Balada Orang Tua PNS

Saya punya pengalaman yang sedikit membingungkan, tadinya sih malas buat ditulis, tapi sepertinya ini momen yang tepat. Apalagi sedang gencar-gencarnya berita tentang tunjangan kemahalan bagi kaum pegawai negeri sipi aka PNS. Terus apa hubungannya tunjangan kemahalan dan pengalaman saya ini? Sedikit banyak berhubunganlah. Apa lagi buat yang orang tuanya pure PNS atau orang-orang yang nggak pernah kerja apapun, selain menjadi pegawai negeri sipil, pasti pernah mengalami satu atau dua hal yang kerap menyambangi hidup saya karena kedua orang tua adalah PNS.

1. Hari Senin harus berangkat pagi
Sebagai pekerja media, jam masuk saya adalah 9 atau 10 tergantung kemarin pulang jam berapa? Semakin malam, maka semakin siang pula jam masuk saya. Nah, karena bokap PNS yang hari Senin harus udah nongol di kantor sebelum jam 8, soalnya dahulu tuh suka ada apel getuh dah. Makanya kalau Senin saya bangun siang dan berangkat siang, bokap suka marah-marah nggak karuan. 

2. Pulangnya kok malam terus?
Ini salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan oleh kedua orang tua PNS saya. Kebayang dong, kalau ada meeting atau revisi dari client, bisa pulang pagi saya. Terus suka ditanyain "kok pulangnya malam terus?" Emang bikin gondok sih, tapi biasanya nggak saya jawab. Bukan apa-apa, percuma nerangin meeting sama revisi client ke PNS yang seumur hidupnya cuma ngerjain hal itu saja, mending kalau ada yang dikerjain di kantor..wwkw...you knowlah biasanyakan lebih banyak ngalor-ngidul, ngopi sambil nunggu gajian. (Soanya dulu sering ke kantor nyokap)

3. Nggak bisa cari kerja yang lebih dekat
Kebetulan kantor saya di Jakarta dan salah satu pertanya ajaib yang sering dilontarkan oleh kedua orang tua PNS saya adalah. "Kenapa nggak cari kerja yang deket aja?"  Well, kebetulan nyokap kerja di pemda kota dan bokap di salah satu departemen pemerintahan, sebenarnya bokap pernah dimutasikan, tapi kalau PNS itukan banyak ajaibnya. Jadi bokap minta ke atasan buat dipindahin ke tempat yang lebih dekat rumah, soalnya ada keluarga nggak mungkin dibawa jauh.  Mungkin bokap dan nyokap mikir, saya bisa datang ke atasan dan bilang kalau tempat kerja terlalu jauh dari rumah dan minta di pindahin ke yang lebih dekat...LMAO

4. Amplop aka sampingan
Waktu pertama kali kerja di media, bokap mikirnya saya adalah wartawan dan dengan somplak bilang begini. "Enaknya jadi wartawan itu kamu bisa ambil amplop..bla...bla..bla..." Terus terang saya cuma bisa diam aja, nggak dibales dan pura-pura nggak denger aja. Kita semua tahu kalau PNS itu terbiasa sampingan aka ngamplop aka pungli etc, pokoknya yang sejenis itulah.

Makanya saya sih nggak heran, lihat teman-teman yang PNS tapi life style bisa sama seperti yang kerja di swasta. Kalau lihat sosmed, bawaannya bingung, ini orang baru golongan sekian tapi bisa travelling ke sana-kemari, iphone keluar baru langsung beli, belum lagi liat mobilnya...wedewwww. Kerja minimal, hasil maksimal!

5. Santai dan pasif
Jadi saya bawa pulang dua ekor kelinci saya untuk dititipi, sebenarnya cuma ditaruh aja tapi tetap harus ada yang isi botol air dan kasih makan. Karena kedua orang tua PNS yang terbiasa santai, terbiasa melakukan hal sama bertahun-tahun, terbiasa tidak ada tekanan, terbiasa tidak ada perubahan, pokoknya santai kek di pantai cuma dateng pagi aja.

Hidup terbiasa santai, tiba-tiba harus isi botol air dan isi tempat makan kelinci dua hari sekali. Yang ada amburadullah, bokap marah-marah karena ribet banget harus kasih makan kelinci. I was like dafuq! itu kelinci di dalem kandang, dan cuma isi botol ama tempat makan. Belum lagi bokap udah pensiun, otomatis nggak ada kerjaan, dimintain tolong begitu aja merasa ribet? 

Contoh lain adalah, ketika ada barang-barang tak terpakai di rumah. Misalkan meja makan yang sudah tak terpakai, namun masih dalam kondisi bagus. Tentunya saya mikir dari pada dibuang, lebih baik dijual atau diberikan saja, tapi orang tua nggak amu ribet. So, meja makan tersebut ditaruh di luar, biar kehujanan dan hancur sendiri, hal ini berlaku untuk barang-barang lain. 

Saya sampai bingung, itu barang-barang beli pakai duit bukan daun, masa dibiarkan hancur begitu saja? Mungkin buat kedua orang tua saya yang seumur hidupnya selalu easy money, jadi terlihat nggak berharga. Beda kalau kita beli barang hasil kerja keras, tentunya sekecil apapun barang itu pasti dijaga.

6. Minim referensi hidup
Dulu waktu kuliah saya sempat bingung mau ambil jurusan apa? Tentunya kita bakalan konsultasi dengan orang tua. Tapi orang tua saya yang nggak punya gambaran prospek lapangan kerja, karena nggak ngerti dengan dunia kerja profesional. Akhirnya nggak bisa bilang apa-apa kecuali merekomendasikan sekolah kedinasan seperti STAN dan IPDN .

Lebih parah kalau kalian yang bercita-cita jadi enterpreneur, based on my experience sih jangan pernah beragumen dengan orang tua pure PNS soal enterpreneur. Mereka nggak liat saban pagi kalian keluar pake kemeja rapi, kelar hidup lo!

Dulu saya pernah memutuskan untuk istirahat sejenak dari dunia kerja dan jadi freelance dulu biar bisa liburan, yang ada habis sama bokap. Padahal penghasilan freelance jauh lebuh besar dari pada gapok  PNS. Ingat gaji pokok, bukan gaji pokok + sampingan.

7. PNS pensiunan ngapain aja?
Kalau ditanya seperti itu, bisa dilihat dari orang tua saya, yang sudah pensiun. Kerjanya ngapain? Lagi-lagi cuma santai sambil nonton tipi aja di rumah, nggak mau ngapa-ngapain, kalaupun keluar rumah cuma buat ke taspen untuk ambil gaji saja. Beda banget sama tetangga sebelah, yang pensiunan  dari swasta. Pagi-pagi udah di depan baca koran sambil ngopi, terus keluar buat ketemu relasi atau sekadar main golf ama rekanan. Padahal saya ke kantor nggak pake kendaraan, dan itu kendaraan sengaja buat bokap dan nyokap kemana-mana, eh malah dianggurin di garasi.


Ya seperti itulah pengalaman saya dengan orang tua pure PNS, atau yang nggak pernah kerja apapun kecuali jadi PNS. Sulit memang berhadapan dengan orang yang seumur hidupnya terbiasa santai. Tapi mau bilang apa? Namanya juga orang tua. Dan saya pun melihat kanan-kiri, terutama teman-teman yang dari lulus kuliah sudah jadi PNS. Gerak-geriknya sama persis seperti kedua orang tua saya, nggak terbiasa ribet dan terjebak dalam alur hidup santai tanpa tekanan. 

Dan tentunya pengalaman semua orang pasti berbeda-beda, ini hanya berdasarkan pengalaman dari saya saja.

2 comments:

  1. Poin 1 saya setuju. Poin 2, 3, 4 kayaknya perlu ngasi pemahaman. Poin 5 dan 6... Hm. Kayaknya gak semuanya sih. Mungkin pada umumnya aja. Orangtua saya juga keduanya pure PNS. Ada beberapa hal yang mirip. Kerjaan yang terlihat santai itu kayaknya karena kerja PNS itu punya ritme yang lebih teratur dan jarang ada kerjaan yang mendadak. Jarang, bukan berarti gak pernah. Kalau buat ngasi makan hewan peliharaan, alhamdulillah orangtua saya gak masalah. Pun juga baca koran dan ngumpul sama teman. hehe. Itu pandangan saya. Nuhun

    ReplyDelete
  2. Sedih ya kalau belum bisa membuktikan kemapanan kita ke orang tua. Entah orang tua PNS atau bukan, kalau kita belum "menghasilkan" lebih besar dari orang tua, bawaannya kena pressure melulu. Padahal ga bisa dibandingkan secara langsung juga.
    Semangat pokoknya!

    ReplyDelete