Tour De Museum part 1: museum sejarah jakarta


Dua hari yang lalu gua di culik untuk jadi cameo special program yang bertema museum, tempat pertama yang gua singgahi kasih badge welcome Jakarta ketika check in. Namanya museum sejarah Jakarta bertempat di kota tua fatahillah, sekalipun sudah bertahun-tahun tinggal di kota banjir ini. Terus terang baru pertama kali menjejakan kaki di museum sejarah Jakarta, anehnya kalau tempat bernama kota tua gua sering denger tapi museumnya malah ngga pernah tahu.


Museum jakarta punya taman luas di depannya, di mana kamu bisa poto-poto bahkan maen layangan di sini juga ada tempat penyewaan sepeda. Sayangnya pengelolaan taman depan ini buruk sekali bahkan terlihat kumuh, padahal banyak wisatawan asing yang datang dan poto-poto tak jarang mereka duduk santai dan sewa sepeda. Bukan hanya kumuh anak jalanan serta preman pun berseliweran di sini bahkan gua rada-rada kuatir pegang kamera.


Beralih ke dalam kita akan di suguhi banyak peninggalan dari jaman VOC sejatinya tempat ini adalah rumah dari seorang gubernur VOC, salah satunya patung hermes yang berada di taman tengah ini. Memang museum jakarta mencampur adukan koleksinya karena hermes adalah dewa yunani dan tidak ada sangkut pautnya dengan sejarah VOC, tapi patung ini merupakan pemberian seorang Belanda dan pembuatnya adalah maestro sekelas DaVinCI dari italia.


Tingkat dua museum ini terdapat banyak lukisan yang sayangnya tidak terdapat penjelasan detail tentang siapa mereka, hanya seorang yang mendapatkan penjelasan yakni poto paling atas Daendels itupun sudah sering di ceritakan di buku sejarah. Kondisi lukisan ini pun sangat memperhatinkan sudah kotor dan berdebu.


Selain lukisan lantai dua pun memuat banyak furniture peninggalan sang empu Belanda, penataan display barang-barang ini terkesan asal-asalan bahkan lantai kayunya banyak yang bolong dan keropos sangat menghawatirkan keselamatan. Banyak yang hanya diberi tali dan kertas bertulisan dilarang menduduki.


Selain banyaknya furniture peninggalan belanda, beberapa prasasti pun ditaruh di lantai bawah. Sementara pada taman bagian luar gua tertarik untuk melihat penjara bawah tanah di mana banyak manusia rantai di kurung, namun gua membatalkan niat untuk berfoto di dalam karena selain sesak penjara bawah tanah ini bau pesing dan kotoran tikus.


Terakhir yang bisa gua tulis adalah amat menyedihkan bagaimana pengelola mengurus museum sebesar ini, memang tiket masuk tidak seberapa tapi itu bukan alasan untuk membuat ikon Jakarta ini menjadi kusam, kotor dan kumuh. Kalau tidak salah museum masuk ke dalam anggaran pemda tapi kenapa terlihat seperti tidak terurus ya? kemana dinas pariwisata ibu kota? masa yang dekat tidak kelihatan?.

                                                             Baca Juga:
                                                         Museum Wayang

No comments:

Post a Comment