Ini Alasan Industri Obat Tradisonal Tiongkok Adalah "Biang Kerok" Kepunahan Satwa Liar Indonesia!


Buat kalian semua ada sebuah gerakan atau movement yang dibuat dalam satu buah film documentary berjudul racing extinction, film ini benar-benar membuka mata kenapa abad 21 menjadi awal kehancuran beragam species di muka bumi. Salah satu penyebab punahnya beragam satwa liar di dunia berasal dari satu negara yakni China atau Tiongkok, industri perdagangan satwa liat di negeri satu milyar manusia ini adalah mimpi buruk terbesar para penyelamat satwa atau konservatoris. Mengapa industri obat tradisonal China/Tiongkok menjadi salah satu penyebab punahnya beragam jenis satwa di dunia?

 Industri Berdasarkan Budaya
Ribuan sirip ikan hiu sedang di jemur di China, bayangkan berapa hiu yang dibantai hanya demi sebuah sup? Dan banyak dari ikan hiu ini berasal dari perairan Indonesia


Bangsa China merupakan salah satu bangsa yang terkenal dengan pengobatan tradisionalnya, banyak dari pengobatan tradisional ini berbasis legenda atau tahayul. Seperti cakar harimau untuk menambah kejantanan, sirip ikan hiu untuk umur panjang dan beragam bagian tubuh satwa liar, yang dipercaya mampu secara ajaib menyembuhkan berbagai penyakit. Atas dasar ini permintaan terhadap bagian-bagian tubuh hewan tersebut meningkat tajam dan terjadilah sebuah mekanisme pasar, padahal secara ilmiah bagian hewan yang dipercaya mampu menyembuhkan atau memberi efek sama sekali tidak terbukti atau palsu.

Insang dari ikan pari raksasa yang berakhir di setiap penjuru toko obat tradisional China.
Namun karena bangsa China memang tipikal industrialis para pengusaha terus mengenjot mitos tentang khasiat bagian tubuh hewan-hewan ini. Semakin orang-orang percaya maka semakin tinggi pula permintaan di pasar dan orang-orang China yang bekerja di pasar gelap perdagangan satwa liat ini akan semakin untung.

Tidak berhenti dengan mengenjot kepercayaan orang-orang terhadap khasiat bagian tubuh satwa langka saja, orang-orang China pun berlomba-lomba untuik membuka pasar baru perdagangan satwa liar. 

Setelah Sirip Hiu Sekarang Insang Ikan Pari

Salah satu taktik bangsa China membuka perdagangan satwa liar baru adalah dengan mengeluarkan propaganda di masyarakat mengenai khasiat insang ikan pari. Para pengusaha berlomba-lomba mengangkat legenda mengenai khasiat insang ikan pari. Konon menurut legenda insang ikan pari mampu menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan kanker sekalipun. Padahal tidak pernah ada penelitian mengenai insang ikan pari yang mujarab untuk obat.

Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya? Ribuan ikan pari dari seluruh dunia harus bernasib sama dengan ikan hiu. Mereka dibantai hingga nyaris punah hanya demi diambil insangnya, untuk memenuhi permintaan tinggi dari bangsa China terhadap obat berbahan insang ikan pari. 

Indonesia Terkena Imbasnya!

Permintaan tinggi sirip ikan hiu dan insang ikan pari beserta bagian tubuh hewan langka lainnya berimbas pada Indonesia. Sebab dimana lagi bangsa China bisa mendapatkan ribuan bagian hewan liar dengan harga murah selain di Indonesia? Ribuan hiu dan harimau dari tanah Indonesia dibunuh demi dan dikirim ke Tiongkok demi memenuhi kebutuhan tinggi bangsa China, bahkan sebuah kasus baru terjadi di sebuah pulau bernama Lamakera.

Pulau Lamakera terdapat di perairan Alor dimana arus laut membawa banyak plankton dan merupakan salah satu perairan paling kaya kehidupan di dunia. Di perairan pulau Lamakera inilah terdapat populasi ikan pari raksasa atau giant mantaray terbesar dan di sini pula pembantaian ikan pari terbesar terjadi.


Para pengusaha China mendatangi pulau Lamakera dan memberikan penyuluhan pada penduduk lokal mengenai harga dari insang ikan pari. Tidak hanya memberikan penyuluhan saja, para pengusaha China ini pun bahkan membagikan peralatan seperti pisau, jaring dan perahu untuk menangkap ikan pari. Selanjutnya bisa ditebak dalam kurun waktu beberapa tahun saja ribuan ikan pari ditangkap, dicincang hanya untuk diambil insangnya lalu dikirim ke Tiongkok.

Menyelamatkan Ikan Pari Raksasa Pulau Lamakera

Melalui film racing extinction, para aktivis lingkungan hidup berusaha menghentikan pemburuan masal ikan pari raksasa ini namun sialnya penduduk Lamakera sudah bergantung secara ekonomi pada penjualan insang ikan pari. 

Selama dua tahun para aktivis lingkungan hidup ini berjuang, agar ikan pari raksasa bisa dimasukan ke dalam hewan dilindungi dan pada tahun 2014 lalu mereka berhasil. Sekarang ikan pari raksasa atau giant mantaray resmi masuk ke dalam daftar satwa liar yang dilindungi dan dilarang untuk diperjual-belikan. 

Berbekal peraturan baru ini, para aktivis racing extinction, kembali ke pulau Lamakera. Mereka memang tidak bisa menghentikan perburuan ikan para raksasa namun berhasil mengurangi jumlah ikan pari yang dibantai hanya demi insang. 

Kemana Pemerintah?

Bagaimana sekelompok bule aktivis lingkungan hidup mampu menditeksi bencana kepunahan masal ikan pari raksasa dari China sampai ke pulau terpencil Indonesia? Sementara pemerintah atau terlebih departemen kehutanan dan lingkungan hidup justru adem ayem? Dengan jutaan PNS yang saban hari datang jam tujuh pagi, mereka tidak pernah sadar pembantaian besar-besaran ikan pari raksasa di pulau Lamakera?  

Ingat pembantaian ikan pari raksasa di pulau Lamakera tidak bisa diatasi namun hanya dikurangi, sebab para aktivis tidak bisa memberikan antisipasi ekonomi lain, bagi penduduk yang sudah bergantung pada penjualan insang ikan pari ke negeri China.

Ingat industri obat tradisonal China membutuhkan beragam bagian tubuh satwa liar, jadi tidak hanya ikan pari raksasa pulau Lamakera saja yang menjadi korban. Masih banyak satwa liar Indonesia lainnya yang menghadapi pembantaian masal hanya untuk memenuhi kebutuhan industri obat tradisional Tiongkok.

Jangan lupa untuk menonton Racing Extinction yang bisa membuka wawasan betapa tinggal seujung jari satwa liar Indonesia akan punah dan jangan lupa untuk membagikan tulisan ini. 

No comments:

Post a Comment