Follow by Email Untuk Ebook Novel Gratis

Menolak KB Tapi Tidak Berani Menanggung Resiko?


Punya kenalan yang anti pakai KB? Kebetulan saya ada seseorang dari inner circle yang anti pakai KB. Tidak perlu dijelaskan orang seperti apa karena sebenarnya kita semua pun tahu, tipikal seperti apa orang yang tidak mau pakai KB. Ada banyak alasan orang menolak KB namun, biasanya alasan agamalah yang paling utama. Sebelumnya saya tekankan kalau yang bersangkutan sudah diperingati untuk memakai KB karena banyak faktor, memang salah satunya adalah faktor finasial. Dan memang benar kalau memakai KB harus dengan alasan yang jelas, tidak bisa hanya sekadar takut miskin atau nggak punya duit. Oleh karena itu, tidak memakai KB sudah tahu segala resikonya dan orang tua saya menganggap beres saja.

Singkat cerita, manusia sumbu pendek dan bumi datar ini sudah mengerti hukum dan segala resiko untuk tidak ber-KB sekalipun, orang tua saja sudah memberi nasihat agar fokus dahulu pada satu anak saja sebab, berdasarkan pengalaman mereka, tidak mudah membesarkan banyak anak, terlebih di zaman sekarang.  Jadi setelah punya anak pertama, manusia sumbu pendek ini jebol lagi, hamil anak kedua kurang dari setahun. Terus masalahnya apa? Sebenarnya tidak ada masalah karena sudah mengerti resiko dan keputusan sendiri untuk tidak ber-KB namun, manusia sumbu pendek ini membuat kedua orang tua saya pengen salto sambil nyanyi Nissa Sabyan sebab, mereka  mengemis uang untuk melahirkan serta tetek bengek untuk anak lainnya.

Yang menolak KB siapa? Situ sendiri yang bilang kalau tawakal pasti bla..bla...bla sekarang mengemis biaya melahirkan? Padahal sudah tahu resiko seperti apa namun, ketika dihadapkan dengan resiko tersebut malah melarikan diri. Setelah geleng-geleng sampai kepala mau copot, akhirnya Bokap pun menggelontorkan sejumlah duit agar cucu keduanya ini bisa brojol dengan selamat walaupun Nyokap murka besar! Bukan apa-apa, insting Nyokap memang juara sebab, tidak lama setelah melahirkan. Nyokap pun harus membantu mengurus dua bocah karena manusia sumbu pendeknya masih pondok mertua indah. Dalam beberapa tahun ke depan, kedua bocah yang beda kurang dari setahun ini, bikin rumah serasa kapal pecah!Padahal Nyokap sudah tua dan berjalan pun sudah susah. Bukannya hidup tenang di rumah, masih harus membantu mengurus anak-anak, belum lagi segala keributan yang ditimbulkan oleh dua anak kecil.  Keadaan seperti ini ternyata sukses, untuk bisa memaksa manusia sumbu pendek memakai KB, mungkin yang bersangkutan malu karena sudah menumpang, mana buntutnya merepotkan pula.

Namanya juga manusia sumbu pendek, ternyata punya dua anak tidak cukup! Padahal dua saja bengalnya minta ampun sampai Nyokap tepok jidat. Manusia sumbu pendek ternyata copot KB dan simsalabim bunting kembali dan yang lebih menakjubkan, manusia sumbu pendek dan bumi datar ini kembali mengemis dana untuk melahirkan. Uring-uringanlah orang tua karena mereka sudah pensiun namun, akhirnya tetap saja mereka harus menggelontorkan duit. Selang beberapa bulan, lagu lama berputar kembali dengan satu bayi dan dua anak sekolah dasar, manusia sumbu pendek butuh bantuan untuk mengurus dan karena Nyokap sudah uzur, akhirnya Bokap kena getahnya. Bayangkan Bokap yang sudah tua, masih harus bantu jemput dua cucu kesana-kemari dan itu setiap hari.

Sebenarnya manusia sumbu pendek ini pernah ditolak sama orang tua karena sudah merepotkan masih juga minta-minta, disuruh usaha sendiri jangan mau gampangnya saja. Tebak dong, usaha manusia sumbu pendek ini apa? Yang bersangkutan pinjam uang ke rentenir dengan bunga 6,2% padahal sebagai orang beragama harusnya tidak boleh pinjam uang ke rentenir dan bunga yang dibayarkan pun jatuhnya haram. Lalu kata-kata manis seperti anak bawa rezeki, tawakal pasti beres bla..bla..bla mana?



Kalau saja otak manusia sumbu pendek dan bumi datar ini mau dipakai, punya anak itu bukan kuantitas tapi kualitas. Punya anak banyak tapi, hampir tidak terurus sampai orang tua harus bantu buat apa? Malah nambah dosa karena merepotkan orang lain, mending kalau yang direpotkan ihklas kalau tidak?

Makanya kalau nolak KB harus yakin dahulu, harus amat sangat mantap untuk menerima segala resiko. Kalau sudah siap dan tidak merepotkan serta bikin susah orang lain silahkan, bagaimana pun juga punya berapa anak itu urusan pribadi yang penting keurus.

Baca Juga : Akhir dari Sebuah Mahar Mewah

Yang serba panjang, baca ini pasti kebakaran jenggot. Mending berkaca saja, situ jebol terus ngerepotin orang lain tidak? Minta ini dan itu ke orang lain tidak? Yakin anaknya keurus, tahu hobinya apa? Dan mereka tidak merasa kurang kasih sayang? Kalau iya, alhamdulillah. 



No comments:

Post a Comment