Join 1000+ subscribers

Facebook Me

Tiga Hal Yang Bikin Saya Nggak Betah Nonton Film Dilan

Film Dilan 1991 sudah mau keluar dan saya baru saja nonton Dilan 1990, saking sibuknya sama nggak ada yang bisa diajak nonton jadi males ke bioskop tahun lalu dan kemarin, saya baru saja dapat bluray film Dilan 1990 (jangan tanya dari mana) sebenarnya ekspetasi lumayan tinggi mampu terbayarkan dari versi film Dilan 1990 hanya saja, begitu saya nonton bluray nggak sanggup sampai habis. Lah, kok bisa? Bukan berarti film Dilan 1990 jelek loh namun, ada beberapa faktor yang membuat film Dilan ini nggak sanggup saya tonton penuh, saya nontonnya dicepetin sampai akhir.
1. Sama Dengan Versi Novel
Film Dilan 1990 ini patut diacungi jempol bahkan dua jempol, karena konsisten dengan versi novelnya. Hal ini dikarenakan Pidi Baiq memang turun langsung menangani film Dilan 1990 bahkan, Pidi Baiq sampai menolak banyak production house dengan alasan dirinya nggak diberi creative control. Imbasnya Dilan 1990 nggak punya banyak improvisasi cerita dari buku ke layar, layaknya banyak adaptasi novel dan ini membuat saya yakin untuk mempercepat film Dilan sampai akhir karena toh, nggak ada perbedaan dengan bukunya.
2. Bukan Penggemar Coboy Junior
Ok, sebelum kalian mencak-mencak saya. Jujur saja apakah Dilan yang ada dibenak saat membaca bukunya mirip dengan boyband coboy junior Iqbal? Memang ini masalah selera namun, buat saya yang sudah lihat aslinya dari dekat (sering lihat karena dulu saya kerja di TV) susah menerima bocah satu ini belaga sok laki banget, padahal yuk ah. Kalau kalian jeli, beberapa akun gosip jahanam nan kejam di IG yang sekarang sudah pada tumbang (sering direport) pernah mengupload foto-foto candid yang bersangkutan saat masih di luar negeri (US). Dari situ saja sudah jelas martabak banget ini bocah. Makanya waktu nonton Iqbal ngegombal, ingin rasanya saya ganti Milea dengan Sam Smith saja. Kenapa Bastian nggak ikut dicasting yah? Kalau dia beneran tuh, apa coba yang beneran? Ya sudah lah.
3. Production Value Dan Sinematografi  Yang Cheapy 
Faktor ketiga yang bikin saya nggak sanggup nonton film Dilan 1990 tanpa dicepetin adalah, karena production design yang terlihat so cheap. Yang namanya bluray, pasti detail apapun kelihatan. Terus terang aura tahun 1990 sama sekali nggak kerasa, malah seperti tahun 2000an. Harusnya production design film Dillan 1990 grande banget tapi, ini malah sama seperti Dear Nathan. Apa karena budget production yang rendah? Kalau itu nggak mungkin banget! Nama besar Dillan seharusnya lebih dari cukup untuk mampu menggaet budget produksi dari sponsor manapun. Banyak pernah-pernik dari tahun 90an yang bisa dimasukan dalam production design Film Dilan 1990 namun, sepanjang film ini cuma telepon koin saja yang menggambarkan kalau Dilan dan Milea ada di tahun 1990.    

Terkait production design film Dilan 1990 yang terlihat cheap, sinematografi-nya pun terlihat biasa banget? Nggak dibuat seperti jadul atau gimana getuh? Untuk ukuran film yang sudah punya nama besar harusnya Dillan bisa tampil dengan sinematografi yang wah, bukan malah tampil dengan paket hemat seperti ini. 
Review Film Dilan 1990
Terlepas dari tiga faktor/hal di atas  film Dilan 1990 adalah salah satu film yang paling worth it buat ditonton, ketimbang 90% film-film lokal lainnya pada tahun yang sama. Saya berharap film Dilan 1991 bisa tampil dengan production design dan sinematografi yang wah, kalau si Iqbal nggak mungkin diganti, jadi pasrah saja dan terus menghayal bahwa Milea adalah Sam Smith.


No comments:

Post a Comment

Follow by Email Untuk Ebook Novel Gratis

VIVA ID

statistics

Blog Archive

Powered by Blogger.

.

.