya datang ke bank untuk memperoleh pinjaman, seorang epic bernama Deathpoint muncul dan mulai membunuh orang-orang. Tidak lama berselang epic lain muncul dan bertarung dengan Deathpoint, epic ini bernama Steel Heart. 

Ayah David menembak Deathpoint untuk membantu Steel Heart, namun tembakannya mengenai wajah Steel Heart! Hari itu adalah pertama dan terakhir kalinya orang-orang melihat Steel Heart berdarah. Setelahnya, Steel Heart membantai semua orang di bank yang melihatnya berdarah, akan tetapi satu orang berhasil selamat, yakni David.

Setelah kejadian tersebut, Steel Heart menguasai dunia. Dengan kekuatan supernya dia menghancurkan semua yang menentangnya, membangun dinasti Steel Heart. Memperkerjakan epic-epic lain untuk menjaga dinastinya. Sekarang seluruh dunia berada di bawah kekuasaan Steel Heart dan manusia berada dalam masa kegelapan.

Sepuluh tahun kemudian, setelah David berusia 18 tahun. Ia berusaha mencari The Reckoners atau sebutan bagi kelompok yang hidup untuk membunuh para epic. Tidak mudah bagi David menemukan para The Reckoners, namun ia berhasil menemukan The Reckoner, ketika mereka hendak membunuh epic bernama Fortuity, yang memiliki kemampuan memprediksi. Singkat cerita David membantu The Reckoner membunuh Fortuity dan menyakinkan The Reckoner untuk mengizinkan dirinya bergabung, sekarang tinggal David sendiri yang membuktikan bahwa ia cukup pantas bergabung dalam The Reckoners membantai epic-epic di seluruh penjuru negeri, terutama steel heart.

 Resensi

Rasanya nggak berlebihan untuk kasih bintang empat di goodreads. Dari awal bab sudah disuguhi cerita dasyat dimana epic bernama Deathpoint membantai orang-orang dibank. Seterusnya kita akan dibawa menuju cerita penuh dengan jalinan plot yang sulit ditebak! Gimana bisa ditebak? Epic punya kekuatan maha dewa yang nggak masuk akal, tapi mereka punya kelemahan tersembunyi. Cara Brandon Sanderson membuat cerita bagaimana cara The Reckoners membunuh epic ini yang bikin geleng-geleng kepala.

Dari bab ke bab, kita bakal penasaran gimana cara membunuh epic, sekalipun kelemahan mereka sudah diketahui. Steel Heart ini memberikan ketegangan dan suspense tiada henti, susah banget buat nutup buku, nggak heran 500 halaman kaga kerasa sama sekali. Pacingnya cepat banget, setiap bab memunculkan sesuatu yang baru.

Memang Steel Heart : The Reckoners ini sama sekali nggak baru, karena mirip dengan serial Heroes atau boleh dibilang versi maha dewa dari Heroes, akan tetapi kecerdikan Brandon Sanderson membuat cerita, bikin geleng kepala, saya nggak bisa nebak apa yang akan terjadi di bab selanjutnya. Otak udah buntu buat mikir, gimana caranya manusia biasa bisa menang lawan dewa? The story dan plot are so clever. Belum lagi ending dimana David dan para reckoners melawan steel heart, wow amazing karena sama sekali nggak nyangka, apa yang selama ini dicari dari bab awal ada did epan mata mereka sendiri. Ini mungkin novel paling pintar yang saya baca di tahun 2016.  

Selesai baca Steel Heart : The Reckoners, saya jadi mikir, kok beda banget ya sama cerita-cerita lokal, dimana tokoh utama nggak pernah puter otak, buat menyelesaikan masalah dan konflik. Palingan berdoa dan simsalabim nasib berubah atau ada yang bantu, selain itu yang paling favorit adalah, keberuntungan dan olala .... nasibnya langsung berubah...wkwkwk...nyaris tanpa usaha keras. Karena kita semua suka yang nggak pake mikir!!!!!!

resensi steel heart the reckoner trilogy

Baca juga : Vandaria Saga :Masa Elir
Baca Juga : Resensi Halo By Alexandra Adornetto 
Baca Juga : The Lesson : Surat Jutawan Untuk Puteranya 


2 comments: