Tanah Abang Hanya Indah Sesaat Pak Jokowi


Pagi ini saya dikejutkan dengan pemandangan menakjubkan ketika turun dari statiun tanah abang, biasanya saya langsung disambut oleh kemacetan serta hiruk pikuk pasar tumpah yang tidak jelas dari mana sumbernya. Angkot serta bus saling ngetem di jalan tanah abang yang notabene hanya cukup dilalui satu mobil saja serta sampah pasar berserakan di mana-mana menimbulkan bau tak sedap.

Bahkan untuk berjalan kaki saja saya tidak bisa karena bahu jalan di sepanjang jembatan tanah abang dipakai berjualan oleh PKL yang gemar memutar lagu dangdut serta di sepanjang daerah museum tekstil biasanya identik dengan rimbunnya para pedagang barang rongsokan yang menggelar dagangannya di sepanjangn trotoar, singkat kata tanah abang adalah neraka sudah macet, kotor, bau, sumpek pula.

Namun pagi ini tanah abang berubah menjadi ciamik, para pedagang kopi yang menjajakan pelacur untuk sopir angkot di sepanjang trotoar sudah tidak ada, PKL di sekitar pasar tanah abang sudah di masukan ke dalam gedung, pedagang barang rongsokan di sekitar museum tekstil musnah entah kemana tergantikan oleh trotoar nyaman, bersih dan bertaman. Singkat kata saya salut dengan pak Jokowi-Ahok.

Tapi kekaguman saya terhadap kinerja Jokowi-Ahok ini hanya bersifat sementara karena setelah pulang kerja sekitaran jam lima sore, para PKL di sekitaran museum tekstil kembali menggelar dagangannya. Padahal lokasi itu sudah di benahi jadi trotoar dan taman, mereka memasang lapak di atas taman yang baru saja di bangun. Buset dah! kalau begini sih sama sekali nggak akan bertahan lama, tanah abang akan kembali macet, kotor dan sumpek. Seharusnya memang ada penertiban berkala agar para PKL tersebut tidak kembali berdagang terlebih merusak taman yang baru saja dibangun.....malang betul nasibmu Jokowi-Ahok orang Jakarta pinggiran ini ternyata jauh lebih sulit diatur dari pada orang Solo.


2 comments:

  1. Kesulitan hidup di Jakarta lebih keras daripada di Solo sehingga para PKL itu mau nggak mau tetep berjualan di jalan.
    Btw kotak subscribenya jangan ditaruh di tengah2 blog dong Mas, pembaca jadi terganggu neh baca artikelnya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ibu kota memang lebih kejam dari pada ibu tiri, kalau nggak keras bukan Jakarta namanya. BTW emang sengaja mas biar pada mau subscribe..ha..ha..pemaksaan.

      Delete