Kapok Pakai Commuter Line

Setelah dihitung-hitung antara kost dan PP Jakarta-Bogor ternyata lebih murah PP Jakarta-Bogor, akhirnya saya mencoba untuk mengikuti kehidupan kaum sejuta umat jabodetabek. Dengan pergi dan pulang menggunakan kereta api yang bahasa kerennya adalah Commuter Line, sebetulnya ngga terlalu suka untuk PP Jakarta-Bogor karena capek dan makan waktu lebih baik kost jauh lebih sehat dan praktis. 

Memang setelah ditilik ternyata kereta api ini sudah banyak berubah dari hilangnya pedagang kaki lima yang biasa berseliwiran di statiun sampai entah kemana trademark PT KAI Indonesia yakni kereta ekonomi lengkap dengan para Indon yang nangkring di depan, atas dan samping kereta. Belum lagi karcis kerta yang biasa ditagih oleh satpam kereta di dalam gerbong sudah ditiadakan, gantinya memakai e-ticket macam kereta di luar sana. 

Dengan begitu banyaknya perubahan yang saya apresiasi satu hal yang tidak ikut berubah yaitu kenyamanan penumpang. Sistem yang baru mengharus commuter untuk berhenti di setiap statiun dan itu membuat PP Jakarta-Bogor menjadi sekitaran 3-4 jam, artinya saya harus bangun jam 6 dari rumah dan pergi ke statiun Bogor agar bisa sampai jam 9 di Jakarta. Kalau anda masuk kantor jam 8 atau 7 maka derita anda bertambah harus bangun jauh lebih subuh.

Biasanya saya pulang kalau weekend jadi kereta kosong, mana tahu derita yang dialami bertahun-tahun oleh penduduk sekitaran ibu kota. So kemarin saya pun mengikuti rutinitas untuk naik commuter pagi hari dan pulang dengan commuter sore hari. Hasilnya kaki saya mau copot dan hampir tidak berasa, belum lagi badan dan lengan seperti hilang engselnya. Bayangkan tergencet puluhan orang dalam satu gerbong!selama 3 jam lebih!Sampai kantor bukannya fresh buat kerja malah meninggal di meja.


Tapi ada satu yang membuat saya terheran-heran, kenapa semua orang nampak terbiasa? Bayangkan orang-orang ini lima hari dalam seminggu dua kali sehari selama 3 jam tergencet di dalam gerbong. Apa tidak sakit? atau mereka sudah terbiasa? atau mungkin memang tidak punya pilihan? Harus kerja ke Jakarta apapun caranya atau dapur tidak ngebul, tapi kalau saya lihat di kereta orang-orang ini berpakaian bagus dan memiliki gadget mahal. Mungkin juga memang tipikial orang Endonesah yang cuma pasrah terima apa adanya.

Dengan waktu tempuh 3-4 jam plus bonus derita berkepanjangan tergencet dalam kereta maka saya tidak lagi menggunakan commuter line, lebih baik ke terminal dan naik bus AC walaupun waktu tempuh sama saja karena kena macet dalam tol. Tapi badan ini tidak remuk dan copot kaki karena tinggal duduk nikmatin perjalanan sambil baca berita di gadget. Jadi menurut saya sistem perjalan commuter line yang baru ini semacam,  gagal mengantisipasi besarnya jumlah pemakai. Rasio jumlah kereta dengan pemakai pun jauh sekali, apalagi intensitas kedatangan kereta. Semuanya berbanding terbalik nampak Indonesah tidak bisa bersaing dengan jumpah penduduk jabodetabek yang menggila tiada tara.

Sekalipun kemajuan nampak jelas pada sistem pelayan di statiun, pertanyaan terbesar saya adalah masih mau anda naik commuter line? Benar kata orang jika Endonesah memang penyabar dan tahan derita makanya cocok jadi TKI. Masih banyak cara lain yang jauh lebih baik, kalau kita memang mau usaha.
  

2 comments:

  1. Nice, remember culture. like it

    ReplyDelete
    Replies
    1. we can change the culture, even the world can be change

      Delete