Resensi Buku : Cruise Chronicle Pada Satu Cinta

Biasanya gua nggak pernah baca buku romance dari penulis lokal, soalnya temanya bikin males beud, kaga bisa buntinglah, susah cari jodoh.Apalagi itu teenlit kegemaran remaja  nan alay .


Yang pertama gue liat judulnya  yakni Cruise Cronicle walaupun di bawahnya dipasang embel-embel alay : pada suatu cinta, hampir saja nggak jadi beli gara-gara tagline 'pada suatu cinta'. Untungnya packeging buku seharga Rp53.000 ini tergolong highclass dengan empat sudut yang di cutting untuk tujuan tidak mudah lecek seperti buku persegi empat pada umumnya. Covernya pun simple tapi cathy nggak feminim jadi gue kaga malu bawanya ke kasir plus kasih bonus pembatas buku berbentuk jangkar.

Sebenarnya beruntung waktu di gramedia ada satu buku yang dibuka jadi bisa baca-baca dulu, ceritanya sendiri dari sudut pandang narator bukan first person. gaya bahasanya simple nggak berbunga-bunga mungkin  ini merupakan metro pop. Plus plotingannya yang bikin gue jatuh cinta karena tiap bab membawa kejutan tentang tokoh-tokoh yang ada, belum lagi rasa penasaran karena semua tokoh yang tadinya berjalan dengan cerita sendiri lamban laun menjadi satu cerita utuh, simple, efentif, ringan namun berkelas itu yang jadi kesan gua. Kalau dianalogikan Cruise Chronicle ini merupakan perpaduan film Crash dengan Chasing Liberty.

Sekalipun nama tokohnya terkesan klise mencoba inspiratif dan sastrawi macam Lintang Reya, Langit, Musashi dan Sirens tapi penokohan yang kuat jadi modal lainnya setiap tokoh punya masa lalu yang nggak kampungan macam di romance penulis Endon lainnya. Siren model lingerie yang ngga berani pulang kampung karena malu sama ibunya, Draco pengusaha sukses yang ternyata koruptor, Musashi forografer extrem yang terpaksa jadi fotografer makanan untuk hidup plus bokapnya anggota yakuza mampus ketika ia kecil lalu ada tokoh utama Reya yang keliatan seperti tipikal tokoh perempuan di novel romance murahan ternyata pernah dilamar pelukis jalanan waktu berumur 17 tahun. Semua tokoh dengan masa lalu yang kelam ini bersatu dalam sebuah kapal pesiar mewah Las Olas De Esterllas membentuk jalinan cerita yang sulit ditebak, yes happy ending tapi dengan siapa dan bagaimana itu loh bikin penasaran.

Setingan dengan kapal pesiar mewah justru nggak bikin suntuk karena  kapal ini bersandar di beberapa negara eropa sehingga jalan cerita nggak melulu diam di kapal macam Titanic, walaupun gua sangsi jika Ruwi Meita benar-benar pernah ke Perancis, Italia, Venice dan Genoa. Ini lah yang bikin gua sedikit ragu jangan-jangan Mbak Ruwi ini cuma riset di internet macam penulis romance murahan Endon. Terlepas dari itu semua tapi kemampuan Ruwi Meita meramu berbagai tokoh yang membawa ceritanya sendiri, menjadi satu jalinan plot utuh memang patut diacungin jempol. Setelah gua baca biografinya di belakang buku. Pantes aja ternyata Ruwi script writer film, no wonder sekalipun banyak tokoh dan plot namun begitu mudah dicerna seperti nonton film. Over all this book is tottaly recomen, don't borrowit but bought it.

4 comments:

  1. Pas baca reviewnya, jadi penasaran ingin baca, apalagi pembaca diajak jalan-jalan ke Eropa hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan tapi ini bukan teenlit loh, ini romance dewasa. Kalau cuma pengen baca jalan-jalan ke eropa aja mah di buku remaja biasa juga bejibun, apalgi pake setingan ropa emang lagi trend.

      Delete
  2. Buset dah bahasanya. Penulis murahan endon. Mantap banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, abis suka kesel kalau baca buku-buku romance pengarang lokal tuh. Sinetron abizzzz, not worth it.

      Delete